Berita Belu

Bethesda Yakkum Gelar Workshop Pengendalian HIV/AIDS Terpadu Berbasis Masyarakat 

Kegiatan ini bertujuan mengajak semua stakeholder untuk berperan aktif dalam mengendalikan penyakit HIV dan AIDS di Kabupaten Belu

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG. COM/TENI JENAHAS
WORKSHOP - CD Bethesda Yakkum Yogyakarta area Belu selenggarakan workshop pengendalian HIV dan AIDS terpadu berbasis masyarakat, di Kantor Camat Atambua Barat, Kamis 24 November 2022. 

Laporan Reporter POS KUPANG. COM, Teni Jenahas

POS-KUPANG. COM, ATAMBUA - Lembaga Swadaya Masyarakat / LSM CD Bethesda Yakkum Yogyakarta area Belu menggelar workshop pengendalian HIV dan AIDS terpadu berbasis masyarakat. 

Kegiatan ini bertujuan mengajak semua stakeholder untuk berperan aktif dalam mengendalikan penyakit HIV dan AIDS di Kabupaten Belu, daerah perbatasan RI-RDTL. 

Koordinator CD Bethesda Yakkum Yogyakarta area Belu, Yosafat Ician mengatakan hal itu kepada POS-KUPANG.COM, Senin 28 November 2022.

Baca juga: Polres Belu Sudah Punya Tim Khusus Pengawasan 

Katanya, CD Bethesda Yakkum menyelenggarakan workshop Pengendalian HIV/AIDS Terpadu Berbasis Masyarakat, bertempat di Kantor Camat Atambua Barat.

Dengan workshop ini diharapkan ada keterlibatan masyarakat dari berbagai pihak untuk menanggulangi HIV dan AIDS di Kabupaten Belu. Sebab dalam pencegahan dan penanganan kasus HIV/AIDS perlu kolaborasi dari berbagai pihak.

Menurut Yosafat Ician, sesuai data Dinas Kesehatan Provinsi NTT, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Belu tinggi dan menempati posisi kedua di NTT. Kemudian, angka kematian nomor satu di wilayah NTT.

Permasalah lainnya, Kabupaten Belu berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste dan sesuai data, ternyata kasus tertinggi HIV/AIDS berada di Kota Dili. Selain itu Distrik Bobonaro, Kovalima berbatasan dengan Malaka dan Oecusse batas dengan TTU.

"Artinya di wilayah perbatasan RI-RDTL zona merah soal HIV/AIDS. Kondisi demikian butuh partisipasi atau keterlibatan masyarakat secara terpadu. Itulah pentingnya kegiatan workshop ini supaya masyarakat juga bisa berperan", ujar Yosafat. 

Baca juga: Kabupaten Belu Raih STBM Award dari Kementerian Kesehatan

Lanjut Yosafat, workshop tersebut juga sebagai bentuk pencegahan dini dengan melibatkan semua pihak. Untuk mendukung cara kerja kolaborasi yang efektif diperlukan workshop dengan melibatkan semua pihak. Selain itu, ada komitmen bersama antar stakeholder yang ini hadir untuk lakukan upaya kongkret guna pencegahan HIV/AIDS secara masih. 

"Kalau hanya diserahkan pada Dinas Kesehatan, Puskesmas, LSM maka ini tidak akan tuntas karena itu perlu kerjasama libatkan masyarakat," katanya.

Tambah Yosafat, workshop dihadiri pejabat dari BP4D Belu, perwakilan Dinkes, Dinas PMD, Camat Atambua Barat, Kepala Puskesmas Atambua Selatan, perwakila kelurahan Umanen, Tulamalae, Berdao, Beirafu, WPA, KDS serta tokoh agama.

Baca juga: Wakil Bupati Belu Minta Raja Ekin Jaga Nilai Keikhlasan

Camat Atambua Barat, Stef Don Paira menyampaikan, sesuai data dari Puskesmas Umanen menunjukkan 94 orang terkonfirmasi sebagai ODHA. Kasus tertinggi di Kelurahan Umanen.

Stef menyampaikan apresiasi kepada CD Bethesda Yakkum yang terus berupaya membangun kerja sama dengan pemerintah dalam menangani masalah HIV dan AIDS. 

"Selama ini kami dibantu CD Bethesda kurang lebih tiga tahun terus lakukan upaya pendekatan kepada mereka penyandang ODHA dan salah satu yang dilakukan yakni dibentuknya WPA di Kelurahan Umanen dan Tulamalae", ungkap camat. 

Ia berharap, WPA sebagai garda terdepan terus melakukan pendekatan memberikan semangat hidup kepada warga ODHA sehingga mereka tidak stres atau frustrasi. (jen)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved