Berita Rote Ndao
Ini Pesan Wakil Bupati Rote Ndao di Hari Raya Nyepi Saka 1945
Menurut I Gede Santika, pada saat pengerupukan yang melibatkan banyak orang mulai dari pembuatan hingga pengarakan ogoh-ogoh.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti
POS-KUPANG.COM, BA'A - Wakil Bupati Rote Ndao Stefanus M Saek mengajak masyarakat setempat memaknai dan memanfaatkan Hari Raya Nyepi sebagai momentum meningkatkan rasa toleransi dan kebersamaan antar umat beragama di daerah tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Wabup Stef dalam sambutannya di Pura Agung Girinatha Tuabolok, Kecamatan Lobalain pada Selasa, 21 Maret 2023.
Ia juga menerangkan Hari Raya Nyepi mengisyaratkan tentang pengendalian diri. Hal Ini menandakan bahwa manusia diingatkan oleh penguasa semesta untuk selalu menjaga perilaku agar tetap terkendali sesuai ajaran agama masing-masing.
Baca juga: Jelang Hari Raya Nyepi 2023, Umat Hindu di Kupang Pasang Penjor Hiasi Ruas Jalan El Tari
"Perayaan Nyepi menjadi momen yang sangat baik untuk melakukan kontemplasi dan introspeksi diri mengenai tata laku yang telah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya," ungkap Wabup Stef.
Ia melanjutkan, melalui Catur Brata Penyepian, umat Hindu diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas diri dalam hubungan manusia dengan Tuhan, sesama anak bangsa, dan dengan lingkungan.
Wabup Stef mengajak umat Hindu di Rote guna berpartisipasi aktif untuk mendukung program Pemkab Rote Ndao dalam upaya penanganan stunting dan eliminasi kematian ibu dan bayi.
"Saya atas nama Pemerintah dan masyarakat mengucapkan selamat melaksanakan rangkaian kegiatan dalam rangka Hari Raya Nyepi Caka 1945 bagi semua umat Hindu di Kabupaten Rote Ndao," ucap Wabup Stef.
Baca juga: Jelang Hari Raya Nyepi, Umat Hindu di Kota Kupang Gelar Upacara Tawur Kesanga dan Pawai Ogoh-ogoh
Sebelumnya dalam sambutan Ketua PHDI Rote Ndao, I Gede Santika mengharapkan kiranya Pura Agung Girinatha Tuabolok bisa dipakai untuk acara kenegaraan apabila Kabupaten Rote Ndao mendapat kunjungan dari Pemerintah Pusat.
Selain itu dirinya juga menerangkan, Perayaan Nyepi Tahun Saka 1945
mengingatkan agar umat Hindu tetap ingat terhadap Tapa Brata Penyepian dan mampu untuk mengendalikan diri.
Menurut Gede Santika, pada saat pengerupukan yang melibatkan banyak orang mulai dari pembuatan hingga pengarakan ogoh-ogoh.
Baca juga: Parade Ogoh-Ogoh di NTT Jadi Bagian Penting Indonesia
"Ogoh-ogoh merupakan karya religi yang menyampaikan pesan moral terhadap kehidupan masyarakat," ujar dia.
"Ogoh-ogoh juga sebagai karya seni patung menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan," sambungnya.
Setelah dipamerkan melalui arak-arakan pawai, dikatakan Gede Santika, ogoh-ogoh kemudian dibakar sebagai tanda dimusnahkan segala hal yang buruk.
Adapun turut hadir dalam acara tersebut, Kajari Rote Ndao, Budi Narsanto, Wakapolres Rote Ndao, Kompol Anthonius Mengga, Wadanlanal Pulau Rote, Mayor Laut (P) Kisbudianto, Pasi Ops Kodim 1627/Rote Ndao, Letda Inf David Mooy, Ketua FKUB Rote Ndao, Benny Zacharias dan undangan lainnya. (rio)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/nyepi-di-rote.jpg)