Rabu, 15 April 2026

Laut China Selatan

Jet Tempur J-10 China, Indonesia dan Laut China Selatan

J-10 adalah jet militer buatan tangan China di Chengdu, China, dan secara resmi mengoperasikan J-10 di bawah Vigorous Dragons.

Editor: Agustinus Sape
Alert5, Wikipedia Commons
Jet tempur J-10 China. 

Meski Indonesia juga mengumpulkan niat untuk membeli F-35, AS menyarankan agar Indonesia terlebih dahulu membeli F-16 Viper atau F-15 Eagle II.

Seperti yang dijelaskan oleh provider Viper, Lockheed Martin berpendapat akan sangat berisiko bagi Indonesia jika tidak melanjutkan tradisi Fighting Falcon,

“Membangun ekosistem pendukung pesawat tempur akan sangat mahal, belum lagi infrastruktur di lapangan, pilot pelatihan, dan pemeliharaan.”

Beberapa F-16 versi upgrade dari Block 52ID Indonesia saat ini ditempatkan di Natuna. F-16 sering berpatroli di sana, dan ada lawan yang tangguh, Chengdu J-10 China.

Namun, pada 15 Maret 2022, Indonesia dan China mengadakan pembicaraan telepon untuk mempersiapkan kerja sama mereka di bidang ekonomi.

Mereka juga mempertimbangkan krisis Ukraina.

Namun, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menegaskan kewenangan Beijing untuk mengurangi aktivitasnya di Laut China Selatan.

Retno mengatakan Beijing harus menghormati wilayah Indonesia berdasarkan hukum laut, yaitu UNCLOS 1982.

Pernyataan ini menonjol bagi Indonesia. Sejak Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Dodo terpilih pada tahun 2014, China telah meningkatkan aktivitas militernya di Laut China Selatan, bagian dari perairan Indonesia.

Pada tahun 2019 dan 2020, beberapa momen yang diambil pihak Indonesia adalah orang-orang Tionghoa yang sedang memancing di perairan tersebut.

Sementara itu, Beijing menanggapi bahwa perairan China didasarkan pada sejarahnya yang disebut sembilan garis putus-putus.

Pemerintah China juga menegur pemerintah Indonesia karena menghentikan pengeboran minyak.

Ke depan, J-10 China akan menjadi alat pemerintah China untuk menekan Indonesia dalam aspek militer di Laut China Selatan.

Karena itu, Jakarta harus mengambil sikap. Meski Retno Marsudi berbicara dengan Beijing, China tidak pernah membiarkan Indonesia mengambil wilayah itu.

Pemerintah Indonesia harus mempertimbangkan strateginya untuk mengikuti saran AS menghadapi China di Laut China Selatan.

*M Habib Pashya, mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Islam Indonesia dan Peneliti di Center of Indonesia-China Studies

Sumber: eurasiareview.com/

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved