Minggu, 12 April 2026

Berita NTT

  Staff Kesehatan UNICEF NTT Sebut Imunisasi Adalah Hak Anak 

talkshow Memenuhi Hak Anak Menjadi Sehat dalam Bulan Imunisasi Anak Nasional. Staff Kesehatan UNICEF NTT, dr. Alfian Munthe mengatakan, imunisasi

Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM/MICHAELLA UZURASI
Talkshow Memenuhi Hak Anak Menjadi Sehat dalam Bulan Imunisasi Anak Nasional SELASA/26/07/2022 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Staff Kesehatan UNICEF NTT, dr. Alfian Munthe mengatakan, imunisasi adalah hak anak. 

Dia mengungkapkan hal tersebut dalam talkshow Memenuhi Hak Anak Menjadi Sehat dalam Bulan Imunisasi Anak Nasional, Selasa 26/07/2022. 

"Setiap anak harus mendapatkan vaksinasi dan kualitas vaksin yang diberikan harus sama yang di NTT dan yang di Jakarta dan yang di luar negeri. Jadi, kita ingin sampaikan kepada teman - teman bahwa vaksin yang disimpan oleh Dinas Kesehatan Provinsi mereka menyimpan dalam kulkas vaksin bisa dipertahankan suhunya 2 sampai 8 derajat Celcius," kata dr. Alfian. 

"Demikian juga ketika distribusi ke kabupaten maupun Kota dan juga di Puskesmas kalau kita sering melihat ada asumsi di masyarakat kalau kulkas yang baik itu adalah kulkas elektroluks tapi di Puskesmas itu pakai kulkas yang warna biru. Kulkas itu kulkas ajaib ya kalau anak - anak sukanya Aladin yang kita bilang itu kulkas Aladin. Kenapa? Pemerintah juga sudah memikirkan ketika listrik terputus, kulkas itu bisa mempertahankan suhu 2 sampai 8 derajat Celcius selama 3x34 jam. Lalu ketika teman - teman Puskesmas membawa dari Puskesmas ke posyandu dia juga menggunakan cool box yang bisa mempertahankan suhu 2 sampai 8 derajat Celcius," tambahnya. 

Menurut Alfian, selama ini juga dalam vaksinasi Covid juga vaksinasi BIAN, kasus ikutan pasca Imunisasi yang tiba- tiba ada efek sampingnya mudah - mudahan tidak terjadi. 

"Yang bisa kita sampaikan bahwa pemerintah provinsi sudah menjaga vaksin dengan baik dan juga kepada masyarakat bahwa semua petugas sudah mendapatkan vaksinasi sebanyak 3 kali jadi tidak perlu takut lagi. Yang jadi masalah adalah untuk menutup gap antara vaksinasi yang belum lengkap di kabupaten kota," ujarnya. 

Dikatakan dr. Alfian, jika anak - anak tidak mendapat vaksinasi campak biasanya akan lebih sering terkena diare. Kalau diare terus menerus berat badannya akan turun lalu akan berada dibawah garis merah hingga pada akhirnya akan mengalami stunting

Selain itu, lanjut dia, anak yang tidak mendapat Imunisasi campak biasanya kalau kena batuk, batuknya pneumonia atau pneumonia berat. 

"Bisa kita lihat pada Covid vaksinasi makanya di awal juga anak tidak jadi target duluan karena Studi katakan pada negara - negara yang melakukan vaksinasi MR, itu kasus Covid lebih rendah pada anaknya Dan kita lihat pada anak - anak yang tidak diberikan lagi vaksin MR itu kasus Covidnya lebih tinggi," ujarnya. 

Terkait vaksin rubella yang diberikan di sini, menurut dia, sebenarny kalau ada kasus rubella itu biasanya ada demam. 

"Nah, sebenarnya kalau pada anak dia batuk pilek biasa yang jadi masalah ketika dia pulang ke rumah lalu dia sendiri tertularnya dengan droplet lalu kena ibunya yang lagi hamil. Kalau ibu hamil biasanya pada trimester pertama itu kan menular lewat plasentanya lalu yang terjagi bayi lahir dengan cacat. Bayinya bisa buta bisa tuli lalu bisa keguguran, dan ada banyak yang terjadi kalaupun lahir cacat ataupun angka kematian bayinya tinggi jadi cakupan masih 38 persen jadi adalah tugasnya kita baik Puskesmas maupun teman - teman di posyandu kita dari Dinas Kesehatan maupun pemerintah provinsi tidak mampu melakukan ini tanpa peran serta masyarakat datang ke posyandu. Tentunya harus ada peran aktif baik dari para kader dan para orang tua," jelasnya.
 
Alfian menjelaskan, UNICEF bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi sehingga meskipun tidak mempunyai proyek di NTT tetapi memastikan semua pemberian yang diberikan kepada masyarakat mengikuti SOP yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

"Tentang vaksin, tentang penyimpanan lalu tentang barang - barang ada beberapa yang membantu tapi kita tidak kesampingkan juga kita bisa lihat pemerintah provinsi sudah membangun korum yang baru dengan APBDnya tentu ada beberapa yang lain tapi yang cukup kita appreciate juga ibu Ketua Pokja dari awal hingga akhir, sebelum pelaksanaan ini beliau sungguh komit bahkan hari ini juga ada pertemuan DPR tapi seperti tadi yang kita sampaikan harus ada peran serta masyarakat bukan peran UNICEF jadi peran masyarakat lah yang kita butuhkan untuk datang ke posyandu untuk vaksinasi,
Mari, ada vaksinasi MR, ada vaksinasi DPTHB ada Polio, Mari kita datang ini ada Pos Kupang di sini kalau hanya didengar tidak ada efek sampingnya," kata Alfian.  

"Kita bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan itu sebelum dilakukan ini kira juga ada sosialisasi memanggil semua petugas kabupaten kota lalu dilatih lalu bersama pemerintah provinsi juga melakukan monitoring bersama WHO juga melakukan monitoring jadi tidak hanya UNICEF sendiri tapi ini adalah pekerjaan bersama antara pemerintah Provinsi Dan Kementerian Kesehatan. Kita tidak melakukan audit tapi memastikan SOP standar yang sudah ditetapkan itu dilakukan dengan baik," tambahnya. 

Dengan peran serta dari masyarakat Alfian berharap angka stunting dan angka kematian anak di NTT akan menurun.(uzu)

Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS

bian anak ok s
Talkshow Memenuhi Hak Anak Menjadi Sehat dalam Bulan Imunisasi Anak Nasional SELASA/26/07/2022
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved