Berita Kota Kupang Hari Ini
Komunitas Timore Art Graffiti Gelar Kegiatan Jejak Rupa Rempah
nama jejak Rupa Rempah sendiri diambil karena kegiatan kali ini tema utamanya adalah jalur rempah.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Rosalina Woso
Tiga orang pendiri, Ali Kolin, Obby Tukan dan Servas Sede awalnya mendapat proyek menggambar bersama di salah satu rumah. Setelah dari sana, ketiganya ingin mengikuti lomba graffiti sehingga mereka berembug dan akhirnya terpilih nama tersebut.
Obby mengungkapkan, seiring berjalannya waktu ternyata berkenalan dengan komunitas - komunitas lain dan mereka sendiri tidak pernah menyebut dirinya komunitas tetapi komunitas lain yang menyebut mereka komunitas.
Akhirnya ada project - project masuk yang mengharuskan mereka untuk menjadi komunitas dan karena di dalam Timore Art Graffiti adalah orang - orang yang punya visi bersama di dunia visual art mereka menyadari bahwa ternyata memang harus ada orang di luar mereka yang memanajemen sehingga akhirnya membentuk tim manajemen.
Ajeng sendiri memilih bergabung dengan komunitas ini karena sebelumnya senang menggambar dan basicnya suka manajemen.
"Sebenarnya bukan saya sendiri ada kawan tiga orang lainya. Jadi kami masuk dalam manajemen dan mengelola kawan - kawan artis lainnya. Jadi selain project ataupun ada kegiatan dari Timore Art Graffiti, itu bagiannya kami untuk kelola mereka. Kalau ada project di luar Timore Art Graffiti nanti komunikasinya dari kami baru kami membawa ke teman - teman artis," ujar Ajeng.
Markas komunitas ini terletak di Kelurahan Nefonaek jalan Maumere tepatnya di belakang kantor Lurah Nefonaek.
Diceritakan Obby, kegiatan awal mereka adalah menggambar dengan kenikmatan, menggambar ke jalan hingga akhirnya mereka berpikir apa yang bisa menjadi kontribusi untuk orang di sekitar mereka.
"Akhirnya dari situ kita buat pameran tunggal terus kerjasama dengan beberapa LSM, dengan sekolah - sekolah, buat mural pesan - pesan untuk anak - anak sekolah terus buat mural kerjasama dengan Puskesmas se - Kota Kupang. Beberapa tahun lalu juga pernah dengan kementerian yang terbaru, yang sekarang juga dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi," kata Obby.
Dikatakan Obby, kalau dilihat dari luar kegiatannya seperti hanya menggambar dari internal mereka sendiri ingin bisa menghidupi anggota di dalam komunitas dan kira - kira membangun stigma kalau menggambar itu bukan milik komunitas tetapi milik semua orang.
"Kita semua itu bisa menggambar. Jangan sampai anak - anak, kan sekarang banyak anak kita tanya cita - cita apa, cita - citanya pengen jadi polisi, pengen jadi tentara, belum pernah ada yang bilang cita - cita jadi pelukis. Nah kami dari pergerakan kami juga pernah buka kelas jadi ya jangan lihat dari tampangnya. Kami juga bisa hidup dari menggambar. Cita- cita kami yang besar seperti itu," ungkap Obby.
Ajeng melanjutkan, membuka kelas sudah biasa dilakukan oleh artis dari Timore Art Graffiti dan biasa dilakukan dengan komunitas seni rupa lain atau komunitas lain itu dan para artis mengisi kelasnya, dari workshop menggambar dan kalaupun ada event seperti pameran, para artis yang membantu memfasilitasi didalam.
"Memang kedepan juga ada rencana untuk buat kelas, selain itu, Timore Art Graffiti sekarang juga bergerak di badan usaha," kata Ajeng.
Terkait apa usahanya, Ajeng tidak mengungkapkan dan hanya mengatakan biar jadi kejutan.
"Kami dulu lebih sering itu dimintai dari sekolah - sekolah jadi ada beberapa sekolah SD lebih banyak SD tapi di luar itu kami tidak menutup diri untuk kalau orang - orang sudah SMP, SMA sampai orang dewasa mau ikut silakan," kata Obby.
"Kalau sejauh ini kelas itu sudah kami buka dari SD pernah, SMP pernah, SMA pernah, sampai ke ranah universitas juga pernah di luar anak sekolah juga pernah," tambahnya.(*)
Berita Kota Kupang lainnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/host-any-toda-tengan-mewancarai-kedua-nara-sumber-komunitas-timore-art-graffiti.jpg)