Salam

Kembalikan Kejayaan Atletik NTT

Salah satunya cara yang dilakukan adalah kembali menggelar kejuaraan daerah dan sirkuit atletik.

Editor: Sipri Seko
POS-KUPANG.COM/HO
Suasan saat Ketua Umum Penprov PASI NTT melepas final nomor lari St chase putra putri di lintasan sirkuit atletik Stadion Oepoi Kupang, Senin 28 Juni 2021 pagi 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - KONI NTT sejak lama sudah menetapkan pembinaan cabang olahraga sesuai tingkatan prestasinya. Cabang super prioritas seperti kempo, atletik, tinju dan taekwondo. Kemudian cabang prioritas cricket, sepakbola, karate, pencaksilat, sepaktakraw dan lainnya. Sementara belasan cabang olahraga lainnya berada di peringkat ketiga.

Penetapan peringkat ini rujukannya adalah prestasi di PON. Dimana kita ketahui bahwa kempo, tinju, taekwondo dan atletik menjadi langganan penyumbang medali bagi Provinsi NTT. Belakangan muncul cabang baru yang menyumbang medali seperti, wushu dan muathay.

Dari empat cabang super prioritas ini, atletik dan taekwondo memiliki prestasi yang mulai menurun. Atletik yang dulunya menjadi penyumbang medali terbanyak bagi NTT, kini malah nyaris tak terdengar. Tiga PON terakhir, cabang atletik paling tinggi hanya mampu merebut satu medali perak.

Hal inilah yang kemudian menggerakan Ketua Pengprov PASI NTT, Esthon Foenay untuk mengembalikan masa kejayaan atletik. Salah satunya cara yang dilakukan adalah kembali menggelar kejuaraan daerah dan sirkuit atletik.

Kita ketahui bahwa NTT memiliki legenda atletik seperti Mace Siahainenia, Wempy Foenay, Eduardus Nabunome, Welmince Sonbai, Theresiana Riwu Rohi, Anton Fallo hingga generasi emas terakhir yang, Oliva Sadi dan Fery Subnafeu. Tak hanya di NTT, mereka juga adalah yang terbaik di Indonesia. Rekor ASEAN nomor marathon milik Eduardus Nabunome pun hingga kini belum terpecahkan. Demikian juga rekor nasional jalan cepat yang dipegang Theresiana Riwu Rohi sejak tahun 2000.

Setelah itu, dua bersaudara, Mery dan Afriana Paijo dan lainnya, meski berusaha keras, namun gagal mencapai puncak prestasi. Sinar prestasi atletik yang mulai memudar itu, tak boleh padam. Regenerasi yang lamban mesti segera dimulai. Kalau dulu disebut gudang atletik, gudang itu harus diisi kembali agar jangan kosong.

Kita ketahui bahwa atlet-atlet seperti Theresiana Riwu Rohi, Oliva Sadi, Nelci Tolaik, Adriana Waru dan lainnya diperoleh melalui event sirkuit atletik. Kejuaraan atletik yunior yang digelar bergilir di semua kabupaten ini diharapkan akan mendapatkan kembali atlet potensial.

Setelah itu, sentra pembinaan seperti PPLP, PPLD dan SKO mesti dimaksimalkan. Sebagai nomor terukur, seharusnya tidak sulit menciptakan seorang atlet atletik. Dalam posisi ini, SDM pelatih mesti ditingkatkan. Kalau dulu kita mengandalkan bakat alam, sekarang bukan saatnya lagi. Iptek sudah mesti diperhatikan.

Kalau ini dilakukan serius dan berkesinambungan, kembalinya kejayaan atletik NTT bukan lagi sebuah mimpi. NTT punya potensi itu. Mari kita kembali menggerakan potensi itu menjadi prestasi terbaik bagi NTT dan negara. *

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved