Berita Lembata Hari Ini
Mempertegas Identitas Orang Lewuhala Dalam Dokumenter Uta Weru Karya Langit Jingga
Mempertegas Identitas Orang Lewuhala Kabupaten Lembata Dalam Dokumenter Uta Weru Karya Langit Jingga
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - "Saya pernah bertugas sebagai guru di Ile Ape, tapi belum pernah melihat upacara pesta kacang ( Uta Weru). Dengan menonton film ini, saya seperti baru saja mengikuti acara pesta kacang di Ile Ape," demikian komentar singkat dari Maria Loka, salah satu penonton yang hadir dalam Gala Premiere Film Dokumenter Uta Weru Lewuhala di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata, Sabtu, 29 Januari 2022.
Maria Loka bahkan mengusulkan supaya film karya Langit Jingga itu ditayangkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari pelajaran muatan lokal (mulok) untuk anak-anak pelajar.
Bukan hanya sekadar melestarikan ritual Uta Weru, kata Maria, tapi penayangan film berdurasi satu jam lebih itu sekaligus mempertegas identitas asli orang Lewuhala yang sebagian besar bermukim di lereng gunung Ile Lewotolok dan juga sudah tersebar kemana-mana.
Film dokumenter tersebut memang menampilkan serangkaian ritual yang kompleks dalam keseluruhan acara yang biasa dikenal dengan Pesta Kacang (Uta Weru).
Baca juga: Pemda Kabupaten Lembata Genjot Vaksinasi Dosis II
Pesta kacang sendiri biasa dirayakan setiap pertengahan tahun, sekitar bulan September-Oktober bertempat di kampung lama Lewuhala, tempat sejumlah rumah adat dari suku-suku masyarakat Lewuhala berdiri kokoh hingga saat ini.
"Ini film yang luar biasa karena kita bisa lihat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang dipraktikkan orang-orang Lewuhala. Keseteraan seperti ini bisa jadi tidak ditemukan di tempat lain," ujar Maria Loka yang juga salah satu aktivis pejuang hak-hak perempuan dan anak di Lembata.
Kesetaraan perempuan dan laki-laki ini orang Lewuhala ini kemudian ditegaskan lagi oleh Eli Making, salah satu pegiat budaya yang memandu jalannya diskusi dalam Gala Premiere tersebut. Atas dasar itu, Maria pun menyampaikan keyakinannya bahwa film dokumenter Langit Jingga Film itu bisa menghidupkan atau merawat lagi nilai-nilai budaya bila dikonsumsi oleh publik.
Apresiasi terhadap film dokumenter audio visual ini juga disampaikan oleh pegiat seni Haris Dores yang melihat interaksi antara orang Lewuhala dengan Tuhan, leluhur dan alam semesta. Kemurnian interaksi itu dipraktkikan di dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Penyerapan APBD Kabupaten Lembata Capai 80 Persen di Akhir Tahun 2021
Bagi Haris, Langit Jingga telah mendokumentasikan audio visual ritual Uta Weru Lewuhala sebagai media edukasi yang baik. Bahkan lebih dari itu, kata Haris, film tersebut merupakan sebuah konstruksi budaya yang baik untuk memotret realitas sosial.
"Ini jadi media siar untuk pelajaran seni dan budaya di sekolah. Jadi sumber pengetahuan bersama," ucap Haris, atau seperti kata manajer produksi Abdul Gafur Sarabiti film dokumenter tersebut secara nyata menampilkan bagaimana masyarakat Lewohala mentransformasi pengetahuan, seni dan nilai-nilai kepada generasi-generasi mereka berikutnya.
Menurut Produser dan sutradara Film Uta Weru Lewuhala, Emanuel Hasan Lagamaking sejak lama dia sudah punya keinginan untuk membuat sebuah film tentang acara pesta. Selama ini, sebagai orang Lewuhala, dia juga rutin mengikuti acara adat tersebut.
Pada Maret 2021, pria yang akrab disapa Elmo ini memasukan proposal pembuatan film tersebut pada bagian Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
Proposal Elmo termasuk dalam jajaran 140 proposal yang diterima dari total sekitar 6.600 proposal yang masuk.
Setelah presentasi di Jakarta, Elmo langsung mengumpulkan para kru film di Lembata dan memulai proses syuting pada September 2021 saat pesta kacang digelar.
Sebelum Gala Premiere, film dokumenter Uta Weru Lewuhala sudah ditayangkan terlebih dahulu di desa Jontona dan Watodiri.
Disaksikan POS-KUPANG.COM, acara penayangan perdana film Uta Weru Lewuhala berlangsung cukup meriah dengan menyajikan live music Lembata Akustik dan pameran foto tunggal milik fotografer Om Yosi, Salah satu kru film Uta Weru Lewuhala. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/mempertegas-identitas-orang-lewuhala-dalam-dokumenter-uta-weru-karya-langit-jingga.jpg)