Liga 1 Tragedi Kanjuruhan

Liga 1 Tragedi Kanjuruhan, Diky Soemarno: Terburuk di Indonesia, Jangan Ada Pertandingan Malam Hari

Dicky Soemarno, Ketua Umum The Jakmania melontarkan pernyataan pedas terkait tragedi kemanusiaan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang Jawa Timur.

Editor: Frans Krowin
POS-KUPANG.COM
PASANG SERIBU LILIN - Suporter dari berbagai klub Indonesia menyalakan 1000 lilin dan menabur bunga di depan pintu masuk Asia Afrika, SUGBK, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu 2 Oktober 2022 malam, sebagai tanda dukacita mendalam atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur. 

POS-KUPANG.COM - Dicky Soemarno, Ketua Umum The Jakmania melontarkan pernyataan pedas terkait Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur.

Peristiwa kelam di Stadion Kanjuruhan Malang itu, menewaskan 130 orang dan ratusan orang lainnya menderita luka-luka. Para korban adalah suporter yang menonton pertandingan sepakbola antara Arema FC Vs Persebaya Surabaya.

Diky Soemarno mengatakan, berkaca dari Tragedi kemanudiaan tersebut, manajemen federasi dan operator liga sepakbola di Indonesia, harus berpihak pada para penonton.

Salah satu wujud dari keberpihakkan itu, adalah dengan tidak menjadwalkan pertandingan pada malam hari, pukul 20.30 WIB.

Baca juga: Anies Baswedan Angkat Bicara Atas Tragedi Kanjuruhan: Tak Ada Sepakbola Seharga Nyawa Manusia

"Kami berharap federasi dan operator berpihak pada penonton, dengan tidak menjadwalkan pertandingan pada malam hari," kata Diky Soemarno dalam keterangan tertulisnya, Minggu 2 Oktober 2022.

Dikatakannya, Tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan Malang, merupakan peristiwa terburuk dalam sejarah sepak bola Indonesia.

TRAGEDI KEMANUSIAAN - Detik-detik terjadinya tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang. Pertandingan sepakbola antara Arema FC vs Persebaya Surabaya  itu berakhir rusuh dan tercatat 130 orang tewas dan hampir 200 suporter lainnya menderita luka-luka.
TRAGEDI KEMANUSIAAN - Detik-detik terjadinya tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang. Pertandingan sepakbola antara Arema FC vs Persebaya Surabaya itu berakhir rusuh dan tercatat 130 orang tewas dan hampir 200 suporter lainnya menderita luka-luka. (POS-KUPANG.COM)

Oleh karena itu, semua pihak harus sama-sama bertanggung jawab atas masalah tersebut. Semua pihak itu, mulai dari panitia pelaksana, operator, federasi, hingga aparat kepolisian.

Dan, mewakili keluarga besar The Jakmania, Diky Soemarno kemukdian menyampaikan rasa duka cita yang mendalam bagi para korban yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya saudara-saudara kami, Aremania, dan juga pihak Kepolisian yang menjadi korban dalam peristiwa itu," kata Diky.

Senada, anggota The Jakmania Cilincing, Andi Aldi Pratama menilai, kericuhan di stadion yang memakan ratusan korban jiwa tak terlepas dari tanggung jawab panitia pelaksana.

Aldi menganggap, panitia pelaksana atau panpel belum siap menghadapi laga Derby Jawa Timur antara Singo Edan kontra Bajul Ijo semalam.

"Yang perlu dibenahi mungkin panitia penyelenggara bola semalam, karena yang harus bertanggung jawab penuh itu," kata Aldi.

"(Panpel) belum terlalu siap untuk menyelenggarakan pertandingan," sambungnya.

Panitia pelaksana juga dianggap tidak mengenal kondisi antar suporter kedua tim yang dikenal sebagai musuh bebuyutan di Jawa Timur.

Baca juga: Ganjar Pranowo Berduka Mendalam atas Korban Tragedi Suporter di Stadion Kanjuruhan Malang

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved