Jumat, 10 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Sabtu 25 Juni 2022, Meneladani Hati Bunda Maria

Renungan Harian Katolik berikut ini disiapkan oleh RP. John Lewar SVD, dengan judul Meneladani Hati Bunda Maria.

Editor: Agustinus Sape
YOUTUBE SUARA PAGI RENUNGAN HARIAN KATOLIK
RP. John Lewar SVD 

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik berikut ini disiapkan oleh RP. John Lewar SVD, dengan judul Meneladani Hati Bunda Maria .

Penyampaian Renungan Harian Katolik ini bertepatan dengan peringatan Hati Tersuci Santa Perawan Maria, Sabtu 25 Juni 2022  hari ini.

Renungan RP. John Lewar ini merujuk pada bacaan Injil Lukas 2:41-51, ingin mengajak umat Katolik untuk senantiasa belajar dari keteladanan Bunda Maria .

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus.

Dua hari yang penuh rahmat terjadi secara berturut-turut. Gereja Katolik memberi hormat yang tinggi baik pada Hati Kudus Yesus maupun Hati Bunda Maria ibu Yesus.

Dua penghormatan itu dirayakan secara liturgis dalam dua hari berturut-turut di bulan Juni. Hari Jumat kemarin kita merayakan Pesta Hati
Kudus Yesus dan Hari Sabtu hari ini kita merayakan Pesta Hati Tersuci Bunda Maria.

Kita bersyukur karena diberi teladan dua hati yang berkualitas tinggi, yakni hati Yesus dan hati Maria. Hati Ilahi Yesus adalah ungkapan kasih Allah yang total kepada manusia; dan hati Maria adalah model paling istimewa orang beriman yang siap menanggapi kasih Tuhan itu.

Kita bersyukur karena diberi teladan dua hati yang berkualitas tinggi.

Sebagai orang Katolik, kita diajak untuk terus-menerus berjuang agar memiliki hati seperti mereka, yakni hati yang sabar, hati tenang, hati yang tulus dan kudus.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar memiliki hati seperti itu? Apa yang harus kita perbuat agar sebagai murid-murid Yesus, kita memiliki hati yang berkualitas?

Pada hari yang istimewa ini, mari kita memperhatikan keteladanan Bunda Maria.

Bunda Maria adalah pribadi yang tenang. Penginjil Lukas melukiskan bahwa setelah melahirkan Yesus, “Maria menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2: 19).

Sikap serupa juga diperlihatkannya ketika menemukan Yesus di Bait Allah di Yerusalam, setelah mencarinya selama tiga hari.

“Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya” (Luk 2: 51).

Maria menyimpan semua peristiwa yang ia alami dalam hatinya dan merenungkannya. Merenung di sini berarti memberi ruang pada keheningan untuk menyimpan dan merenungkan perkara-perkara kehidupan yang tidak semuanya dapat dimengerti.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved