Senin, 27 April 2026

Perang Rusia Ukraina

Eks Penasehat Presiden Rusia Bocorkan Kisi-kisi Cara Mengakhiri Perang di Ukraina

Meskipun berusaha mengurangi ketergantungannya pada sumber-sumber Rusia, Eropa nyatanya terus membeli minyak dan gas.

Editor: Alfons Nedabang
KOMPAS.COM/GETTY IMAGES VIA BBC
Dr Andrei Illarionov (kiri) terlihat sedang menyaksikan Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan pidato pada tahun 2004. 

POS-KUPANG.COM - Eks Kepala Penasihat Ekonomi Presiden Rusia Vladimir Putin, Dr Andrei Illarionov memberi kisi-kisi cara mengakhiri perang di Ukraina yang bisa dilakukan negara-negara Barat.

Menurut dia, sebuah tindakan "embargo nyata" pada energi Rusia dapat menghentikan perang di Ukraina.

Illarionov mengatakan Rusia tidak menganggap serius ancaman negara lain untuk mengurangi penggunaan energi mereka.

Meskipun berusaha mengurangi ketergantungannya pada sumber-sumber Rusia, Eropa nyatanya terus membeli minyak dan gas.

Tahun lalu, melonjaknya harga berarti pendapatan minyak dan gas menyumbang 36 persen dari pengeluaran pemerintah Rusia.

Sebagian besar pendapatan itu berasal dari Uni Eropa, yang mengimpor sekitar 40 persen gasnya dan 27 persen minyaknya dari Rusia.

Pekan ini, seorang diplomat top Uni Eropa Josep Borrell mengatakan bahwa Uni Eropa membayar 1 miliar euro kepada Rusia setiap hari untuk energi yang mereka berikan.

Baca juga: Moskwa Geram Turki Jual Drone Canggih Bayraktar TB2, Ukraina Sebut Ampuh Lawan Pasukan Rusia

“Jika negara-negara Barat akan mencoba menerapkan embargo nyata pada ekspor minyak dan gas dari Rusia, saya berani bertaruh bahwa mungkin dalam satu atau dua bulan, operasi militer Rusia di Ukraina, mungkin akan dihentikan," ujar Dr Illarionov.

"Itu bisa menjadi salah satu instrumen yang sangat efektif yang masih dimiliki negara-negara Barat," kata dia, dilansir dari BBC, Minggu 10 April 2022.

Sementara perdagangan minyak dan gas terus berlanjut selama konflik, sanksi yang meluas telah membuat banyak kegiatan ekonomi lainnya di Rusia terhenti.

Banyak perusahaan asing menarik diri dan ekspor terganggu. Sebuah survei baru-baru ini oleh bank sentral Rusia sendiri pun memperkirakan ekonomi akan menyusut 8 persen tahun ini, sementara Institut Keuangan Internasional mengatakan itu bisa turun sebanyak 15 persen.

Dr Illarionov menyarankan bahwa Presiden Putin siap untuk menanggung pukulan ekonomi yang menunjukkan di mana letak prioritasnya.

"Ambisi teritorialnya, ambisi kekaisarannya, jauh lebih penting daripada apa pun, termasuk mata pencaharian penduduk Rusia dan situasi keuangan di negara itu, bahkan keadaan keuangan pemerintahnya," pendapat dia.

Baca juga: Indonesia Abstain dalam Voting Penangguhan Rusia dari Dewan HAM PBB, Ini Alasannya, Pengamat: Tepat!

Lapangan pekerjaan di bawah ancaman

Pekan lalu, di tengah ketegangan dengan Eropa mengenai bagaimana gas akan dibayar, Presiden Putin mengatakan bahwa "indikator utama" kesehatan ekonomi Rusia termasuk penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan dan ketidaksetaraan, peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, serta ketersediaan barang dan jasa. Angka Bank Dunia menunjukkan bahwa hampir 20 juta orang Rusia hidup dalam kemiskinan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved