Senin, 20 April 2026

Opini

Opini : Jangan Menodai Demokrasi

Elite politik mulai gencar melebarkan sayap menjelang pesta demokrasi tahun 2024. Mereka perlahan ketuk hati rakyat kecil untuk mendapat dukungan.

Editor: Alfons Nedabang
KOMPAS.com/SERAMBI/M ANSHAR
Ilustrasi pemilu. Opini : Jangan Menodai Demokrasi 

Indonesia adalah negara demokrasi. Tentang demokrasi Abraham Lincoln menulis demikian, “Demokrasi berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.” Maka jelaslah ini bahwa siapa pun dia yang terpilih menjadi pemimpin di daerah kabupaten, provinsi sampai pusat itu adalah pilihan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.

Kalau sadar baik-baik akan arti demokrasi ini maka tidaklah sembarangan menjual suara hanya demi satu bungkus nasi, kaos partai bergambar wajah jelek politisi tertentu dan juga mungkin amplop yang berisi uang bensin. Jangan menodai demokrasi dengan semurah itu.

Demokrasi itu mahal tidak bisa diperjualbelikan dengan harta duniawi. Demokrasi itu menyangkut eksistensi hidup manusia pada umumnya. Demokrasi tidak egois dan tidak menghalalkan segala cara untuk hasrat diri saja. Demokrasi hadir menghembuskan napas kebaiakan umum kepada semua warga masyarakat tanpa pilih kasih sedikit pun.

Sekarang musim-musim menjelang pesta demokrasi. Para elite politik mulai berkeliaran dari kota hingga jelajahi kampung-kampung terpencil. Mereka mulai mempromosikan program-prgram kerja yang brilliant dan mulai tawarkan janji yang menyejukkan masyarakat kecil.

Masyarakat diberi janji untuk dibuat jalan raya yang bagus, jembatan, listrik, penyediaan air bersih, dan lain sebagainya yang menggiurkan hati. Memang menjelang musim pesta demokrasi itu ramailah elite politik musiman datang dan main tipu-tipu. Saya berani mengatakan para elite politik musiman datang tipu-tipu karena realitasnya memang demikian.

Kalau anda tidak percaya tanyakan saja kepada orang-orang kecil di pedalaman. Mereka pasti dengan semangat akan mengisahkannya kepada anda secara baik. Hati mereka itu sangat bersahaja menanti dengan penuh harap namun sayangnya menanti dalam ketidakpastian. Dan ketidakpastian itulah yang membuat sakit hati dan luka. Lantas kalau sudah sakit hati dan luka saiapakah yang datang dan rawat luka mereka itu?

Baca juga: Opini : Ujian Nasional Partai Baru

Tidak ada yang datang balut dan rawat luka mereka. Sakit mereka diterlantarkan begitu saja. Bahkan membiarkan mati sendirian di tengah derasnya badai hidup yang datang silih berganti bersama hari dan malam.

Sebenarnya elite politik yang baik adalah dia yang memiliki hati murni untuk orang-orang kecil dan terpanggil atas nama mereka untuk menyuarakan suara mereka yang selama ini tak ada gaung karena dibungkam oleh para elite politik yang berduit.

Sekarang adalah saatnya untuk memblokir para elite politik yang melakonkan money politik menjelang pesta demokrasi. Jangan tergiur dan hanyut dengan rayuan maut mereka tetapi tetaplah konsisten berikanlah suaramu kepada elite politik yang tak memiliki uang tetapi berhati besar untuk membangun dan menatamu kepada hidup di hari esok yang lebih baik.

Senja semakin dekat dan malam hampir tiba. Malam tiba dan dan identik dengan gelap dari segala gelap. Gelap pun pasti akan berkurang dan malam pun pasti berlalu.

Terang akan datang halaukan gelap hingga hari menjadi terang. Maka jangan biarkan hatimu tetap malam oleh tawaran-tawaran calon pemimpin yang tidak berkualitas tetapi arahkanlah pandangan matamu jauh ke depan dan dengarlah bisikan suara hatimu siapakah yang terbaik untuk menjadi pemimpin yang kelak akan melayanimu tanpa memandang latar belakang suku, etnis, dan agama? Segalanya ada padamu.

Kembali kepada makna demokrasi. Mari berdemokrasi secara baik dan benar karena pemimpin adalah dia yang baik untuk melayani masyarakat dan dia yang benar dalam melakokan praktik demokrasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jangan tampil atas nama demokrasi hanya untuk menggapai hasrat diri dan sekelompok tertentu. Demokrasi adalah murni dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved