Berita Lembata
Thomas Ata Ladjar Siap Luncurkan Buku Monumental Tentang Lembata
Karya monumental Thomas Ata Ladjar berupa buku setebal 552 halaman itu baru akan diluncurkan pada 12 Oktober 2022
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Yeni Rahmawati
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA- Salah seorang putra Lembata atas nama Thomas Ata Ladjar berhasil merampungkan buku dengan judul 'Lembata Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya'.
Karya monumental Thomas Ata Ladjar berupa buku setebal 552 halaman itu baru akan diluncurkan pada 12 Oktober 2022, bertepatan dengan peringatan 23 tahun otonomi daerah Kabupaten Lembata.
Tak hanya menunjukkan kalau penulis asal Waiwejak, Kabupaten Lembata itu konsisten menggali bukti bukti sejarah, buku ini juga sekaligus merupakan persembahan terindah Thomas Ata Ladjar kepada Lewotana Lembata.
Menurut Dosen Universitas Sanata Dharma, Yosep Yapi Taum bahwa buku yang digarap Thomas Ata Ladjar selama 30 tahun itu adalah penanda masyarakat Lembata memasuki fase historis dari sebelumnya fase cerita lisan.
"Saya harap buku ini jadi ofisial histori Kabupaten Lembata karena selama ini yang kita jumpai hanya sejarah lisan yang berbeda beda," ungkap Yosep Yapi Taum saat ditemui di Hotel Palm Lewoleba, Senin, 10 Oktober 2022.
Menjadikan buku 'Lembata Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya' merupakan hal yang penting untuk menjawab pertanyaan eksistensial; apakah Lembata punya sejarah?
Bahkan Yosep Yapi Taum memberi catatan penting perihal buku bersampul biru tersebut yakni semua rakyat Lembata berjuang dengan sejarahnya masing-masing dengan luka sejarah yang panjang.
Luka sejarah itu, kata dia, terjadi saat rakyat Lembata dibagi ke dalam dua swapraja; yang satu tunduk pada Swapraja Larantuka dan satunya tunduk pada Swapraja Adonara. Pembagian itu juga akrab disebut dengan kelompok Paji dan Demong.
Dalam pergulatannya kemudian, seluruh masyarakat sepakat kalau pembagian wilayah itu sangat tidak berguna dan justru menguntungkan penjajah kolonial.
"Menerbitkan buku saja tidak cukup, kita pikirkan bagian-bagian penting dalam buku ini diajarkan dalam sekolah formal," ujar Yosep yang juga mendorong diadakannya monumen sejarah yang bisa jadi edukasi bagi generasi muda Lembata.
Dkatakan Yosep Yapi Taum dan tim panitia launching buku dari diaspora Jakarta sudah menyiapkan tim yang akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menjadikan bagian-bagian penting dalam buku tersebut bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah.
Pada kesempatan ini Anggota DPR RI Sulaeman Hamzah mengatakan, setelah pisah dari Flores Timur rasanya ada spirit yang hilang dari kehidupan masyarakat Lembata. Bagi dia, ada roh yang makin hari makin hilang.
"Ini buku yang tidak hadir tiba-tiba. Dia melawati pergumulan yang panjang dengan penelitian yang mendalam. Sehingga sesuatu yang hilang itu bisa dimunculkan lagi," ungkap Sulaeman.
"Semoga karya ini bisa diterima dan dibaca semua pihak. Ini hadiah kami bagi Lewotana," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/thomas-atalajar-kanan-penulis-buku-lembata-dalam-pergumulan-sejarah-dan-perjuangan-otonominya.jpg)