Senin, 13 April 2026

Berita Kota Kupang

Tradisi Unik Perayaan Imlek Ala warga Tionghoa di Kota Kupang

Angpao berupa lembaran uang yang dibungkus dalam sebuah amplop berwarna merah sebagai simbol kebahagiaan.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM
Theodorus Widodo atau Theo Widodo adalah Ketua Pengurus Daerah Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT ), Indonesia. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Christin Malehere

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Perayaan Imlek 2573 Kongzili yang jatuh pada 1 Februari 2022 mendatang, warga Tionghoa di berbagai  penjuru memiliki sejumlah tradisi unik.

Demikian juga warga Tionghoa di wilayah Kota Kupang, Provinsi NTT juga melakukan kebiasaan serupa.

Kepada POS-KUPANG.COM, Kamis (Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa NTT, Theo Widodo menguraikan kebiasaan jelang perayaan Imlek yang dilakukan masyarakat Tionghoa yang berdomisili di Kota Kupang.

Kegiatan membersihkan rumah dari berbagai pengaruh negatif dan gangguan roh jahat.

"Kebiasaan membersihkan rumah agar suasana rumah menjadi bersih dan nyaman, serta simbol manusia selalu menjaga hati dengan cara berpikir positif, tidak menyimpan amarah, iri hati, dengki, serta memiliki hati yang tulus dan ikhlas kepada sesama," ungkap Theo.

Doakan Orangtua dan Leluhur.

Tradisi unik lain berupa mengunjungi rumah abu untuk mengenang dan mendoakan para leluhur sekaligus bersyukur atas berkat Tuhan selama setahun.

"Di Kota Kupang ada Rumah Abu milik Keluarga Lay (Kongzili Lay), warga Tionghoa atau penganut kepercayaan Kongfucu selalu datang ke sana untuk berdoa sekaligus mengenang para leluhur," jelasnya.

Saat perayaan Imlek, pada siang hari, warga Tionghoa selalu berkumpul bersama keluarga untuk berdoa bagi orangtua dan para leluhur, kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama.

Begitu pula saat malam hari, semua anggota keluarga Tionghoa akan berkumpul di satu tempat yang sama untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Sang pemberi kehidupan.

Demikian juga warga Tionghoa penganut kepercayaan Kongfucu akan memanjatkan doa kepada Tuhan dan syukur kepada Dewa Langit sekaligus memohon keselamatan kepada Sang Pencipta.

"Tradisi Warga Tionghoa selalu berkumpul bersama keluarga untuk berdoa bersama, kemudian melanjutkan acara makan bersama dengan tujuan menjunjung tinggi rasa persaudaraan," ujar Theo.

Pembagian Angpao

Tradisi pembagian angpao juga menjadi bagian yang sangat penting bagi masyarakat Tionghoa.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved