Rabu, 22 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 30 Januari 2022: Hai Tabib, Sembuhkanlah Dirimu Sendiri

Melihat dan menilai kehidupan orang lain tentu tak hanya secara lahiriah saja. Hati yang baik belum tentu ada di dalam diri orang yang tampang elok

Editor: Agustinus Sape
Dok Pribadi
RD Ambros Ladjar 

Renungan Harian Katolik Minggu 30 Januari 2022: Tentu Kamu Akan Mengatakan Pepatah Ini Kepada-Ku: Hai Tabib, Sembuhkanlah Dirimu Sendiri (Yeremia 1: 4-5, 17 - 19 dan 1Kor 13: 4 - 13; Luk 4: 21 - 30)

Oleh: RD. Ambros Ladjar

POS-KUPANG.COM - Melihat dan menilai kehidupan orang lain tentu tak hanya secara lahiriah saja. Hati yang baik belum tentu ada di dalam diri orang yang tampang elok dan cantik.

Bisa saja dalam diri orang yang tampang kulit luarnya jelek dan tak menarik di pandang mata, atau juga sebaliknya. Semuanya tergantung persepsi orang.

Tuhan melihat Yeremia sejak masih dalam kandungan ibunya. Di kemudian hari ia ditetapkan Tuhan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Ia harus selamatkan Israel bangsa pilihan Allah.

Yesus juga pilihan Allah sebagai Mesias. Dia sudah populer di kalangan orang Nazaret. Sebab sudah banyak mukjizat yang Ia kerjakan di Kapernaum.

Mereka juga sangat berharap agar Yesus juga buat di Nazaret tempat asal-Nya, tapi Yesus tak mau pamer diri.

Rujukan sikap-Nya jelas dalam injil. Dulu karya hebat nabi Elia dan Elisa tak terjadi di Israel.

Hanya untuk orang diluar Israel. Saat kelaparan, Elia menolong seorang janda di Sarfat di tanah Sidon.

Pada masa Elisa banyak orang kusta tapi justru yang disembuhkan hanya Naaman orang dari Siria itu.

Karena Yesus tak mau buat mujizat maka orang menolak Dia. Mereka bangun lalu menghalau Yesus keluar.

Baca juga: Renungan Harian Katolik, Minggu 30 Januari 2022: Allah Mengenal Hati dan Potensi Setiap Orang

Mereka bawa Dia ke tebing gunung dekat kota dan hendak melemparkan DIA dari tebing. Pikiran mereka seperti sudah dirasuki iblis dalam bagian awal injil Lk 4: 1-13.

Sebetulnya mereka mau paksa Yesus agar bisa salto ketika dilemparkan dari atas tebing. Sesungguhnya mereka sudah lupa bahwa yang hadir di tengah mereka adalah Mesias.

Mereka tolak kehadiran Yang Ilahi cuma karena ingin lihat sesuatu yang lebih spektakuler. Yesus akhirnya lolos dari tengah mereka tanpa ada yang mengganggu Dia.

Dari kisah ini, Yesus ajak kita agar selalu waspada. Banyak orang katolik yang rasa diri beriman dan beragama.

Rajin dan tekun hadiri semua ritual keagamaan tetapi kadang tak sampai berakar dalam perbuatan.

Perilaku mereka sangat bertolak belakang. Orang jadi fanatik dan intoleran serta tak mau kompromi dengan orang lain.

Mereka diajarkan mengimani Tuhan Yang Ilahi tapi sikap yang ambigu seringkali mengiring mereka kepada kepentingan dunia.

Banyak persaingan tak sehat gara-gara pangkat dan jabatan yang hingga orang lain jadi tumbal. Keinginan Yesus buat mukjizat akhirnya hilang karena IA tak mau bilamana orang lihat dulu tanda heran baru percaya.

Harapan yang sama dari rasul Paulus. Kita perlu memiliki integritas hidup iman. Sebab jika ada suasana kasih maka akan muncul penghayatan iman dalam sikap yang benar.

Ada sikap sabar, baik hati, tak cemburu akan kehebatan orang. Hidup sukses tapi tak sombong dan besar kepala.

Mereka mampu menjauhi diri dari sikap yang tak sopan dan egois. Bukan pemarah atau pendendam, tapi memihak kebenaran dan menjauhi ketidakadilan.

Tahan uji dan dapat dipercayai, bukan pribadi yang goyah dan putar balik sesama. Mungkinkah seorang pelayan akan berpaling dan menyesal jika ditolak karena gagal tunjukan kuasanya serupa Yesus?

Salam sehat di hari Minggu buat semuanya. Tetap taat menjalankan Prokes.

Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga kita masing-masing dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita hidup. Amin.*

Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 30 Januari 2022:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan Pertama: Yeremia 1:4-5.17-19

"Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

Pada masa Raja Yosia turunlah firman Tuhan kepadaku, Yeremia, sebagai berikut, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.

Dan sebelum engkau dilahirkan, Aku telah menguduskan engkau; Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.

Maka, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka, segala yang Kuperintahkan kepadamu.

Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!

Mengenai Aku, sungguh, pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini.

Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau. Sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau.”

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17

Refrein: Aku hendak memuji nama-Mu, ya Tuhan, selama-lamanya.

1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku.

2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri; sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku, ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeram orang-orang lalim dan kejam.

3. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.

4. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari pada-Mu, ya Allah Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang akan memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.

Bacaan Kedua: 1 Korintus 12:31–13:13

"Sekarang tinggal iman, harapan dan kasih; namun yang paling besar di antaranya ialah kasih."

Saudara-saudara, berusahalah memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.

Sekalipun aku dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing.

Sekalipun aku mempunyai karunia bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan; sekalipun aku memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar, murah hati dan tidak cemburu. Kasih itu tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak bertindak kurang sopan.

Kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Kasih tidak bersukacita atas kelaliman, tetapi atas kebenaran. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih tidak berkesudahan. Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, dan pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap, dan nubuat kita tidak sempurna.

Tetapi jika yang sempurna tiba, hilanglah yang tidak sempurna itu.

Ketika masih kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak pula.

Tetapi sekarang, setelah menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Sekarang kita melihat gambaran samara-samar seperti dalam cermin, tetapi nanti dari muka ke muka.

Sekarang aku mengenal secara tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, sebagaimana aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, harapan, dan kasih; dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil: Lukas 4:18-19

Refrein: Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.

Tuhan mengutus Aku memaklumkan Injil kepada orang yang hina dina, dan mewartakan pembebasan kepada orang tawanan.

Bacaan Injil: Lukas 4:21-30

"Seperti halnya Elia dan Elisa, Yesus diutus bukan hanya kepada orang-orang Yahudi."

Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak di rumah ibadat di kota asalnya, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas Kitab Suci pada waktu kamu mendengarnya.” Mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya.

Lalu mereka berkata, “Bukankah Dia ini anak Yusuf?” Maka berkatalah Yesus kepada mereka, “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai Tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri! Perbuatlah di sini, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar telah terjadi di Kapernaum!”

Yesus berkata lagi, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.

Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak wanita janda di Israel, ketika langit tertutup selama tiga tahun enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.

Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel, tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain Naaman, orang Siria itu.”

Mendengar itu sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota, dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.

Tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved