Berita Kota Kupang

Kunjungan ke Wisata Mangrove Menurun

Arus kunjungan ke obyek wisata Hutan Mangrove di Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang menurun

Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/OBY LEWANMERU
Obyek wisata Hutan Mangrove di Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Gambar diambil, Selasa 19 Oktober 2021. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Arus kunjungan ke obyek wisata Hutan Mangrove di Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang menurun atau berkurang drastis.

Kondisi ini sudah berlangsung sejak awal munculnya Pandemi Covid-19 pada Maret 2020 hingga saat ini.

Hal ini disampaikan Bin Poi, salah satu  penjaga Ekowisata Mangrove Oesapa Barat, yang ditemui Selasa 19 Oktober 2021.

Menurut Bin, sejak munculnya Covid-19 di awal tahun 2020, kunjungan ke obyek wisata Hutan Mangrove itu berkurang.

"Kalau dulu itu, satu hari orang yang berkunjung bisa mencapai 30 orang dalam sehari, tapi saat Pandemi Covid-19, hanya 4-5 orang. Kadang bisa sampai 10 orang per hari," kata Bin.

Baca juga: Di Kota Kupang, Warga Oesapa Barat Sambut Baik Pembenahan Destinasi Unggulan Wisata Hutan Mangrove

Bin mengakui, sejak Maret tahun 2020 obyek wisata itu ditutup hingga Bulan Agustus 2020, kemudian ditutup lagi akhir tahun 2020 akibat Covid-19 meningkat.

"Pada awal tahun 2021 juga ditutup. Kondisi itu berlanjut hingga adanya Badai Seroja. Karena itu, kami sangat merasakan dampak dari Pandemi Covid-19 yang ditambah dengan Badai Seroja di Bulan April 2021," katanya.

Ditanyai soal tarif masuk ke obyek wisata itu, Bin Poi menjelaskan, untuk tarif masuk sebenarnya belum ada Perda, namun karena sebagai pengelola mereka membutuhkan biaya pemeliharaan jembatan papan, maka setiap pengunjung diberi beban tarif masuk Rp 5.000.

"Kita tidak bisa katakan pungutan karena belum ada Perda. Uang Rp 5.000 itu per pengunjung dan dengan Rp 5.000 sudah termasuk biaya ke toilet, parkir. Jadi hanya Rp 5.000 pengunjung sudah bisa menikmati suasana di Hutan Mangrove," katanya.

Dikatakan, bagi pengunjung yang hanya di pelataran atau di depan tempat parkiran , tidak diberi beban untuk membayar.

"Pengunjung yang masuk ke dalam jembatan papan itu yang bayar. Biaya ini untuk orang yang masuk atau naik ke jembatan papan. Jika hanya di pelataran depan tidak kami ambil uang. Pemasukan tidak cukup, tapi kami merasa memiliki tempat ini,"  ujarnya.

Dikatakan, sebagai penjaga pihaknya tidak terlalu memikirkan soal uang, namun yang dikedepankan adalah  agar lokasi itu tetap terjaga dengan baik.

"Kami hanya pikir ini milik kita, kalau kota tidak jaga, siapa lagi. Kami sudah rasa memiliki tempat ini sehingga kami menjaga dengan baik," katanya

Bin juga mengharapkan, kedepan jika pemerintah memiliki anggaran maka bisa membenahi obyek wisata itu, terutama jembatan papan, karena jika ada papan yang rusak sangat rawan bagi pengunjung.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved