Breaking News:

Berita Sumba Tengah

Kisah Yesti Rambu Jola Asal Sumba Tengah: Tidak Mudah Putus Asa (Selesai)

MESKI bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART), Yesti Rambu Jola Pati mengaku senang karena bisa membantu keluarga

Editor: Kanis Jehola
KOMPAS.COM/HO-YESTI JOLA
WISUDA - Yesti Rambu Jola Pati berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana Pendidikan Matematika di Unitomo, Surabaya. 

POS-KUPANG.COM-MESKI bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART), Yesti Rambu Jola Pati mengaku senang karena bisa membantu keluarga dan mengurangi beban yang dipikul orangtuanya. Yesti, bahkan mulai bisa menabung. Dari tabungan itu pula, Yesti akhirnya bisa kuliah dan menjadi sarjana.

Niat untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi tidak pernah ada di benak Yesti. Sebab, ia merantau ke Surabaya hanya untuk bekerja dan membantu orangtua. Meski Yesti mengakui pernah punya cita-cita untuk bisa sekolah tinggi, asa itu selalu pupus.

Ia menyadari, dengan segala keterbatasan, terutama secara ekonomi, ia merasa tak mungkin bisa menempuh pendidikan tinggi. Jika hal itu ia lakukan, ia khawatir tidak bisa memberi kiriman uang lagi untuk keluarga di kampung halaman.

"Awal ke Surabaya tidak ada niat untuk kuliah. Karena saya sadar diri dengan keadaan ekonomi saya dan tidak mau menyakiti perasaan saya sendiri," kata Yesti.

"Saya dulu sudah tahu diri kalau saya tidak bisa melanjutkan cita-cita saya karena keterbatasan ekonomi. Saat itu, memikirkan kuliah pun sama sekali tidak ada. Karena saya sudah tahu dengan kondisi keluarga seperti apa," imbuh dia.

Pada 2014, ia mendapat telepon dari kakak sepupunya yang bekerja di Singapura. Kakaknya menilai, Yesti merupakan anak berbakat. Kakak sepupunya itu meminta Yesti berkuliah dan bersedia menanggung biayanya. Namun, Yesti diminta berkuliah di Malang atau Yogyakarta. "Karena katanya di sana murah," cerita Yesti.

Yesti pun memutuskan kuliah. Hanya saja, ia tak mau membebankan biaya kepada saudarannya itu. Keinginan kuliah itu disampaikan kepada majikannya. Tak disangka, keinginan Yesti didukung.

"Dari situ saya punya tekad untuk kuliah. Saya coba cari-cari perguruan tinggi di Surabaya," kata Yesti.

Yesti memilih Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya. Ia mengambil jurusan Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Pada Juli 2014, Yesti mendaftar kuliah di Unitomo. Saat itu, biaya pendaftaran sekitar Rp 4 juta. Sementara, ia hanya memiliki uang Rp 2,5 juta.

"Jadi saat itu saya benar-benar nekat supaya bisa kuliah. Uang 2,5 juta itu saya bawa ke kampus," tutur Yesti.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved