Idul Adha 2023
Ini Makna Idul Adha Lengkap dengan Kisah Nabi Ibrahim dan Sejarah Hari Raya Kurban
Dirayakan setiap tahun oleh Umat Islam, ternyata ini Makna Idul Adha Lengkap dengan Sejarah Hari Raya Kurban
Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Adiana Ahmad
Ketika itu, masyarakat jahiliyyah akan menyembelih hewan kurban untuk berhala-berhala mereka, meletakkan daging hewan kurban disekitarnya dan memercikkan darah hasil penyembelihan ke berhala-berhala tersebut (NU Online). Hingga kemudian turunlah ayat al quran surat al-Hajj ayat 37 yang berbunyi:
Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah sama sekali, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya atas kamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini kemudian didukung dengan beberapa hadits secara langsung mengindikasikan bahwa penerimaan Allah S.W.T atas hambanya didasarkan pada keikhlasan hamba tersebut dan bukan berdasarkan besar kecilnya fisik yang dikorbankan.
Perbedaan Idul Fitri dengan Idul Adha
1. Perbedaan ibadah di awal puasa
Sama seperti Idul Fitri, sebenarnya Idul Adha juga didahului dengan puasa. Bedanya adalah Idul Fitri didahului oleh puasa ramadhan yang hukumnya wajib dan berlangsung selama 1 bulan penuh, sedangkan Idul Adha didahului oleh puasa tarwiyah dan arafah yang hukumnya sunnah (lebih baik dikerjakan, tapi kalau tidak dilakukan tidak mendapat dosa) dan hanya berlangsung selama 2 hari saja.
2. Perbedaan ibadah di masa setelah hari raya
Perbedaan lain antara Idul Fitri dan Idul Adha adalah umat muslim dilarang puasa selama 3 hari setelah Idul Adha berlangsung. 3 hari tersebut disebut dengan hari tasyrik. Adapun pada tanggal 2 syawal (1 hari setelah Idul Fitri), umat muslim sudah diperbolehkan untuk melaksanakan puasa sunnah 6 hari syawal.
Dari paparan di atas, jelas bahwasanya Idul Adha adalah hari raya yang bermakna untuk memanjatkan puji dan syukur kehadirat tuhan yang maha esa. Rasa puji dan syukur tersebut diwujudkan dengan sholat Ied dan menyembelih hewan kurban. Namun demikian, bukan fisik hewan kurban tersebut yang menjadi faktor diterimanya ibadah seseorang dihadapan tuhan, melainkan bagaimana hewan tersebut dikurbankan dengan ikhlas. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kambingggg.jpg)