Berita Nagekeo
Hadir di Nagekeo, Politician Akademy Gelar Diskusi Publik
Politician Academy menggelar diskusi publik dengan tema "Trend dan Tantangan Pemilu Serentak Tahun 2024" di Kabupaten Nagekeo
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi
POS-KUPANG.COM, MBAY-Politician Academy menggelar diskusi publik dengan tema "Trend dan Tantangan Pemilu Serentak Tahun 2024" di Kabupaten Nagekeo. Dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut, menandakan Politician Akademy hadir di Kabupaten Nagekeo.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan Pos Kupang, kegiatan diskusi tersebut dilaksanakan di Aula Gereja Santa Maria Dolorosa, Penginanga-Mbay, Jumat 26 November 2021.
Tampil sebagai pembicara dalam diskusi tersebut Direktur Politician Akademy, Bonggas Adhi Chandra, Pater Hubert Muda. Kegiatan itu dan dipandu oleh Elias Cima.
Direktur Politician Akademy Bonggas Adhi Chandra dalam materinya mengatakan bahwa banyak petahana baik itu kepala daerah maupun anggota DPRD banyak yang kalah ketika maju kembali dalam pemilu.
Berdasarkan data, pada pemilihan kepala daerah tahun 2020 yang lalu dari sepuluh calon petahana yang maju, hanya satu calon yang terpilih kembali, sedangkan sembilan calon petahana lainnya tumbang.
"Itu pun satu calon petahana menang setelah dilakukan PSU di Kabupaten Sabu Raijua. Kalau tidak PSU, semua calon petahana di NTT kalah," ungkapnya.
Dijelasnnya, sebenarnya kemungkinan kalah dari calon petahana sangat kecil karena calon petahana sudah memiliki program, basis masa, anggaran yang jelas, serta menjadi spot light media.
Bonggas akhirnya mengungkap alasan dibalik tumbangnya calon dalam pemilu. Dijelaskannya, ada lima alasan yang menjadi penyebab kekalahan calon petahana.
Pertama karena para calon petahana tidak mampu memenuhi janji kampanyenya. Kedua karena petahana tidak memiliki program yang menonjol ketika ia memimpin sehingga tidak ada prestasi yang dibanggakan.
Ketiga, petahana tidak memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik kepada masyarakat. Sebab, mungkin saja ada prestasi yang diraih namun tidak tersampaikan dengan baik ke masyarakat.
"Keempat, kompetitornya lebih cemerlang. Artinya ada tokoh baru yang muncul, personal brendingnya bagus, charming, ada ketokohan, dan mampu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat sehingga petahana tidak dipilih lagi," jelasnya.
Kelima, alasan kuat dibalik tumbangnya petanahana dalam pemilu ketika masyarakat sudah cerdas dalam memilih, sehingga ketika ada petahana yang tidak mampu membawa perubahan, maka masyarakat menghukum dengan tidak memilih kembali calon petahana.
"Dan itu bentuk hukuman dari masyarakat. Dan itu sudah tepat sekali. Dari pada demo turunkan bupati, lebih baik hukum mereka dengan tidak memilih kembali," tegasnya.
Bonggas menjelaskan, sudah saatnya politik diisi oleh politisi yang memiliki kecerdasan literasi, sehingga mereka bisa menerapkan cara dan metode politik yang mencerdaskan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/hadir-di-nagekeo-politician-akademy-gelar-diskusi-publik.jpg)