Laut China Selatan
Konflik di Laut China Selatan, Malaysia dan Cina Sudah Siap Perang?
Salah satunya adalah Malaysia, dan efeknua kini kedua negara malah bersiap berhadapan satu lawan satu.
POS KUPANG.COM – Situasi di Laut China Selatan telah membuat berbagai peralatan perang kelas beras membanjiri kawasan itu.
Bahkan negara-negara yang berada jauh di belahan bumi yang lain juga ikut memamerkan peralatan perangnua di perairan yang kaya sumber daya alam itu
China yang mengklaim seenaknya wilayah itu hingga menerobos wilayah yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan membuat negara-negara Asia Tenggara mulai bertinda tegas.
Salah satunya adalah Malaysia, dan efeknua kini kedua negara malah bersiap berhadapan satu lawan satu.
Baca juga: Sengketa Laut China Selatan Mulai Memicu Konflik, China dan Malaysia Siap Satu Lawan Satu, Perang?
Beberapa minggu terakhir telah menunjukkan keberpihakan antara negara-negara Asia Tenggara karena kesepakatan kapal selam kontroversial antara Australia, Inggris dan Amerika Serikat (AUKUS).
Sebagian besar negara-negara ASEAN, terkecuali Filipina yang merupakan sekutu AS, mempertahankan diri untuk diam sebagai langkah politiknya.
Sedangkan Indonesia dan Malaysia secara terbuka mengkritik kesepakatan itu sebagai perkembangan yang bisa merusak kestabilan wilayah di tengah persaingan Sino-Amerika.
Namun menolak AUKUS bukan berarti menerima langkah China.
Mengutip Asia Times, untuk kedua kalinya tahun ini, Malaysia telah memanggil utusan China untuk protes melawan gangguan mereka di Laut China Selatan.
Kementerian Luar Negeri Malaysia minggu ini mengirimkan catatan verbal 4 paragraf ke duta besar China Ouyang Yujing yang mengatakan Malaysia "memprotes melawan kehadiran dan aktivitas kapal-kapal China, termasuk kapal survei, di zona ekonomi eksklusif Malaysia lepas pantai Sabah dan Serawak."
"Kehadiran dan aktivitas kapal-kapal ini tidak konsisten dengan Aksi Zona Ekonomi Eksklusif Malaysia tahun 1984, demikian juga dengan UNCLOS 1982," ujar pernyataan tersebut.
"Posisi konsisten Malaysia dan aksinya didasarkan pada hukum internasional, mempertahankan kedaulatan kami dan hak berdaulat di perairan kami. Malaysia juga memprotes terhadap gangguan sebelumnya oleh kapal asing lain yang masuk ke wilayah laut kami," ujar pernyataan verbal tersebut.
Kata-kata protes tersebut datang hanya sehari setelah Perdana Menteri baru Malaysia, Ismail Sabri Yaakob, memperjelas bahwa Malaysia "tidak akan berkompromi atas masalah kedaulatan" di Laut China Selatan.
Pada Juni lalu, Malaysia yang masih dipimpin perdana menteri lain, secara terbuka menuduh jet tempur China melanggar "zona udara dan kedaulatan Malaysia" dan berikrar "memiliki hubungan diplomatik ramah dengan negara manapun bukan berarti kami akan mengkompromikan keamanan nasional kami."
'Sebuah ancaman serius'
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/hms-queen-elizabeth-dan-carrier-strike-group.jpg)