Sabtu, 11 April 2026

Berita Sikka

Mahasiswa STFK Ledalero Tanam Bakau di Pantai Ndete Sikka

Sebanyak 206 mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero menanam pohon bakau

Editor: Kanis Jehola
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
Mahasiswa STFK Ledalero saat melakukan aksi tanam bakau di pantai Ndete 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Amar Ola Keda

POS-KUPANG.COM,LARANTUKA-Sebanyak 206 mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero menanam pohon bakau dan memungut sampah di sepanjang Pantai Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Sabtu 23 Oktober 2021. Penanaman bakau dan aksi pungut sampah ini merupakan realisasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) pembelajaran mata kuliah Filsafat Lingkungan di STFK Ledalero.

Adapun 206 mahasiswa/i yang terlibat dalam kegiatan ini merupakan para awam katolik, suster, bruder, dan para frater/calon imam. 

“Kami adalah gabungan mahasiswa/i awam, suster, bruder, dan para frater dari 11 konvik atau biara. Semuanya adalah para student filsafat semester V di STFK Ledalero,” ungkap Frater Yanus Meo, SVD selaku koordinator mahasiswa dalam kegiatan ini.

Ia mengatakan, kegiatan itu merupakan komitmen mahasiswa STFK Ledalero untuk merawat lingkungan hidup seperti yang digeluti dalam teori-teori Filsafat lingkungan. "Ada sekitar dua ratus anakan pohon bakau yang ditanam,” kata Frater Yanus.

Baca juga: Belajar Kebijaksanaan Hidup, Frater STFK Ledalero Kunjungi Panti  Alma  Maumere

Sementara Dosen pengasuh mata kuliah Filsafat Lingkungan, Dr. Felix Baghi, mengatakan, belajar filsafat lingkungan tidak cukup dengan berteori dan berargumentasi di dalam kelas. Pergulatan filosofis, kata dia, memang penting agar abstraksi berpikir mahasiswa dijernihkan. Namun, teori mesti juga ditunjukkan secara nyata dalam kehidupan. 

“Ada kesatuan makna antara manusia, alam, dan lingkungan. Kesatuan ini selalu tersituasi. Kita berfilsafat dari situasi hidup setiap hari. Karena itu, mata kuliah Filsafat Lingkungan mesti menghantar mahasiswa/i secara aktif merespons lingkungan sekitarnya,” ungkapnya.

Ia mengaku bangga karena upaya berfilsafat di dalam ruang kelas termaktub dalam kreativitas yang nyata.

“Mesti ada referensi dalam berfilsafat. Ada kepandaian akademis, ada kepandaian praktis. Kalian sudah menyatukan ketajaman akademis dan kepandaian praktis itu,” ujarnya.

Untuk diketahui, lokasi penanaman bakau ini berada sekitar 29 kilometer dari Kota Maumere. Lokasi seluas 70 hektar ini milik pasutri Viktor Emanuel Rayon alias Baba Akong (alm) dan istrinya, Angelina Nona. 

Keduanya dikenal sebagai tokoh pelestari lingkungan yang telah mendapat sejumlah penghargaan di tingkat Nasional, seperti penghargaan Kalpataru pada 2008 dan 2009, masing-masing diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Ir. Rachmat Witoelar, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Almarhum Baba Akong dan Angelina Nona juga dua kali diundang ke acara Kick Andy, di kanal Metro Tv.

Terpisah, Ibu Angelina Nona mengaku, melejitnya nama hutan mangrove ini berkat inisiatif dan kerja keras almarhum suaminya.  “Almarhum Baba Akong yang memulai semua ini,” kenangnya.

Ia mengapresiasi dan berterima kasih kepada semua peserta kegiatan penanaman pohon bakau di sepanjang Pantai Ndete.

“Terima kasih untuk dukungan dan kerja keras yang baik dari kalian semua,” ungkap Angelina Nona. (*)

Baca Berita Sikka Lainnya
 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved