Berita Lembata Hari Ini
Melihat Orang Kampung Boto Lembata Menghalau Sakit Penyakit Melalui Ritual Sika Sed Angi Keferok
Melihat Orang Kampung Boto Lembata Menghalau Sakit Penyakit Melalui Ritual Sika Sed Angi Keferok
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA- Masyarakat kampung Boto, yang juga meliputi wilayah Keluang dan Belabaja, Kecamatan Nagawutung memiliki ritual adat untuk menghalau sakit penyakit yang menyerang manusia, hewan dan tanaman pertanian.
Ritual itu disebut Sika Sed Angi Keferok dan sudah dikenal sejak zaman nenek moyang dahulu kala. Ritual ini biasa dilakukan setiap tahun jika memang ada sakit-penyakit yang mengancam kehidupan manusia, hewan atau tanaman.
Ritual Sika Sed Angi Keferok melewati sejumlah tahapan di antaranya; pada tahap awal dilakukan Tobo Bao fed ed uanga gemaketa yang secara harafiah berarti duduk untuk musyawarah bersama. S
ejumlah tokoh adat dilibatkan seperti tokoh penjaga ritus dari suku Demong’or, kepala suku, penjaga rumah adat dan tokoh adat dalam komunitas adat Boto yang diundang. Pada saat Tobe Bao, semua tokoh tersebut membicarakan segala proses ritual yang harus dilakukan untuk mengusir wabah penyakit (bala).
Baca juga: Oce Pukan, Remaja Kampung Boto Lembata Belajar Tenun Sejak Kecil: Tak Ingin Warisan Leluhur Hilang
“Semua tua adat diundang datang dan duduk dan omong sama sama berbicara tentang penyakit yang merajalela kampung ini. Setelah sepakat lalu siap tuak dalam bambu, ayam, busur dan anak panah untuk dipakai sebagai alat panah keluar semua sakit penyakit. Ada juga yang diantar dan lepas di laut,” kata Fransiskus Pati Deona, salah satu tokoh budaya Boto saat ditemui di sela acara eksplorasi budaya Lembata di desa Labalimut, Rabu, 23 Februari 2022.
Pada saat Tobe Bao, semua perlengkapan dan bahan untuk menggelar ritual tolak bala di dalam vetak (semacam pondok, bagian yang tak terpisahkan dari rumah adat) itu perlu dibicarakan. Fransiskus merincikan, beberapa bahan yang perlu disiapkan itu seperti bambu hutan dan batu yang disiapkan oleh Suku Pukan. Lalu Suku Idan bertugas membelah bambu (bisel) tersebut. Suku Baon menyiapkan ijuk. Bahan lainnya adalah seekor ayam, tuak dan koli tembakau, daun lontar, busur serta anak panah yang terbuat dari bahan khusus.
Pelaku seremonial adalah suku Demong’or yang dipercaya untuk menjaga ritus warisan leluhur secara turun temurun. Tahap berikutnya adalah Falat/Gerita ata Efelej yang merupakan proses pembersihan lidah sebagai simbol mengusir penyakit (bala) pada manusia. Pembersihan lidah dilakukan dengan menggunakan daun lontar. Setelah itu, daun lontar itu dibawa dan dikumpulkan di dalam Koker Bale Basa (rumah adat Suku Demong’or).
Selanjutnya tahap Balenga. Ini merupakan bagian penting karena semua daun lontar yang sudah dikumpulkan di rumah adat Demong’or itu akan melewati ritual penjagaan selama satu malam sebelum dibawa ke tempat seremonial pembebasan. Tujuannya, supaya setelah ritus pembebasan, semua penyakit yang diusir bisa pergi jauh dari kampung dan tidak kembali lagi.
Setelah disemayamkan selama satu malam di rumah adat Demong’or, pada pagi harinya semua bahan seremonian termasuk tuak dan ayam dibawa ke tempat ritual (vetak). Di dalamnya sudah terdapat Maseng yang merupakan tempat khusus dari bambu dan disiapkan untuk meletakkan batu besar (Fat inan) yang diyakini sebagai panglima perang. Setelah penjaga ritus menerima semua simbol penyakit dan bahan seremonial tersebut, maka selanjutnya ritus inti mulai digelar.
Kemudian dilakukan Tenang Besol. Seremonial ini dimulai dengan amet (mendaraskan doa) kepada leluhur dan sekaligus mengundang mereka hadir dalam ritual tersebut. setelah doa didaraskan, penjaga ritus mulai menyembelih korban ayam yang darahnya diteteskan pada batu di sekitar maseng, tuak dituangkan di atas batu diikuti dengan suguhan koli tembakau. Kemudian ritus Nafung Dopeng atau acara pelepasan simbol penyakit. Lazimnya, simbol-simbol penyakit itu dibuang di laut. Simbol pengusiran juga bisa dilakukan dengan cara memanah.
Semua daun lontar dikumpulkan lagi oleh yang dipercaya untuk memanah. Anak panah akan diarahkan keluar kampung dan dipercaya akan dibawa ke tempat yang jauh oleh panglima perang Ruku dan Raka, dua orang bersaudara yang punya kemampuan gaib menghalau penyakit.
Setelah semua proses dilakukan, suku Demong’or akan melakukan ritual berjaga selama tiga malam sebagai simbol duka komunal yang dilakukan dengan kepasrahan total. Ini merupakan momen untuk mendekatkan diri kepada Ina ama Ui Teras/Leluhur dan Tuhan. Pada hari keempat, akan diadakan ritus popas/orata yang adalah ritual pembersihan diri. Semua anggota suku harus mencuci kepala dengan santan dari kelapa yang baru dipetik sebelum matahari terbit. (*)