Perang Rusia Ukraina
Ukraina Kewalahan Jinakan Ranjau Kiriman Rusia yang Belum Meledak, Butuh Waktu Bertahun Tahun
Pasukan Ukraina telah menanam ranjau darat di jembatan, bandara, dan lokasi penting lainnya untuk mencegah Rusia menggunakannya.
POS-KUPANG.COM - Ukraina membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat menjinakkan ranjau dan peluru yang tidak meledak setelah invasi Rusia berakhir. Negara yang dipimpin Presiden Volodymyr Zelenskyy itu akan membutuhkan bantuan Barat untuk melakukan upaya besar-besaran.
"Sejumlah besar peluru dan ranjau telah ditembakkan ke Ukraina, dan sebagian besar belum meledak. Persenjaan ini tetap berada di bawah puing-puing dan menimbulkan ancaman nyata," kata Menteri Dalam Negeri Ukraina Denys Monastyrsky di Kyiv, Ibu Kota Ukraina, Jumat 18 Maret 2022.
"Butuh waktu bertahun-tahun, bukan berbulan-bulan, untuk meredakannya," ungkapnya kepada The Associated Press (AP) dalam sebuah wawancara.
Selain persenjataan Rusia yang tidak meledak, pasukan Ukraina telah menanam ranjau darat di jembatan, bandara, dan lokasi penting lainnya untuk mencegah Rusia menggunakannya.
Baca juga: Ukraina Dirikan Kamp-Kamp Tawanan Perang, Tampung 562 Tentara Rusia
"Kami tidak akan dapat menghapus ranjau dari semua wilayah itu, jadi saya meminta mitra dan rekan internasional kami dari Uni Eropa dan AS untuk mempersiapkan kelompok ahli untuk menjinakkan ranjau di area pertempuran dan fasilitas yang berada di bawah pengeboman," kata Monastyrsky.
Dia mencatat bahwa peralatan ranjau milik kementeriannya tertinggal di Mariupol, sebuah kota pelabuhan terkepung berpenduduk 430.000 orang yang telah menjadi sasaran penembakan tanpa henti selama sebagian besar perang. "Kami kehilangan 200 peralatan di sana," kata Monastyrsky.
Dia menyampaikan, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Kementerian Dalam Negeri Ukraina adalah memerangi kebakaran yang disebabkan oleh penembakan dan serangan udara Rusia yang tiada henti.
"Layanan Darurat Ukraina yang diawasi Kementerian Dalam Negeri, menghadapi kekurangan personel dan peralatan," katanya.
Baca juga: Diam-diam AS Sarankan Turki Kirim Rudal S-400 Buatan Rusia ke Ukraina
Seorang petugas pemadam kebakaran dilaporkan telah tewas pada Kamis 16 Maret 2022, selama serangan Rusia di Kota Kharkiv, saat bekerja untuk memadamkan api di pasar yang disebabkan oleh serangan sebelumnya. Monastyrsky menambahkan bahwa fasilitas layanan darurat di Kharkiv dan Mariupol hancur total dalam serangan Rusia.
Dia menekankan bahwa responden darurat Ukraina sangat membutuhkan kendaraan yang lebih khusus dan peralatan pelindung. "Beberapa hari mendatang akan memperburuk bencana kemanusiaan di daerah-daerah kritis," katanya.
"Saya harus mengatakan bahwa korban di kalangan warga sipil melebihi kerugian militer kami beberapa kali," ungkap dia.
Monastyrsky menyampaikan Kementerian Dalam Negeri Ukraina sibuk mencoba melawan kelompok penyabot Rusia (menyamar jadi warga Ukraina) yang membanjiri Ukraina untuk menargetkan jembatan, jaringan pipa gas, dan fasilitas infrastruktur lainnya.
Baca juga: Rusia Belum Juga Taklukan Ukraina Meski Punya Senjata Canggih, Ini 4 Kesalahan Militer Rusia
Dia menambahkan bahwa lusinan kelompok semacam itu telah beroperasi di Ukraina. "Kami menyadari bahwa sabotase adalah alat utama dalam perang," katanya.
Dia menambahkan bahwa pasukan Ukraina telah berhasil menemukan penyabot Rusia dengan melacak ponsel Rusia mereka. "Kami segera bereaksi dengan mencari lokasi di mana ponsel ini terdeteksi dan bertindak melawan kelompok-kelompok itu," ungkap dia.
Monastyrsky membeberkan, di daerah yang diduduki, pasukan Rusia mencoba menakut-nakuti polisi Ukraina yang tetap di sana dengan mengunjungi rumah mereka dan terkadang bahkan menanam bahan peledak di pintu mereka.