Opini

Mengemas Tema Biblis untuk Event Keagamaan, Catatan Reflektif Pasca Pesparani Nasional II

Pesparani Nasional II yang melibatkan 34 kontingen dari semua provinsi di Indonesia ini berlangsung megah-meriah, penuh sukacita, nyaman dan lancar.

Editor: Agustinus Sape
POS-KUPANG.COM
JAWA BARAT - Kontingen asal Jawa Barat yang memenangkan kategori Lomba Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC) dalam Ajang Pesparani Nasional II di Kupang, Senin 31 Oktober 2022. Pesparani Nasional II yang berlangsung di Kota Kupang, Provinsi NTT pada tanggal 28-31 Oktober 2022 telah berlangsung sukses. 

Oleh Vinsens Hayon
Penyuluh Agama Katolik, Bertugas di Paroki Tarus

YANG tersisa dari Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Nasional II di Kotaku adalah rasa kagum, kenangan akan perjumpaan, jalinan persaudaraan yang terpateri kuat di batin dan memory, decak pujian yang masih terngiang, aneka pembelajaran dan satu dua sentilan ketidakberhasilan karena hal-hal teknis manusiawi atau lainnya.

Pesparani Nasional II yang melibatkan 34 kontingen dari semua provinsi di Indonesia ini berlangsung megah-meriah, penuh sukacita, nyaman dan lancar. Suasana pesta nampak jelas, sejak Opening Ceremony, pada saat berlangsung lomba sampai dengan Closing Ceremony. Waooo, keren dan luar biasa.

Semua itu boleh terjadi karena keyakinan, bahwa Tuhan telah campur tangan, dan intervensi itu mewujud pada kerja sama dan sam-sama bekerja dari semua pihak, yang dinafasi tema realisnya, “Dari Nusa Tenggara Timur untuk Nusantara.”

Dengan persiapan yang baik dan matang semua kontingen beradu kebolehan di pentas Pesparani. Ada 14 mata lomba baik online maupun offline dibabat dan dijelajahi. Segala energi dan kemampuan dikerahkan untuk memberikan yang terbaik. Dengan memberi yang terbaik maka efeknya jelas, yakni juara, dan ini nyata.

Meraih juara pada setiap mata lomba adalah kebanggaan kontingen dan daerah/provinsi. Suatu kebanggaan bermartabat karena hasil yang diraih tidak datang dari perseteruan, melainkan upaya personal dan komunal yang telah melebur satu dalam semangat juang,”Soli Deo Glorya” (hanya untuk kemuliaan Allah). Juara adalah bukti dari hasil yang tidak mengingkari proses.

Sementara itu bagi yang tidak dan/ atau belum juara, sepertinya keberhasilan masih tertunda. Usaha keras dan perbaikan sana-sini masih harus diupayakan, dan menanti pembuktian pada ajang Pesparani berikut.

Dari kacamata “kalah-menang,” Pesaparani ini adalah perlombaan dalam semangat persaudaraan. “Kita semua bersaudara,” dengan merujuk pada pernyataan iman: “Dalam Yesus kita bersaudara.” Ini essensi lomba dalam Pesparani.

Atas dasar itu, Pesparani Nasional II kali ini menepis jauh paham minority dan majority, kemudian menggarisbawahi paham “Kita adalah anak bangsa.” Anak-anak Bangsa Indonesia sebagaimana sumpah yang kumadangkan dengan membacakan lagi “Teks Sumpah Pemuda” oleh para pemuda, utusan dari 34 provisni di Indonesia pada Opening Ceremony Pesparani Nasional II di Kupang yang bertepatan dengan Peringatan Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober.

Sebelum sumpah itu dibacakan, telah berkumandang “Lagu Satu Nusa, Satu Bangsa.” Lantunan lagu yang membahana megah oleh seluruh hadirin di opening ceremony itu membakar jiwa anak-anak bangsa untuk tetap mengakui dan berjuang untuk NKRI. NKRI harga mati.

Dan sebagai wujud cinta akan tanah air Indonesia bergema juga Lagu Rayuan Pulau Kelapa” dari seluruh hadirin untuk menjawab “Tanya: Siapa kita?” “Kita Indonesia.” “Kita Pancasila.” “Kita Bhinneka Tunggal Ika.”

Kita yang datang dari berbagai pulau dan daratan, wilayah provinsi dan daerah, kita datang untuk Pesparani Nasional ini. Karena itu ajakan “Mari bangun bakti kita untuk Tuhan, sesama dan bangsa tercinta, Indonesia,” merupakan ajakan bernilai spiritual dan mengundang aksi nyata dari setiap anak bangsa yang disampaikan Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, pada khotbah Misa Pembukaan Pesparani Nasional II.

Pesparani yang telah usai itu mengukuhkan persahabatan dan mengikat kuat persaudaraan sejati. Meramu persatuan dan kerukunan antarkita yang datang dari aneka daerah, suku, budaya, agama dan bahasa. Bahwa dalam dan melalui Pesparani ini secara bersama kita telah memberi aneka hal positif dan berguna untuk Indonesia tercinta ini. “Dari Nusa Tenggara Timur untuk Indonesia.”

Dinafasi tema realistis ini Pesparani berjalan lancar dan sukses dari awal sampai akhir. Namun ketika mencari “Tematik Biblis” pada plang yang dipajang yang diyakini sebagai nadi, hati dan jantungnya Pesparani Nasional II ini “sepertinya” tidak nampak.

Lalu aku mengemas untuk para sahabat suatu tema biblis seperti ini, “Magnificat anima mea Dominum” (Jiwaku Memuliakan Tuhan) dengan rangkaian syair: “Laudate Dominum Omnes Gentes, Laudate Eium Omnes Populi. Spiritus Omnis Laudet Dominum.”

Tema biblis ini boleh jadi spiritualitas Pesta Paduan Suara Gerejani kita. Suatu spiritualitas yang hendaknya ada dan tertera pada event keagamaan dengan nama Pesparani Nasional.

Dari padanya gambaran “keseranian” terpahat dan terekspresi pada realita, bahwa “dengan keanekaan kita menjadi kaya dan dalam kebesamaan kita menjadi kuat.” Ke depannya, pasti tertera dan terbaca bahkan dihidupi.*

Ikuti berita Pos-kupang.com di GOOGLE NEWS

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved