Setahun Seroja Terjang NTT

Jelang Setahun Badai Seroja Terjang NTT, Begini Prakiraan Cuaca Oleh BMKG

Warga masih ingat begitu dahsyat hujan disertai angin kencang menerjang rumah penduduk dan bangunan perkantoran hingga rusak parah.

Penulis: Alfons Nedabang | Editor: Alfons Nedabang
ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Sejumlah warga berusaha melewati jalan yang tertutup lumpur akibat banjir bandang di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Selasa 6 April 2021 lalu. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG – Pada Selasa 5 April 2022 nanti genap setahun Badai Siklon Tropis Seroja memporak porandakan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Warga masih ingat begitu dahsyat hujan disertai angin kencang menerjang rumah penduduk dan bangunan perkantoran hingga rusak parah. Banjir dan longsor terjadi dimana mana.

Tercatat ada 182 korban meninggal akibat bencana alam pada Minggu 5 April 2021 dini hari silam. Para korban meninggal tersebar di sembilan kabupaten dan Kota Kupang. Sedangkan korban hilang tercatat ada 47 jiwa.

Jumlah korban meninggal terbanyak ada di Kabupaten Flores Timur, yakni 72 orang diikuti Lembata sebanyak 46 jiwa, dan Alor sebanyak 29 jiwa.

Pelaksana Tugas Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Abdul Muhari mengatakan 55 dari 72 korban tewas di Flores Timur berada di Kecamatan Ile Boleng.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melaporkan Badai Siklon Tropis Seroja di NTT menyebabkan 13.484 rumah rusak berat, 11.122 rumah rusak sedang, serta 29.816 rumah rusak ringan.

Baca juga: Jelang Satu Tahun Seroja, 13 KK Korban Seroja di Desa Tunbaun Bangun Rumah Tanpa Bantuan Pemerintah

Dilansir dari Kompas.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, Siklon Tropis yang terjadi di NTT merupakan yang terkuat kedua setelah sebelumnya pernah terjadi pada 2008.

Hal itu diungkapkan oleh Koordinator Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin dalam Rapat Koordinasi Tim Intelijensi Penanggulangan Bencana (TIPB) yang disiarkan secara daring, Kamis 29 April 2021 lalu.

"Siklon tropis ini memang siklon yang terkuat kedua setelah 2008, siklon Kenanga. Tetapi, posisinya memang kalau kenanga itu ada di Samudra Hindia, selatan Jawa. Kalau Seroja itu ada di wilayah NTT," kata Miming.

Menurut dia, siklon tropis di daerah NTT biasanya terjadi sekitar bulan April. Sementara itu, di daerah selatan di Indonesia biasanya terjadi pada November hingga Mei.

"Jadi ke depannya mungkin ini yang perlu kita perhatikan bahwa kewaspadaan potensi siklon di wilayah selatan antara November-Mei, tetapi tingkat kejadian lebih tinggi dapat terjadi pada bulan April," ujarnya.

Baca juga: Tinjau Hunian Tetap Korban Seroja di Kupang, Menko PMK Terima Aduan Bantuan Tahap Dua Belum Cair

Miming melanjutkan, siklon tropis memiliki dampak yang kompleks. Jika dilihat secara langsung dampaknya yakni angin kencang, hujan lebat hingga ekstrem, gelombang tinggi, dan gelombang pasang.

Sementara dampak tidak langsungnya sama seperti dampak langsung, tetapi terjadi di daerah lain dengan intensitas relatif lebih kecil.

"Gelombang tinggi termasuk juga gelombang pasang, tapi dengan intensitas yang relatif lebih kecil," ucap dia.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved