Kamis, 23 April 2026

Berita Malaka

Warga Sepanjang DAS Benenain Rindu Tidur Aman dan Nyaman

Warga disepanjang DAS Benenain di Desa Naimana, Bereliku, Desa Fahiluka, Railor Tahak, Lawalu dan Motaain merindukan tidur aman dan nyaman

Penulis: Edy Hayong | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/EDI HAYONG
Daerah Aliran Sungai (DAS) Benenain di Kabupaten Malaka yang tergerus banjir pasca badai Seroja April 2021. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Edi Hayong

POS-KUPANG.COM, BETUN---Warga  yang tinggal disepanjang DAS Benenain seperti di Desa Naimana, Bereliku, Desa Fahiluka, Railor Tahak, Lawalu dan Motaain merindukan untuk tidur aman dan nyaman bila musim hujan tiba.

Pasalnya, semenjak terjadinya badai siklon tropis Seroja pada April 2021 lalu hingga saat ini warga dihantui dengan pikiran was-was manakala ada banjir kiriman dari wilayah Hulu seperti TTS, TTU dan Belu.

Hal ini diutarakan beberapa warga Malaka Tengah seperti Pisto Bere, Melki Besin yang ditemui secara terpisah, Sabtu (20/11/2021).

Dikatakan Pisto,  sekarang ini wilayah Kabupaten Malaka sendiri dalam satu minggu terakhir sudah turun hujan. Atas nama warga tentu mereka meminta agar  pemerintah  segera membangun tanggul permanen di sepanjang area DAS.

"Kami trauma dengan perstiwa yang sudah terjadi kali lalu. Kami cuma minta Pemerintah segera turun tangan karena musim hujan sudah tiba," harap Pisto.

Baca juga: Tumpukan Sedimentasi di DAS Benenain, BWS NT II Diminta Lakukan Normalisasi

 
Pisto mengakui sejak tahun 2017 lalu Pemerintah sudah membangun tanggul di sepanjang DAS Benenai namun baru sampai Desa Naimana

Tanggul tersebut  sekarang sudah roboh sewaktu badai Seroja. Sudah ada kegiatan survei lapangan oleh tim dari kabupaten namun kegiatan di lapangan belum berjalan.

"Waktu ukur lokasi itu tim minta warga untuk pembebasan lahan supaya bisa buat tanggul dan itu sudah fix. Tapi kegiatan belum jalan. Jujur kami trauma dengan banjir kiriman dari wilayah TTU, TTS dan sekitarnya," kata warga Bolan ini. 

Pisto merincikan, terdapat tiga Kecamatan yang terletak di sekitar DAS Benenai seperti Kecamatan Malaka Tengah dengan wilayah sasaran Desa Bereliku, Naimana, Fahiluka, Railor Tahak, Lawalu.

Kecamatan Malaka Barat seperti Desa Oan Mane, Sikun, Fafoe, Motaain, Motaulun dan Lasaen dan  Kecamatan Weliman seperti Desa Angkaes, Wederok, Lamudur, Forekmodok, dan Kleseleon. 

"Desa-desa itu yang sering dilanda banjir. Memang saat ini sudah ada proses pengerjaan tanggul tapi itu hanya di Desa Angkaes. Lalu bagaimana dengan kami yang ada diwilayah Aintasi kapan dibangun tanggul sementara sekarang sudah musim hujan. Jangan sampai kondisi yang dialami warga akan terulang lagi," kata Pisto. 

Dirinya menyebutkan, dengan pengerjaan tanggul seperti sekarang ini menandakan Pemerintah Daerah Kabupaten Malaka tidak serius. Akibatnya lahan pertanian dan perkebunan masyarakat yang ada di Desa setempat sering gagal panen karena dilanda banjir saat musim hujan. 

 Mantan Ketua Immala Malang ini berharap kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Malaka agar peka terhadap persoalan banjir musiman yang tidak pernah tuntas penyelesaian dari dulu hingga sekarang. 

"Kami minta dibuat tanggul permanen  sehingga persoalan ini bisa teratasi secara tuntas. Warga rindu tidur aman dan nyaman dan tidak trauma saat musim hujan tiba," pungkas Pisto. 

Sementara Melki Besin warga Desa Fahiluka mengungkapkan hal yang sama agar Pemerintah segera bangun tanggul di sekitar DAS Benenai. 

"Sekarang sudah masuk musim hujan tanggul belum dikerjakan kalau banjir lagi pasti kami kena lagi banjir," ujar Melki Besin. 

Dirinya berharap pemerintah jangan pasrah dengan situasi sekarang. Untuk itu, dinas teknis segera membuat tanggu permanen sebelum banjir datang dan mendatangkan kesulitan lebih besar lagi.

Untuk diketahui, selama kurun waktu kepemimpinan Bupati dan Wabup Malaka saat ini, telah dirumuskan visi-misi yang dikemas melalui Program  SAKTI yang kini sudah populer di publik Rai Malaka.

SAKTI ini  merupakan akronim dari program kerja Bupati dan Wakil Bupati Malaka yakni, S-artinya swasembada pangan. Warga perlu kecukupan pangan. 

A-artinya Agama yang berbudaya. Semua warga Malaka harus bisa menjunjung tinggi budaya. Harus memegang falsafah Soekarno soal bagaimana hidup tidak melupakan budaya.

 K-artinya kualitas atau kompetensi. Menempatkan orang sesuai kemampuan orangnya. T-artinya tata kelola baik birokrasi maupun tata ruang. I-artinya infrastruktur yang berkeadilan.(*)

Baca Berita Malaka lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved