Berita NTT
Penyakit Gagal Ginjal Bukan Akhir dari Hidup
Penyakit gagal ginjal yang menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat bukanlah akhir dari hidup seseorang.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Penyakit gagal ginjal yang menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat bukanlah akhir dari hidup seseorang.
Demikian disampaikan Dokter Spesialis Bedah Konsultan Vaskular dan Endovascular RS Siloam Kupang, dr. Teguh Dwi Nugroho, SpB, SubSP, BVE (K) ketika menjadi narasumber dalam podcast Pos Kupang bersama Head of Marketing RS Siloam Kupang, Iin Harun dan Kepala Ruangan Hemodialisis Siloam Kupang, Ratna Melinda Bakker, Senin, 8 Mei 2023.
Dikatakan dr. Teguh, para pasien gagal ginjal harus melakukan prosedur cuci darah jika sudah pada stadium akhir.
Baca juga: Nonton Bareng Film 3D, RS Siloam Kupang Beri Edukasi Pentingnya Menjaga Kesehatan Otak
"Stadium akhir itu memang pasien yang sudah gagal ginjal, ginjalnya gagal berfungsi. Kalau kita ngomong secara kedokteran selalu ada dua. Ada struktur ada fungsi. Strukturnya mungkin baik tapi fungsinya nggak bisa. Nah karena tidak berfungsi dengan baik makanya ginjalnya digantikan fungsinya dengan cuci darah," kata dr. Teguh.
Hemodialisa sendiri, lanjut dia, adalah salah satu dari beberapa cara untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak baik pada pasien gagal ginjal.
"Itu ada juga banyak orang di NTT yang menderita gagal ginjal. Jadi penderita gagal ginjal itu bukan cuma di Kota besar, di Jawa, di luar negeri, nggak. Di NTT pun ternyata banyak," ujarnya.
Baca juga: BPOM dan Kemenkes Berkolaborasi Hadapi Kasus Gagal Ginjal Akut
Di NTT yang memiliki 22 kabupaten/ kota, kata dr. Teguh, ternyata cuma 7 daerah saja yang mempunyai fasilitas cuci darah.
"Itu saja sudah jadi masalah kan? Bahwa sebenarnya di kabupaten yang tidak mempunyai fasilitas cuci darah bukan berarti tidak ada pasien gagal ginjal di sana," katanya.
Di Kota Kupang saat ini pun tidak semua rumah sakit mempunyai fasilitas gagal ginjal. Hanya ada tiga yang memiliki fasilitas ini yakni RS Siloam, RSU W.Z Yohannes, RS Leona.
Baca juga: IDAI NTT Sebut Ada Lima Daerah di NTT Laporkan Kasus Gangguan Ginjal Akut Misterius
"Yang akan ada kedepan mungkin RS Bhayangkara, RSUP Ben Mboy juga bakal ada di sana tetapi tidak semua rumah sakit punya fasilitas itu. Jadi orang - orang yang gagal ginjal hanya terfokus pada beberapa rumah sakit. Misalnya di Pulau Timor sendiri, di Kefa, di Soe tidak ada. Di Atambua ada, jumlahnya juga tidak banyak di sana. Di Malaka belum ada. Jadi apakah di Malaka tidak ada orang yang gagal ginjal? Ada. Ke mana mereka berobat, paling dekat ya ke Atambua kalau tidak ke Kupang," jelas dr. Teguh.
Menurut dr. Teguh, tidak semua pasien gagal ginjal itu penyebabnya sama dan tidak semua pasien gagal ginjal itu cuci darah seumur hidup tetapi tergantung dari penyebabnya.
Baca juga: Kabar Gembira, RS Siloam Kupang Sediakan Cath Lab Kateterisasi Jantung
"Apabila penyebabnya bisa dihilangkan, misalkan ada batu di saluran kencing yang menyumbat ginjal, apabila batunya dihilangkan, sembuh dia. Nggak perlu cuci darah lagi tapi apabila ada penyebab yang tidak bisa disingkirkan maka dia perlu penanganan cuci darah dalam waktu yang cukup lama," ungkapnya.
Kepala Ruangan Hemodialisis Siloam Kupang, Ratna Melinda Bakker dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, prosedur hemodialysis (HD) sendiri sudah ada di RS Siloam sejak tahun 2015.
"Awalnya itu kita masih empat mesin kemudian kita naik sembilan mesin, naik empat belas mesin. Untuk saat ini yang berjalan ada delapan belas mesin," kata Linda.
Baca juga: Kadis Kesehatan TTS Dokter Irene Atte Tak Sadarkan Diri, Dirujuk ke RS Siloam Kupang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/podcast-rs-siloam.jpg)