Perang Rusia Ukraina
Tergiur Diskon Besar, China Pasok Minyak Besar-besaran dari Rusia, Geser Arab Saudi
Tergiur Diskon Besar, China Pasok Minyak Besar-besaran dari Rusia, Geser Arab Saudi
Tergiur Diskon Besar, China Pasok Minyak Besar-besaran dari Rusia, Geser Arab Saudi
POS-KUPANG.COM - Sanksi Negara-Negara Barat terhadap Rusia berdampak kepada ekonomi dunia.
Sejumlah negara berteriak karena terancam krisis minyak dan gas. Hal itu lantaran Rusia memotong pasokan minyak ke negara-negara Eropa.
Di sisi lain Rusia juga kewalahan karena sejumlah Negara Barat menghentikan pasokan minyak dan gas dari Rusia.
Di tengah konflik tersebut China diuntungkan.
Bagaimana tidak, China yang selama ini dikenal sebagai mitra dekat Rusia mendapat pasokan minyak besar-besaran dari Rusia.
Baca juga: Para Pemimpin Uni Eropa Menyetujui Larangan Minyak Rusia Setelah Berkompromi dengan Hongaria
Bahkan pasokan minyak terbesar China bukan lagi Arab Saudi tetapi Rusia.
China melakukan impor minyak besar-besaran dari Rusia karena tergiur diskon besar.
Bahkan Rusia dilaporkan memberikan diskon harga minyak untuk China hingga 30 Persen
Impor minyak mentah China dari Rusia pada bulan Mei melonjak 55 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Rusia kini menggusur Arab Saudi sebagai pemasok utama, The Guardian melaporkan.
Baca juga: Sanksi Baru untuk Rusia, Uni Eropa Usulkan Larang Impor Minyak Rusia Secara Bertahap
Impor minyak Rusia, termasuk pasokan yang dipompa melalui pipa Siberia Pasifik timur dan pengiriman melalui laut, berjumlah hampir 8,42 juta ton, menurut data pada hari Senin (20/6/2022) dari administrasi umum bea cukai China.
Pengiriman tersebut setara dengan hampir 2 juta barel per hari (bph) dan naik seperempat dari 1,59 juta barel per hari pada bulan April.
China adalah importir minyak mentah terbesar dunia.
Perusahaan-perusahaan China, termasuk raksasa penyulingan negara Sinopec dan Zhenhua Oil yang dikelola negara, telah meningkatkan pembelian minyak Rusia.
Mereka tertarik dengan diskon besar-besaran Rusia setelah perusahaan-perusahaan minyak barat dan perusahaan-perusahaan perdagangan mundur karena sanksi.
Diskon hingga 30 persen telah membantu Rusia untuk menjaga pundi-pundinya tetap terisi meskipun ada sanksi dari barat yang dirancang untuk melumpuhkan ekonomi negara itu.
Kremlin meraup sekitar $20 miliar dari ekspor minyak pada bulan Mei.
Melonjaknya harga minyak juga memainkan peran besar dalam ekonomi Rusia.
Harga minyak naik lebih dari 60 persen dalam 12 bulan terakhir menjadi sekitar $ 112 per barel untuk minyak mentah patokan internasional pada hari Senin.
Pembelian oleh China dinilai merupakan bagian dari sikap hati-hati Beijing atas konflik Ukraina.
Presiden Xi Jinping sebelumnya telah menawarkan dukungan tersirat yang kuat kepada sekutu otoriternya di Kremlin, Vladimir Putin.
Meski pada awalnya menghindari komentar apa pun tentang perang, Beijing telah mengkritik sanksi barat terhadap Rusia.
China menyebut sanksi itu sebagai "terorisme keuangan" dan "persenjataan ekonomi", dan juga menyerang penjualan senjata ke Kyiv oleh negara-negara luar seperti AS dan Inggris.
Saat ini, Arab Saudi menjadi pemasok terbesar kedua untuk China, dengan volume Mei naik 9 persen pada tahun ini menjadi 7,82 juta ton, atau 1,84 juta barel per hari.
Angka ini turun dari 2,17 juta barel per hari pada April.
Rusia mengambil kembali peringkat teratas setelah jeda 19 bulan.
Data bea cukai yang dirilis pada hari Senin juga menunjukkan China mengimpor 260.000 ton minyak mentah Iran bulan lalu, pengiriman ketiga minyak Iran sejak Desember lalu.
Terlepas dari sanksi AS terhadap Iran, China terus mengambil minyak dari Iran, yang biasanya diberikan sebagai pasokan dari negara lain.
Tingkat impor dari Iran kira-kira setara dengan 7 persen dari total impor minyak mentah China.
Impor minyak mentah China secara keseluruhan naik hampir 12 persen pada Mei dari basis rendah tahun sebelumnya menjadi 10,8 juta barel per hari, dibandingkan rata-rata tahun 2021 sebesar 10,3 juta barel per hari. (*)
Perang Rusia Ukraina
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/presiden-rusia-vladimir-putin-kiri-dan-presiden-china-xi-jinping-kanan.jpg)