Breaking News:

Advertorial

Kerja Keras Berbuah Sukses NTT Provinsi Pertama di KTI Sukses Eliminasi Malaria

Hasil kerja keras semua stakeholder, NTT provinsi pertama di KTI sukses eliminasi malaria.

Penulis: Gerardus Manyela | Editor: Gerardus Manyela
Pos Kupang/Istimewa
MESSERASI -Kadis Kesehatan, Kependudukan dan Catatan Sipil, dr. Messerasi Ataupah 

Laporan Wartawan POS KUPANG.COM, Gerardus Manyella

POS KUPANG.COM, KUPANG -Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi pertama di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang kabupaten/kotanya berhasil mencapai eliminasi malaria. Ada tiga kabupaten/kota yang berhasil eliminasi malaria yakni Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Timur dan Kota Kupang. Tiga wilayah itu berhasil capai eliminasi malaria selama 3 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan NTT dr. Messerassi Ataupah yang ditemui di ruang kerjannya, Selasa (28/9/2021), mengatakan dari ketiga wilayah itu, Kabupaten Manggarai berhasil capai eliminasi malaria pada tahun 2019, sementara Kabupaten Manggarai Timur dan Kota Kupang berhasil eliminasi malaria pada tahun 2020.

"Dalam tiga tahun kita berhasil eliminasi malaria, dulu malaria ini masuk dalam 2 besar penyakit di Puskesmas, sekarang malaria sudah keluar dari 10 besar penyakit -penyakit yang ada di NTT. Ini kemajuan yang dicapai bersama dengan Kemenkes," katanya.

Prosesnya, jelas Messerassi, dimulai sejak tahun 2017. Saat itu dibuat regulasi Peraturan Gubernur NTT Nomor 11 tahun 2017 tentang Eliminasi Malaria di Provinsi NTT. Sejak saat itu pula berbagai upaya dilakukan pemerintah setempat dan menghasilkan 3 kabupaten berhasil eliminasi malaria.

Selain itu terdapat 14 kabupaten/kota di NTT dengan endemis rendah, 2 kabupaten/kota endemis sedang, dan 3 kabupaten/kota endemis tinggi. Tiga kabupaten endemis tinggi yakni, Sumba Barat Daya (SBD), Sumba Timur dan Sumba Barat. Ketiga kabupaten ini menjadi perhatian serius pemerintah agar secepatnya dieliminasi menjadi daerah endemis rendah bahkan eliminasi total.

Standar baku emas pemeriksaan malaria di NTT adalah menggunakan mikroskop. Penemuan kasus malaria di NTT sebagian besar atau 84% menggunakan mikroskop, sedangkan 14% menggunakan tes cepat diagnostik (RDT).

Semua kasus positif malaria hasil pemeriksaan laboratorium harus diobati Artemisinin Combination Therapy (ACT). Target nasional adalah lebih dari 90% penderita malaria terobati.
Tahun 2020 sebanyak 14.042 atau 92% kasus positif diobati ACT. Sedangkan 1.299 kasus atau 8% yang belum diobati sesuai standar. Pencegahan malaria, lanjut dr. Messe dilakukan dengan distribusi 973.800 lembar kelambu anti nyamuk kepada masyarakat sasaran. Alokasi kelambu terbanyak didistribusikan ke masyarakat di daerah endemis tinggi berdasarkan jumlah kelompok tidur dalam rumah dan luar rumah.

"Hasil pemantauan pasca distribusi kelambu didapati kelambu sudah digunakan untuk tidur malam, namun ada kelambu hanyut atau rusak pasca bencana alam," kata dr. Messe.

Yang menjadi tantangan, kata dr. Messe, adalah pengendalian vektor. Masalah malaria harus diselesaikan lintas sektor karena berhubungan dengan tempat perindukkan malaria seperti di muara-muara.

Tantangan lainnya adalah menurunkan status endemis tinggi malaria di Pulau Sumba, menyediakan akses ke layanan kesehatan di masa pandemi Covid -19 atau bencana alam terutama di daerah sulit, terpencil, dan kepulauan.

"Kita berharap tahun 2028 semua kabupaten/kota di NTT sudah tereliminasi malaria. Dari program nasional eliminasi malaria dan TBC tahun 2023. Kita juga sedang gencar kampanyekan kabupaten non BABS (Buag Air Besar Sembarangan)," kata dr. Messe.

Lanjut dr. Messe, di NTT sudah ada 4 kabupaten yang non BABS, yakni Manggarai, Flores Timur, Alor dan Kota Kupang. Kabupaten Ende, Lembata dan TTS telah mencapai 99%. Sedangkan kabupaten lainnya terus didorong baik oleh pemerintah bekerjasama dengan berbagai stakeholders untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya kakus agar tidak terjadi BABS.

Terkait DBD (Demam Berdarah Dengue) yang saban tahun menghantui masyarakat NTT, kata dr.Messe, sudah terjadi penurunan sejak Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat gencar kampanyekan 'perang' melawan sampah. DBD itu muncul karena lingkungan tidak bersih, jika lingkungan bersih, tidak ada genangan air, maka bintik nyamuk tidak bertumbuh sehingga tidak terjadi gigitan yang menyebabkan DBD.(adv)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved