Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Rabu 3 November 2021: Pilihan Tegas
Penginjil Lukas menyebutkan bahwa "banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya" (Luk 14:25).
Renungan Harian Katolik Rabu 3 November 2021: Pilihan Tegas (Lukas 14:25-33)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Penginjil Lukas menyebutkan bahwa "banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya" (Luk 14:25).
Tentu yang dimaksud dengan perjalanan itu adalah perjalanan Yesus ke Yerusalem, tempat Ia bakal ditolak, dibunuh, dan disalibkan, tetapi akan dibangkitkan.
Pertanyaannya, apakah semua orang itu juga berani dan bertahan mengikuti-Nya terus sampai ke akhir perjalanan-Nya?
Pertanyaan ini tentu saja pasti juga terarah kepada diri kita masing-masing yang tengah berusaha untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Apakah kita pun bertahan mengikuti Dia sepanjang hidup kita?
Saat-saat awal sebagai imam baru, ketika ikut merayakan pesta perak imamat, pesta emas imamat, atau pesta intan imamat dari para pastor senior, selalu muncul pertanyaan 'apakah saya bisa seperti mereka; bertahan hingga menggapai perak, emas, intan dalam hidup imamat?
Bila ada orang yang menikah dan mengunggah foto-foto pernikahannya di medsos, pasti akan bertebaran banyak komentar yang kurang lebih mirip, "Semoga bisa langgeng sampai kakek-nenek".
Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 2 November 2021: Hidup Kekal Bersama Allah
Ini ungkapan harapan semoga orang bisa bertahan menjalani perkawinannya hingga maut memisahkan.
Ketika ikut ambil bagian dalam perayaan emas perkawinan sepasang pasutri, MC bertanya kepada pasutri berbahagia itu, 'Apa sih kiatnya agar bisa langgeng hingga 50 tahun?'
Dalam konteks perjalanan mengikuti Yesus, pertanyaan yang sama bisa dikedepankan, bagaimana caranya kita dapat mengikuti Yesus sampai akhir?
Kepada orang banyak yang mengikuti-Nya dan pasti termasuk juga kepada kita, Yesus menyampaikan syarat yang harus dipenuhi agar orang dapat disebut murid-Nya yang sejati; pengikut-Nya yang bertahan sampai akhir.
Syarat pertama kedengarannya keras. Yesus bilang, orang yang tidak "membenci" orang tua, keluarga, sanak, nyawa sendiri tak layak menjadi murid-Nya (Luk 14:26).
Ungkapan "membenci" dalam gaya bicara Semit biasa dipakai untuk menggambarkan sikap tidak memihak. Bukan sikap netral, abu-abu, suam-suam kuku; melainkan pilihan tegas "tidak".
Dalam mengikuti Yesus hingga akhir, kita diingatkan, agar tidak lagi memihak pada ikatan-ikatan kekerabatan, kepentingan dan urusan keluarga. Mengapa?
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 30 Oktober 2021: Rendah Hati di Hadapan Tuhan
Bukan karena mengikuti Yesus itu bertolak belakang dengan ikatan keluarga atau hubungan darah, melainkan agar perkara Kerajaan Allah tidak dibataskan atau diganggu lagi dengan urusan tetek bengek soal famili, masalah konflik saudara-saudari dalam hal warisan, terjebak dalam nepotisme, dan sebagainya.
Syarat kedua ialah mengangkat salib dan mengikuti Yesus. "Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk 14:27).
Penyaliban adalah hukuman paling hina zaman itu. Dengan bicara tentang salib, Yesus menyerukan agar kita yang mengikuti-Nya, mati di salib. Atau, siap memikul balok salib sampai ke tempat eksekusi.
Tentu saja, memikul salib harus diartikan sebagai kiasan. Maksudnya, sebagai pengikut-Nya, kita seharusnya melekat kepada Yesus, sehingga kita mampu memandang hidup di bumi ini sebagai sesuatu yang bukan tujuan.
Untuk bersatu dengan Yesus, kita mesti memilih "mati bagi diri sendiri", mati bagi segala sesuatu yang biasa kita kejar sebagai kepentingan utama hidup kita.
Memikul salib juga berarti mengikuti jejak langkah Yesus, meniti jalan yang sama. Yesus memikul salib. Kita tinggal ikut memanggulnya. Ikut meringankan beban perjalanan-Nya seperti Simon dari Kirene. Menjadi teman seperjalanan Yesus.
Pilihan "mengikuti Yesus" itu harus diambil dengan pertimbangan yang matang, bukan asal-asalan. Pilihan diambil dengan mempertimbangkan kesanggupan diri, keteguhan hati, dan risiko yang akan ditanggung.
"Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikannya, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya" (Luk 14:28-30).
De facto kita masih mengikuti Yesus. Perjalanan kita masih panjang. Bisa jadi kita kelelahan, haus dan kelaparan.
Mungkin dalam perjalanan, kita tergiur hal yang lain, lalu muncul keinginan atau bahkan sempat meninggalkan Yesus.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 3 November 2021: Barui Komitmen
Olehnya, kita diingatkan bahwa keputusan sudah pernah kita buat. Bahwa keputusan kita ternyata belum final, tuntas. Kita harus kembali memperbaharui keputusan kita. Kita menuntaskan keputusan kita.
Dan, kita pinta kepada Yesus kekuatan agar kita bisa kuat dan mampu bertahan, dengan pengorbanan yang harus ditanggung dengan lapang hati. *
Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 3 November 2021:
Bacaan Pertama Roma 13:8-10
Kasih itu kegenapan hukum
Saudara-saudara, janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.
Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.
Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!
Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Demikianlah Sabda Tuhan
Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: 112:1-2.4-5.9
Refr.: Orang baik menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman
Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunan orang benar akan diberkati.
Bagi orang benar ia bercahaya laksana lampu di dalam gelap, ia pengasih dan penyayang serta berlaku adil.
Orang baik menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, ia melakukan segala urusan dengan semestinya.
Ia murah hati, orang miskin diberinya derma; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan.
Bait Pengantar Injil 1 Petrus 4:14
Refr.: Alleluya
Berbahagialah kalian, bila dinista karena nama Kristus, sebab Roh Allah ada padamu
Bacaan Injil Lukas 14:25-33
Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku
Pada suatu ketika orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.
Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
Demikianlah Injil Tuhan.
Terpujilah Kristus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)