Jumat, 10 April 2026

Berita Kota Kupang

Mengungkap Misteri Rumah Abu Marga Lay: Bukan Klenteng, Tapi Warisan Budaya yang Unik

Rumah abu ini telah lama disalahartikan sebagai klenteng. Pemiliknya, Roby Lay Antara, memastikan rumah tersebut adalah tempat penyembahan leluhur

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/VANIA BUNGA
RUMAH ABU - Rumah Abu Marga Lay, yang terletak di Jalan Ikan Paus, Kel. LLBK, Kec. Kota Lama, Kota Kupang 

POS-KUPANG.COM - Rumah Abu Marga Lay merupakan sebuah bangunan bersejarah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Rumah abu ini telah lama disalahartikan sebagai klenteng. Pemiliknya, Roby Lay Antara, memastikan rumah tersebut sebenarnya adalah tempat penyembahan nenek moyang dan leluhur keluarga Lay. Hal ini disampaikannya dalam wawancara bersama POS-KUPANG.COM, Kamis 24 Agustus.  

Kesalahpahaman ini ternyata berawal dari penulisan klenteng pada gapura rumah abu saat renovasi. Menurut Roby, sang ayah Lay Su Sang, yang datang ke Indonesia tahun 1930-an, mendapati rumah abu dalam kondisi  rusak di bagian genteng.

Baca juga: Plh Sekda Kota Kupang Sidak Pegawai, Yuven Tukung Tantang Beri Tindakan Tegas

Pada saat itu Lay Su Sang ingin memperbaiki rumah abu dan ia salah menerjemahkan istilah "klenteng" dalam bahasa Indonesia.

Rumah Abu Marga Lay yang didirikan tahun 1865 oleh pedagang Tionghoa bermarga Lay memiliki arti yang sangat penting bagi keluarga Lay.

Ini adalah tempat penyimpanan abu sisa kremasi, meskipun abu tersebut bukanlah abu mayat, melainkan abu dupa. Rumah ini terletak di Jalan Ikan Paus, Kelurahan Lahilai Bissi Kopan, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.

"Meskipun bangunan ini merupakan rumah abu, arsitektur bangunannya bukan gaya Tionghoa. Arsitektur bangunan ini  merepresentasikan gaya kolonial Belanda. Hingga hari ini, arsitektur aslinya tetap terjaga, dengan sedikit perubahan seperti penambahan cat dan furnitur di dalamnya," tuturnya.

Baca juga: Lakukan Sidak, Plh Sekda Kota Kupang Temukan Ada Pegawai Tidak Disiplin 

Roby juga menegaskan, rumah ini tidak lagi digunakan sebagai tempat beribadah, kecuali saat perayaan Imlek. Rumah abu ini di gunakan ketika Keluarga Lay berkumpul untuk berdoa kepada leluhur dan nenek moyang mereka.

Setiap tahun, banyak wartawan dan mahasiswa yang datang mengunjungi rumah ini, terutama pada perayaan Imlek.

"Tiap Imlek baru ada sembahyang, kalau turunan Lay datang untuk menghargai dan menghormati para leluhur. Imlek itu banyak sekali wartawan yang datang," ungkap Roby.

Selain Rumah Abu Marga Lay, ada juga Rumah Abu Marga Chung yang terletak di sebelah Toko Arjuna. Sayangnya, rumah ini telah dialihfungsikan dan Rumah Abu Marga Lay jadi satu-satunya rumah abu yang tersisa di NTT. Oleh karena itu, Rumah Abu Marga Lay telah diakui sebagai cagar budaya yang harus dilestarikan turun-temurun.

(Laporan Vania Mahasiswi Undana Kupang)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved