Kamis, 23 April 2026

Berita Belu

Lembaga Adat dan Raja di Belu Berharap Bisa Hadir Kongres Masyarakat Adat Nusantara

Ketua Lembaga Adat Kabupaten Belu dan Raja Dirun mengharapkan perwakilan Kabupaten Belu bisa hadir dalam Kongres Masyarakat

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM/TENI JENAHAS
TOKOH ADAT - Tokoh adat Belu Eda Fahik 

Laporan Reporter POS KUPANG. COM, Teni Jenahas

POS KUPANG. COM, ATAMBUA - Ketua Lembaga Adat Kabupaten Belu dan Raja Dirun mengharapkan 
perwakilan Kabupaten Belu bisa hadir dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara (MAN) ke VI yang akan digelar di Papua Oktober mendatang. 

Kegiatan ini sangat baik karena selain merumuskan arah kebijakan internal organisasi juga sebagai wadah merumuskan sikap dan pandangan politik masyarakat adat terhadap perkembangan hak-hak masyarakat adat dan masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Sejauh ini, Lembaga Adat Kabupaten Belu belum mendapatkan informasi atau undangan dari panitia kongres. Jika sudah ada undang, Lembaga Adat Kabupaten Belu akan menghadiri kongres tersebut. 

"Kita belum dapat undangan. Kalau ada undangan kita pergi", kata Ketua Lembaga Adat Kabupaten Belu, Agustinus Mali Mor saat dikonfirmasi Pos Kupang. Com, Sabtu 6 Agustus 2022.

Menurut Mali Mor, terakhir Lembaga Adat Belu diundang panitia untuk Kongres Masyarakat Adat Nusantara di Halmahera, Ternate. Namun, karena Covid-19, mereka tidak ikut kegiatan tersebut. 

"Waktu mau ke Ternate, kita diundang. Surat sudah keluar, tapi karena Covid tidak jadi ikut", ungkapnya. 

Menurut Mali Mor, biasanya jumlah peserta yang diutus dari kabupaten berkisar 3-5 orang bahkan lebih. Saat Kongres di Kendarai, Kabupaten Belu mengutus sembilan orang. Peserta yang ikut kegiatan merupakan perwakilan dari raja (Loro) dan Nai yang ada di Kabupaten Belu

Menurut Mali Mor, di Kabupaten Belu ada dua lembaga adat tertinggi atau kerajaan besar dan 29 lembaga adat dibawah dua kerajaan besar tersebut. Pemimpin kerajaan besar itu disebut Loro. 

"Kita di Belu ada dua lembaga adat tertinggi lalu ada 29 lembaga adat yang dibawa kerjaan kecil-kecil. Dua kerajaan besar biasa disebut Loro membawa 29 Nai", terangnya. 

Lanjut Mali Mor, undangan untuk Kongres MAN ini biasanya lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, bidang kebudayaan. Pemerintah memfasilitasi jika utusan hadir dalam kegiatan tersebut. 

Utusan yang hadir dalam kegiatan ini harus mengenakan busana adat lengkap sehingga nampak kebhinekaan adat istiadat di Indonesia yang begitu banyak. 

Terpisah Raja Dirun, Alfonsius Bere saat dihubungi Pos Kupang. Com mengatakan, sejauh ini belum ada undangan atau informasi untuk menghadiri kegiatan kongres MAN di Papua. 

"Harapan kita ada undangan. Kalau diundang pasti kita lakukan persiapan", kata Alfons. 

Menurut Alfons, kegiatan ini sangat bermakna bagi raja-raja se Nusantara yang masih melekat dengan budaya kerajaan. Kemudian, menjadi ajang promosi budaya se Nusantara karena peserta yang hadir otomatis menggunakan pakaian adat lengkap termasuk tanda tanda kebesaran lainnya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved