Cerpen

Jangan Panggil Saya Pater

Awalnya orang tua memberikan nama Karolus. Kemudian berganti nama Peter atas maunya Pater Peter sebagai “kado kenangan  bertugas  di paroki ini”.

Editor: Agustinus Sape
IMCNews.ID
Ilustrasi 

Setelah enam bulan pacaran, Peter minta bikin anak. Yetty mau saja, karena memang sudah lama pula ia meredam gejolak birahinya.

Sesuai hari yang dijanjikan, Yetty bertandang ke kamar kos Peter yang agak jauh dari pemukiman warga. Di sana apa pun yang mereka buat, tidak akan ada yang hu-he. Dijamin aman dan terkendali rapi.

Dalam hati Yetty, semoga dengan hubungan yang pertama terjadi ia memperoleh anak laki-laki, pewaris kekayaan masa depan.

Tetapi kenyataannya apa? Di kamar kos mereka hanya bicara biasa-biasa, Yetty diperlakukan sebagai tamu istimewa yang harus dijaga kehormatan dirinya. Duduk mepet-mepet berpelukan sama sekali tidak terjadi di sana, apa lagi yang lain-lain.

Akhirnya Yetty pulang dengan perasaan murka. Hatinya bertanya-tanya, Peter jantan apa tidak. Apakah cinta yang tumbuh dari dalam hati atau hanya gula munafik?

Masih banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam hati Yetty.

Untuk mendapatkan kenyamanan bercinta, dua hari kemudian Yetty minta Peter sama-sama check up. Kata Yetty, saya tidak mau jadi perempuan yang kecewa seumur hidup. Karena itu, wajib check up jangan sampai di antara kita ada yang AIDS.

Itu hanya permainan sembunyi kuku. Padahal intinya Yetty mau pastikan Peter jantan apa tidak. Kalau ternyata Peter banci, maka jauh lebih aman Yetty peluk bantal.

Pemeriksaan menunjukkan hasil negatif. Keduanya kembali ke kamar kos dengan perasaan penuh gembira. Yetty sudah memiliki perasaan cinta yang menggebu-gebu, semoga di sana harus berhasil bikin anak.

Dengan segala cara dengan segala gaya Yetty menggoda Peter harus mewujudkan kejantanannya hari itu. Namun tetap gagal, entah mau pakai alasan apa lagi. Yetty pulang dengan kecewa pula, setidaknya untuk kali yang kedua.

Hari Minggu berikutnya Peter mengajak Yetty sama-sama ke stasi tempat bertugas. Yetty menolak dengan raut wajah sedih dan kecewa. Tidak lazim begitu. Biasanya kalau diajak entah ke mana, Yetty reaktif dan spontan naik boncengan.

Ada apa sebenarnya? Terpaksa Peter berangkat sendirian dengan perasaan gundah-gulana. Untung saja masih konsentrasi sehingga tidak salah penyampaian dalam renungan.

Dari stasi Peter singgah di rumah Yetty untuk menyamakan persepsi. Di sana mereka membahas banyak hal yang berkaitan dengan rencana masa depan.

Salah satu pertanyaan yang tidak mampu lagi ditampung dalam hati Yetty, mengapa Peter masih ragu mewujudkan kejantanannya dalam kesempatan yang terbuka lebar.

Peter menanggapi dengan tertawa lepas. Masa hal yang sepele itu mengurung langkah Yetty untuk sama-sama ke stasi.

Setelah Peter menguraikan detail persoalan mengapa ia sabar sesabar-sabarnya dalam bercinta, akhirnya Yetty paham dan mengaku salah keburu napsu.

Hari-hari hidup selanjutnya ia mengalah, dan membiarkan perasaannya hanyut ke mana arah air mengalir. Kini ia berada dalam arena latihan mengendalikan kemauan, perasaan, dan harapan sebagai persiapan menjelang pernikahan secara resmi dengan Peter.

Bercintaan dengan Peter ibaratnya bercintaan gaya orang gila. Laki-laki lain kalau sudah cocok rasa, maka mereka akan huru-hara cari belis, dan mungkin juga huru-hara di tempat tidur. Tapi Peter hanya huru-hara pencitraan.

Kepada keluarga dan kepada siapa saja, termasuk seluruh umat stasi, ia minta pemulihan panggilan nama Pater menjadi Peter.

Kecuali itu, melalui media sosial Peter muat status: “Jangan panggil saya Pater”. Mengapa harus demikian, karena ia tahu bahwa status jabatannya bukan pastor, melainkan orang awam yang  berpeluang untuk berumah tangga.

Sekalipun publikasi pemulihan sudah dilakukan dengan banyak cara, masih ada saja yang panggil Peter dengan sebutan Pater.

Sebab itu dalam acara masuk minta secara adat dan dalam acara pernikahan nanti harus dipertegas ulang supaya tidak ada lagi yang panggil pater untuk Peter yang gaya-gayaan pater tempelan.

Peter sendiri sungguh berharap supaya kebiasaan lama diganti total dengan kebiasaan baru: menyebut nama orang harus sesuai surat permandian.

Apa sih yang paling ditakutkan kalau Peter terus dipanggil Pater? Jika sedang guyon dan canda ria lalu keceplos panggil Pater, sesungguhnya biasa saja, tidak masalah. Peter mungkin saja siap terima walaupun hati sakit.

Tetapi yang paling ditakutkan ialah jangan sampai kebiasaan panggil pater terbawa dalam forum-forum resmi.

Misalnya dalam pertemuan akbar yang dihadiri ribuan orang, Yetty diberi kesempatan melantunkan suara emasnya. Ketika ia turun dari panggung, orang yang belum tahu siapa dan apa status Yetty, pasti akan tanya pada teman Yetty: “Siapa itu yang nyanyi? Suaranya bagus sekali!” Lalu kemudian teman Yetty menjawab dengan kebiasaan lamanya: “Ou dia itu istri Pater!” Apa tidak gila?

Mana mungkin ada pastor yang punya istri?! Main mata saja sudah tidak boleh.*

Tambolaka, 6 Februari 2022

Aster Bili Bora, sastrawan tinggal di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Email: asteriusbilibora@gmail.com

Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990),  Bilang saja saya sudah mati ( 2022), dan yang akan menyusul terbit: antologi cerpen Laki yang terbuang, dan antologi Lahore. Karya novel yang sedang disiapkan: Laki yang kesekian-sekian. Antologi bersama pengarang lain: 1) Seruling perdamaian dari bumi flobamora tahun 2018 2) Tanah Langit NTT tahun 2021, 3) Gairah Literasi Negeriku tahun 2021 .

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved