Minggu, 26 April 2026

Berita Kupang Hari Ini

Ekowisata Mangrove Oesapa, Penawar Teriknya Cuaca Kota Kupang

Kawasan ekowisata mangrove di RT 20/RW 01, Oesapa Barat Kota Kupang bisa jadi obat manjur bagi masyarakat di Kota Kupang ditengah teriknya

Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
Pengunjung Ekowisata Mangrove di Oesapa Barat saat sedang berada dikawasan wisata dalam Kota Kupang. Rabu 18 Mei 2022 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kawasan ekowisata mangrove di RT 20/RW 01, Oesapa Barat Kota Kupang bisa jadi obat manjur bagi masyarakat di Kota Kupang ditengah teriknya sinar matahari. Udara dingin dan deburan ombak ditengah rimbunan hutan mangrove menjadikan tempat itu cocok bagi siapapun yang ingin bekerja ataupun berwisata.

Ditempat itu tidak ada sentuhan bangunan modern. Hanya ada papan kayu dibuat sebagai jalan bagi pengunjung. Jalur-jalur ditata rapi dengan papan didalam lebatanya hutan mangrove. Ada juga tempat istirahat dan sebuah menara yang letaknya berada ditengah. Susunan papan itu diperindah dengan polesan cat warna-warni membentang hingga ke tepi pantai.

Ketika berjalan ditempat itu, seolah sedang berjalan diatas air laut, juga batang-batang mangrove. Aroma pantai menyengat. Tidak ada kebisingan yang menghampiri, hanya ada tiupan angin yang sesekali kencang ditengah hijaunya dedaunan Mangrove.

Bin Poi sekali pengelola tempat itu, mengatakan, Luas hutan mangrove di ekowisata mangrovei Oesapa Barat sekitar 5 hektar persis di Pantai Oesapa Barat. Tempat itu dikelola dirinya dan beberapa warga lainnya. Dibangun pada tahun 2015 lalu, lokasi itu disebut sangat ramai, apalagi akhir pekan.

Baca juga: Dua Penjabat Bupati Flotim dan Lembata Dilantik Bulan Ini

"Kalau awal memang ramai, sampai sebelum Seroja," katanya, Rabu 18 Mei 2022.

Dia menegaskan, tempat ini sangat baik dari sisi alaminya. Sebab, pembangunan tetap mempertahankan aspek lingkungan tanpa mersuaknya. Baginya, lokasi alamiah semacam ini sangat bagus bagi para pekerja yang hendak memulihkan kepenatan dalam bekerja. Dari luas keseluruhan hutan mangrove diperkirakan mencapai 12 hektare. Untuk jembatan, totalnya ada 600 meter.

Awalnya, kawasan itu dibangun oleh salah satu lembaga swadaya masyarakat bekerja sama dengan Dinas Perikanan Kota Kupang. Selanjutnya, pengelolaan diserahkan kepada Dinas Perikanan dan Kelurahan setempat untuk diawasi dan pengelolaan. Menurut, Poi, tempat itu kini jarang dikunjungi setelah Seroja. Bahkan, kerusakan pada beberapa titik pun belum diperbaiki karena keterbatasan biaya.

Hasil pungutan dari pengunjung yang masuk ke kawasan itu, hanya mampu mengatasi beberapa kerusakan kecil seperti pergantian kayu yang sudah lapuk. Sekali masuk, pengunjung dikenakan tarif Rp 5.000 per orang. Dia bersyukur, masih ada pengunjung yang mendatangi tempat itu untuk berwisata atapun sekedar jalan-jalan, juga berswa foto.

Selain berharap agar adanya perhatian dari pemerintah berkaitan dengan perbaikan tempat itu, Poi menyarankan agar masyarakat Kota Kupang bisa menjadikan Ekowisata Mangrove di Oesapa sebagai pilihan rekreasi maupun terapi menghilangkan kelelahan.

Baca juga: Pencanangan BIAN, 2,1 Juta Anak di NTT Sasaran Imunisasi 

Dengan udara dingin, tempat itu memang cocok dijadikan lokasi rekreasi. Pengunjung merasakan sensasi itu ketika berada ditempat tersebut. Paulina Anita Noni, misalnya. Dia berkata, tempat ini sangat bermanfaat bagi semua orang. Termaksud warga disekitar, selain sebagai rekreasi.

Paulina mengaku, dirinya sering berkunjung ke tempat itu. Selain sekedar jalan-jalan, tempat itu ia pilih sebagai lokasi menenangkan diri dari banyaknya tugas di perkuliahan. Dia mengaku, berada ditempat itu bisa mendapat manfaat ganda. Selain, berada diarea pantai, pengunjung juga merasakan udara segar pepohonan.

Pembangunan di Kota Kupang yang pesat, menurutnya, juga mengurangi kawasan ruang terbuka hijau. Untuk itu, keberadaan ekowisata mangrove di Oesapa itu, menjadi alternatif maupun pilihan tepat tanpa perlu mengeluarkan biaya mahal.

Mahasiswa Biologi Fakultas Sains dan Teknik Undana Kupang itu, menyebut, pentaaan kawasan yang tetap berpedoman pada kelestarian lingkungan menjadi nilai tambah. Selain berwisata, kata dia, pengunjung bisa belajar ditempat itu. Paulina menuturkan, beberapa kali tugas perkuliahan dari kampus, dilakukan ditempat itu.

Pembelajaran dilakukan mengenai pertumbuhan dari mangrove itu sendiri. Fungsi utama mangrove, kata dia, sebagai benteng menekan laju abrasi dikawasan pantai. Dia menyarankan, agar hutan mangrove di Kota Kupang perlu diperluas, bila perlu di teluk Kupang ditanami mangrove.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved