Kamis, 23 April 2026

Laut China Selatan

Konflik di Laut China Selatan, Malaysia dan Cina Sudah Siap Perang?

Salah satunya adalah Malaysia, dan efeknua kini kedua negara malah bersiap berhadapan satu lawan satu.

Editor: Gordy Donofan
ukdefencejournal.org.uk/
Ilustrasi Laut China Selatan 

Menurut angkatan udara Malaysia, beberapa pesawat militer China, termasuk Ilyushin-76 dan Xian Y-20, disinyalir membuat sebuah "formasi taktis" di dalam zona udara Malaysia, yang kemudian menjadi "sebuah ancaman serius untuk keamanan nasional dan jaminan penerbangan."

Indonesia dan juga Filipina juga terlibat dalam manuver serupa untuk melawan gangguan China yang suka sewenang-wenang masuk ke zona ekonomi Indonesia dan Filipina, menunjukkan perlawanan yang makin ngotot terhadap aksi militer Beijing di laut penuh sengketa itu.

Faktanya, tiga negara kunci di ASEAN itu juga telah memperkuat kerjasama pertahanan dan strateginya dengan kekuatan luar, termasuk latihan militer besar-besaran dengan AS beberapa bulan belakangan.

Menurut sejarah, Malaysia telah mempertahankan hubungan yang relatif ramah dengan China, mitra dagang dan investasi pada beberapa puluh tahun belakangan.

Untuk bagiannya, Beijing telah sering mengadopsi pendekatan lebih halus ke Putrajaya di Laut China Selatan, di mana berbagai klaim telah tumpang tindih di sana.

Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan sekutu-sekutunya, yang kini kembali berkuasa, juga bergantung pada China sebagai pengawas strategi besar mereka selama bertahun-tahun.

Itulah mengapa sedikit pengamat tidak terkejut dengan posisi Malaysia di tengah posisi mereka terhadap AUKUS, ketika mereka menekankan "perlunya melihat pandangan China, terutama pejabat pertahanan China, tentang apa yang mereka pikirkan mengenai AUKUS dan apa aksi mereka selanjutnya."

Namun pada 3 tahun terakhir, Malaysia telah lambat laut mengulas diplomasi diam mereka dengan China di tengah ketegangan yang tumbuh di Laut China Selatan, dan juga karena kekhawatiran atas diplomasi 'jebakan utang' China.

Mantan Perdana Menteri Mahathir Mohammad secara terbuka mengkritik infastruktur yang dicurigai kemahalan dan jadi ladang korupsi di negara mereka, sementara ia juga memasang kuda-kuda lebih kuat terhadap ketegangan dengan Beijing.

Di bawah arahan Mahathir, Malaysia secara terbuka mengancam China dengan mengajukan arbitrase Laut China Selatan sembari secara terbuka mengkritik klaim ekspansif China, 'sembilan garis putus-putus' sebagai konyol.

Dimulai pada Desember 2019, Malaysia juga meningkatkan aktivitas eksplorasi energi mereka di wilayah yang sama-sama diklaim China dan Vietnam.

Walaupun administrasi Mahathir runtuh di tahun berikutnya, Malaysia tetap melanjutkan aktivitas eksplorasi energinya.

Melanjutkan ketegangan berbulan-bulan lamanya dengan armada China, yang secara terus-terusan mengganggu aktivitas kapal pengeboran minyak Malaysia West Capella, mantan Menteri Luar Negeri Hishammuddin Hussein menggaris bawahi: "Malaysia tetap tegas terhadap komitmennya menjaga kepentingan dan haknya di Laut China Selatan."

Segera setelah itu, bahkan raja Malaysia yang seharusnya hanya jadi simbol dan tidak berpolitik juga bergabung, meminta pemerintah Malaysia untuk "selalu sensitif terhadap klaim maritim dan mengadopsi sebuah strategi yang mendukung aspirasi geopolitik."

Minggu ini, pemerintah Malaysia menyatakan bahwa "menegaskan posisi Malaysia dan sumber aksi terkait isu Laut China Selatan, yang kompleks dan melibatkan hubungan antar negara, kepentingan nasional Malaysia akan tetap menjadi kepentingan utama."

Sumber: Grid.ID
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved