Berita Timor Tengah Selatan
Hal Revolusioner untuk Pendidikan di TTS Perlu Ada Asesmen
Dunia pendidikan di Kabupaten TTS tentu harus siap berkembang bersama arus perkembangan zaman yang terus bergerak.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Adrianus Dini
POS-KUPANG.COM, SOE - Dunia pendidikan di Kabupaten TTS tentu harus siap berkembang bersama arus perkembangan zaman yang terus bergerak.
Karena itu segala hal yang baik untuk kemajuan dunia pendidikan patut diapresiasi. Namun diperlukan asesmen secara menyeluruh.
Hal tersebut disampaikan, Koordinator pengawas SMK dan SLB kabupaten TTS, Jimmy Pelle saat ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis, 30 Maret 2023.
Saat ditanyai tanggapannya jika kabupaten TTS menerapkan jam masuk sekolah 05.30 wita dia menyebut hal itu tentu dapat terjadi menimbang beberapa sekolah di Kota Kupang sudah menerapkan waktu tersebut. Dia menggarisbawahi hal terpenting untuk penerapan waktu masuk sekolah tersebut perlu didahului dengan asesmen yang komprehensif.
Baca juga: Dukung Tekan Angka Stunting, Kapolres TTS dan Ketua Bhayangkari Beri Sembako bagi Anak Stunting
"Sebagaimana secara sistem pendidikan, kota kupang sudah menerapkan jam masuk sekolah pukul 05.30 wita tentu kabupaten-kabupaten lain perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan restorasi pendidikan. Namun hal terpenting adalah dilakukan asesmen agar tidak terburu-buru," ungkapnya.
"Saya secara pribadi menilai untuk kemajuan pendidikan, segala upaya yang dilakukan untuk perubahan yang bermakna demi kualitas pendidikan itu patut kita dukung," imbuhnya.
"Apabila kebijakan itu diterapkan juga di kabupaten-kabupaten lain, secara khusus di TTS perlu dilakukan semacam asesmen yang komprehensif terlebih dahulu. Hal ini agar kita memiliki data yang signifikan yang dapat berkontribusi kuat untuk perubahan," ungkapnya.
Dirinya menyampaikan, asesmen yang perlu dilakukan itu, berhubungan dengan aspek sosial, budaya, ekonomi, geografis dan kesiapan sekolah. "Semua ini penting untuk pemberlakuan waktu belajar lebih awal," katanya.
Baca juga: Tinjau RSP Kualin, Kadis Kesehatan TTS Targetkan Dua Bulan Lagi Beroperasi
"Kebijakan yang telah diterapkan di kota Kupang tersebut tentu memiliki tanggapan yang berbeda-beda dari publik. Hal tersebut dikarenakan masing-masing orang memandang dari sudut pandang yang berbeda. Untuk sesuatu yang baru tentu akan ada tanggapan yang berbeda-beda," sebutnya.
Dia menyampaikan poin penting yang senantiasa diutamakan dalam pendidikan yaitu soal kualitas sehingga perlu dilakukan kajian yang tepat.
"Dalam pandangan saya, untuk TTS jika dilakukan penerapan jam belajar lebih awal tentu perlu disiapkan terlebih dahulu sehingga saat pelaksanaan tidak menjadi hal yang mengagetkan. Asesmen awal adalah hal yang sangat penting dan menentukan," katanya.
"Kita ambil contoh transportasi angkot di TTS baru beroperasi sekitar pukul 06.30 wita. Ada juga banyak siswa yang setelah ditelusuri kebanyakan tinggal dengan pengampu. Selain itu, jarak rumah ke sekolah juga bervariasi sehingga menjadi kendala tersendiri. Untuk itu semua diperlukan asesmen yang komprehensif," pungkasnya.
Dia mengatakan hal yang paling penting adalah bahwa persiapan yang memadai di setiap sekolah menjadi poin yang perlu diperhatikan.
Secara terpisah, Ketua MKKS (Musyawara Kerja Kepala Sekolah) yang juga kepala SMK Kristen Soe, Bernadus Naatonis menyampaikan penerapan jam masuk sekolah lebih awal belum layak diterapkan di TTS.
Baca juga: Cegah Konflik, TNI Bantu Masyarakat Desa Maunum TTS Selesaikan Sengkata Tanah
"Kalau dari saya sebagai kepala sekolah sekaligus sebagai ketua MKKS SMK Kabupaten TTS, saya menilai TTS belum bisa menerapkan kebijakan masuk sekolah dimajukan ke pukul 05.30 wita," ungkapnya.
Dirinya menyampaikan ada banyak faktor yang memengaruhi pendapatnya tersebut.
"Belum bisa diterapkan di TTS karena ada banyak faktor seperti, tempat tinggal siswa di mana tidak semua siswa tinggal di dalam kota. Ada yang tinggal di Tetaf, Nulle, Benlutu, Oefatu, Pusu dan lain-lain. Ada pula faktor geografis. Tak hanya itu, faktor ekonomi juga tidak mendukung. Siswa-siswa kita hampir 90 persen berasal dari keluarga yang kurang mampu. Kita lihat fasilitas di sekolah juga belum semuanya memadai. Tak hanya itu, transportasi masih sangat sulit untuk jam 05.30 wita. Hal lain seperti faktor sosial juga sangat-sangat berpengaruh karena kalau terjadi sesuatu secara khusus bagi siswi-siswi, sebagai contoh kalau pemerkosaan siapa yang bertanggung jawab? Itu baru satu contoh. Masih ada banyak kasus lain," urainya.
Baca juga: Percepat Pembangunan RTLH, Babinsa Kodim 1621 TTS Bantu Pengerjaan
Dirinya meminta agar pihak sekolah pertama-tama perlu menyediakan sarana prasarana yang mendukung penerapan kebijakan tersebut.
"Kalau anak-anak diminta masuk sekolah jam 05.30 wita, pemerintah harus siapkan asrama sehingga bisa kita laksanakan program ini. Tetapi kalau keadaan seperti sekarang tidak bisa," katanya.
"Saya kasih contoh SMK Kristen yang begitu ketat dalam disiplin masuk dan keluar saja masih ada yang terlambat. Oleh karna itu perlu ada kajian yang mendalam oleh pakar seperti pakar pendidikan, kesehatan, hukum, ekonomi, psikologi, keamanan, sosial budaya masyarakat adat dan rohaniawan. Singkatnya untuk TTS belum siap dan tidak bisa paksakan program ini," tuturnya.
Dia menyampaikan, peningkatan mutu pendidikan perlu diperhatikan sarana prasarana dan juga kompetensi guru.
Baca juga: TNI Beri Pelatihan Krida Navigasi Darat bagi Pelajar di TTS
"Menyangkut peningkatan mutu pendidikan, faktor utama yang harus diperhatikan yakni sarana prasarana dan kompetensi guru. Kalau faktor ini belum terpenuhi maka kita tidak bisa bicara tentang mutu," paparnya.
"Saya sampaikan ini dalam kapasitas saya sebagai kepala sekolah dan ketua MKKS SMK se-Kabupaten TTS bahwasannya program ini sangat saya dukung, tetapi perlu kajian yang mendalam dari berbagai pihak seperti yang saya utarakan sebelumnya," pungkasnya.
Terpisah, Kepala SMAN 1 Soe, Rovis Selan S.Pd., M.Pd., menyampaikan, sementara pihaknya masih fokus membenahi fasilitas pendukung di sekolah.
"Kami sekarang masih fokus untuk membenahi fasilitas pendukung sekolah dan juga fokus untuk menghadapi akreditasi sekolah sehingga belum bisa mengambil keputusan," tuturnya. (din)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/jimmi-pelle.jpg)