Berita Nasional
Jokowi Hentikan Ekspor Nikel, Tak Gentar Hadapi Gugatan Uni Eropa di WTO
Presiden Joko Widodo alias Jokowi kembali menegaskan sikapnya untuk menghentikan ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah atau raw material.
Korporasi pelat merah ini akan mengelola ekosistem industri baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat ketahanan energi dan ekonomi nasional.
"Kami berharap semua mendukung IBC. Ini cita-cita kami untuk mendapatkan paling tidak 30 miliar dolar AS menyumbang produk domestik bruto Indonesia," kata Agus.
Jumlah bijih nikel kadar rendah dan nikel kadar tinggi tersedia cukup banyak karena porsi cadangan nikel Indonesia mencapai 24 persen dari total cadangan nikel dunia.
"Pengejawantahan hilirisasi tidak saja membangun industri tambang di hulu tetapi kami proses sampai menjadi baterai," kata Agus.
Baca juga: Groundbreaking Smalter Freeport Diluncurkan Presiden Jokowi Bersama Menko Airlangga di Gresik
Pada 2021, emiten tambang Antam berkode saham ANTM menganggarkan belanja modal senilai Rp2,84 triliun dengan porsi terbesar untuk pengembangan usaha, salah satunya menyelesaikan proyek smelter feronikel di Halmahera Timur.
Proyek pambangunan smelter itu telah mencapai 98 persen dan ditargetkan rampung tahun ini agar bisa mengolah 40.500 ton nikel dalam bentuk feronikel. Antam menargetkan produksi bijih nikel dapat mencapai 8,44 juta metrik ton pada 2021, naik hampir satu kali lipat dari realisasi produksi sepanjang 2020 sebesar 4,67 metrik ton.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cadangan Nikel Antam untuk Industri Baterai Cukup hingga 30 tahun", Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2021/05/24/173534626/cadangan-nikel-antam-untuk-industri-baterai-cukup-hingga-30-tahun.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "RI Digugat Uni Eropa soal Ekspor Nikel, Jokowi: Jangan Grogi, Siapkan Lawyer Internasional"