30 Tahun Pos Kupang

Pos Kupang dan Prim Nakfatu

Hari ini Pos Kupang berulang tahun ke-30. Sebuah perjalanan panjang yang luar biasa. Tercatat banyak kisah di balik perjalanan itu.

Editor: Agustinus Sape
Dok Pribadi
Siprianus S. Senda 

Oleh: Sipri Senda/Prim Nakfatu

POS-KUPANG.COM - Hari ini Pos Kupang berulang tahun ke-30. Sebuah perjalanan panjang yang luar biasa. Tercatat banyak kisah di balik perjalanan itu. Tentu saja tidak hanya melibatkan mereka yang berada di dapur koran ini, tetapi juga para penulis yang ikut ambil bagian dalam kehadiran bermakna dari Pos Kupang.

Merayakan momen ulang tahun Pos Kupang ke-30 ini, saya terkenang akan 30 tahun lalu ketika saya masih sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang juga baru berdiri setahun sebelumnya.

Waktu itu semangat membaca dan menulis sedang panas-panasnya. Dan kehadiran Pos Kupang kala itu menjawab kerinduan dan kehausan kami mahasiswa FF untuk berebutan membaca koran langganan seminari.

Tiada hari tanpa membaca Pos Kupang. Apalagi kala itu Pos Kupang juga memiliki rubrik menarik seperti Bakatumu di Pak Laru. Sebuah parodi situasi yang kental khas Melayu Kupang dan mengena di hati pembaca.

Bertahun-tahun kemudian, rasanya pengaruh rubrik itu membekas sehingga saya pun menulis dialog Romo dan Frater Lipus bergaya Melayu Kupang.

Kolom opini dijejali dengan tulisan nama-nama beken seperti Alo Liliweri, Pius Rengka, Darus Antonius, Porat Antonius, Ignas Ragu dll.

Tulisan-tulisan mereka mengilhami kami para mahasiswa FF untuk bermimpi pula menjadi penulis. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Masing-masing sesuai bakat dan minat.

Minat sastra yang menggemuruh dalam sanubari mendapat ruang dan peluang dengan kehadiran Pos Kupang. Saya duga para punggawa Pos Kupang sejak awal telah menyadari bahwa peminat sastra di NTT sangat tinggi.

Baca juga: 30 Tahun Pos Kupang, Menjadi Solusi Digital Semua Pihak

Kehadiran koran yang menyediakan ruang sastra tentu akan menunjang kelahiran satrawan NTT di masa depan.

Maka para peminat sastra dari pelbagai kalangan memanfaatkan ruang ini. Termasuk kami mahasiswa FF.

Saya sendiri merasa beruntung dan berterima kasih kepada Pos Kupang karena dengan kehadiran dan dibukanya ruang sastra membuat minat sastra saya dapat tersalur dengan baik. Lahirlah puisi-puisi dan cerpen yang dikirim ke Pos Kupang dengan nama pena Prim Nakfatu atau Sipri Senda.

Bagi kami mahasiswa pada saat itu, kemunculan nama di koran adalah sesuatu yang membanggakan. Ada motivasi yang kuat untuk semakin rajin membaca dan menulis.

Semboyan kami bersama waktu itu tetap bergema di seluruh lorong seminari tinggi: tiada hari tanpa membaca Pos Kupang.

Seiring waktu, Pos Kupang tetap setia menyediakan ruang sastra sampai saatnya rehat. Dalam rentang waktu itu, telah lahir sekian banyak penyair yang dihadirkan dan dibesarkan Pos Kupang.

Baca juga: 30 Tahun Pos Kupang, Kapolda NTT Sebut Jadi Media Referensi Masyarakat

Pada titik ini, rasanya terima kasih seribu tetap tak sebanding dengan apa yang telah ditoreh Pos Kupang bagi kelahiran satrawan NTT ketika booming sastra NTT sekitar lima sampai sepuluh tahun lalu.

Di hari ulang tahun ke-30 ini, saya turut berbahagia dan berterima kasih kepada Pos Kupang. Terima kasih telah mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa di bumi Flobamora. Terima kasih telah membentuk seorang mahasiswa FF tahun 1991-1995, menjadi peminat sastra dengan nama pena Prim Nakfatu.

Dirgahayu Pos Kupang. Tuhan memberkati!

Ikuti berita Pos-kupang.com di GOOGLE NEWS

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved