Berita Maumere
Hariyadi Nekat Merantau ke Maumere Demi Istri dan Anak
Hariyadi, pedagang kaki lima (PKL) di Kota Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, NTT acap menjajakan dagangan rujak dan es campur demi menopang kebutuhan
Penulis: Aris Ninu | Editor: Ferry Ndoen
Hariyadi Nekat Merantau ke Maumere Demi Istri dan Anak
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Aris Ninu
POS-KUPANG.COM | MAUMERE-Hariyadi, pedagang kaki lima (PKL) di Kota Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, NTT acap menjajakan dagangan rujak dan es campur demi menopang kebutuhan hidup keluarganya.
Geliat Hariyadi adalah potret ayah luar biasa. Pada trotoar jalan sisi utara Monument Tsunami Maumere adalah lokasi dirinya menaruh seberkas harapan memperoleh lembaran rupiah sebagai ole-ole semesta saat kembali ke kontrakan, tempat Ia bersama istri dan dua orang anaknya bermukim.
"Saya pilih tempat ini karena cukup ramai pembeli. Sehari bisa 6 jam tongkrong disini untuk jualan", ujar Hariyadi sambil meracik rujak pesanan pembeli, Sabtu, 20 November 2021.
Hariyadi adalah perantau dari Madura, Jawa Timur. Pada tahun 2015, Ia bersama sang Istri memutuskan nekat merantau ke Kota Maumere, Nian Tana Sikka untuk menata hidup keluarga kecilnya, mengikuti jejak keluarganya yang adalah sesama perantau.
Baca juga: Senin Depan Pemprov NTT Umumkan Besaran UMP
"Saya bersama istri sepakat merantau ke Maumere karena ada keluarga. Kami merasa betah dan dua anak saya pun lahirnya di sini", kisahnya kepada POS-KUPANG.COM. Sebelum menjadi pedagang kaki lima (PKL), Hariyadi mengawali usahanya sebagai penjual aksesoris handphone di Pasar Bertingkat Maumere. Lantaran terkendala modal seadanya, usahanya itu pun mandek. Dari situlah ia berbalik arah dan memutuskan untuk menjadi pedagang rujak dan es campur pada trotoar jalan yang bertahan hingga saat ini.
Sebagai seorang PKL, Hariyadi mengaku tetap semangat dan pantang menyerah demi menjaga agar api di dapur tetap menyala kendati nafkah yang diperoleh terbilang seadanya.
Dalam sehari, omset pendapatan yang berhasil masuk kantong berkisar Rp 200.000. Menurutnya, perolehan ini jauh lebih baik ketimbang saat diberlakukan kebijakan PPKM secara ketat oleh Pemerintah Kabupaten Sikka akibat pandemi Covid-19 yang kian mewabah.
"Yah, cukup buat kebutuhan hidup sehari-hari dan bayar sewa kontrakan. Mau gimana pak, namanya juga usaha mencari duit," katanya seraya tersenyum energik.
Kehadiran para pedagang kaki lima yang memanfaatkan trotoar jalan sebagai tempat berdagang tak dicekal Satpol Pp. Dengan demikian, Hariyadi bersama para pelaku PKL lainnya amat bersyukur lantaran dagangannya boleh berjalan lancar.
"Selama saya berdagang tidak pernah diusir. Malah sesekali mereka juga beli dagangan saya", sahutnya cekikilan.(ris)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/hariyadi-penjual-rujak-di-maumere.jpg)