Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Selasa 28 September 2021: Tuhan Dibela?
Yohanes dan Yakobus, dua orang bersaudara, murid pilihan Yesus. Keduanya diberi julukan ‘Boanerges’, artinya anak-anak guruh.
Renungan Harian Katolik Selasa 28 September 2021: Tuhan Dibela? (Lukas 9:51-56)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Yohanes dan Yakobus, dua orang bersaudara, murid pilihan Yesus. Keduanya diberi julukan ‘Boanerges’, artinya anak-anak guruh.
Tidak ada yang tahu pasti, kenapa dua bersaudara itu mendapat julukan tersebut. Mungkin berkaitan dengan karakter mereka yang temperamental.
Saya teringat salah seorang temanku di kampung. Kami memberi julukan ‘burung pipit’ kepadanya. Itu karena selain tubuhnya kecil, pun karena ia tak pernah absen berkomentar apa saja. Mulutnya ibarat burung pipit yang hampir selalu nyerocos.
Dilihat dalam konteks cerita penginjil Lukas, kedua orang bersaudara yang menjadi murid Yesus itu memang bertipe emosional dan cepat naik pitam. Ini terbaca jelas dalam catatan sang penginjil.
Penginjil pernah berkisah bahwa Yohanes pernah kesal dan mengadu kepada Yesus bahwa mereka melihat seseorang mengusir setan demi nama Yesus, lalu mereka cegah orang itu, karena ia bukan pengikut Yesus (lih. Luk 9:49-50).
Dalam kisah hari ini, Yohanes dan abangnya, Yakobus, terlihat emosi ketika melihat orang Samaria tak mengizinkan Yesus dan rombongan-Nya melintasi wilayah mereka.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 25 September 2021: Kemuliaan Diri?
Keduanya langsung mengusulkan kepada Yesus agar orang-orang Samaria segera dimusnahkan saja dengan api yang didatangkan dari langit. Mereka malah siap melaksanakan usul mereka itu asal Yesus menyatakan persetujuannya.
Sikap cepat naik pitam karena Tuhan dilecehkan dan hendak membela Tuhan rupanya sering terulang lagi.
Juni 1995, pernah terjadi pencemaran Hosti kudus di gereja katedral Larantuka. Dalam waktu relatif singkat, ribuan orang memenuhi gereja dan meluapkan kemarahan hingga si pelaku meninggal secara mengenaskan.
Dalam kasus yang lain, tidakkah kita pun cepat terganggu perasaan, bila ada orang memproduksi sandal dengan gambar wajah Yesus?
Beberapa waktu lalu, kita tak hanya dibuat terperangah, tapi pasti terguncang dan mungkin tersulut emosi saat ada pemuka agama lain yang berkata kepada jemaahnya bahwa yang tergantung di salib itu adalah hantu.
Ternyata bukan hanya kita yang bereaksi seperti itu. Kasus Ahok beberapa tahun silam justru lebih dahsyat. Terlepas dari bumbu politis, bukankah ribuan orang ikut-ikutan berdemo dan menuntutnya diadili dengan delik penodaan agama sesuai pasal 156 KUHP?
Kasus terkini justru lebih mengerikan. Seorang jenderal melakukan tindakan yang sulit diterima dengan akal sehat. Bersama beberapa orang, ia menganiaya dan melumeri wajah seseorang dalam tahanan karena merasa Allah dan nabinya dilecehkan.
Dari perspektif tertentu, mungkin reaksi dan usul dua bersaudara membela Tuhan bertujuan baik. Bukankah dengan begitu berarti mereka menunjukkan cinta mereka kepada Yesus?
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 27 September 2021: Beda Pola Pikir
Meski kadang perlu jujur, apakah motivasi memang sebatas yang luhur itu dan tak berkelindan dengan bumbu politis kekuasaan?
Tetapi sikap dan reaksi Yesus pantas direnungkan. Yesus justru berpaling dan menegor kedua putera Boanerges itu.
Sayangnya, tak dilukiskan bagaimana Yesus menegor kedua murid pilihan-nya itu. Bisa jadi dengan nada halus, tapi tegas. Tapi bisa pula dengan membentak dan berkata keras, "Emangnya saya perlu dibela?”
Tapi mungkin sebatas pandangan mata saja. Dengan hanya memandang, seakan Yesus mengungkapkan rasa sedih hati-Nya terhadap sikap kedua murid-nya itu. Kenapa?
Koq Tuhan perlu dibela sih? Seakan Tuhan begitu lemah, sehingga kita harus turun tangan untuk membela dan melindungi-Nya. Padahal kita sendiri menyebut dan mengakui-Nya "Yang Mahakuasa". Kita sendiri selalu bermohon pertolongan dari-Nya, apalagi di saat kita tak lagi berdaya dan siapa pun hanya bisa angkat tangan.
Jangan-jangan reaksi dan tindakan kita membela Tuhan hanyalah kamuflase demi kepentingan kita saja. Cukup sering kita ingin dikenal sebagai "pencinta" Tuhan dan dikagumi.
Kita ingat lagi, Yesus pernah berkata, “Aku datang bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkannya” (bdk. Yoh 12:47). Kiranya ini kata-kata yang mengungkapkan alasan Tuhan. Ini prinsip, landasan, visi, niat dan rencana luhur Tuhan. Ini dipegang teguh dan tak pernah berubah.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 23 September 2021: Rasa Cemas
Atas dasar itu, kita mau memantapkan di hati kita masing-masing. Kalau kita sungguh mau membela Tuhan, kita niatkan di hati dan wujudkan dalam hidup dan karya untuk membantu, menolong, mempertobatkan, menyemangati, memaafkan, mengampuni, merawat, mengobati sesama, terutama yang kecil, sakit, menderita, salah jalan, dan berdosa.
Singkatnya, apa saja yang luhur untuk menyelamatkan orang lain. Ini pun bisa jadi prinsip dan motto hidup kita, “Bukan untuk membinasakan, melainkan untuk menyelamatkan.”*
Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 28 September 2021:
Bacaan I : Zakharia 8:20-23
Banyak bangsa akan datang mencari Tuhan di Yerusalem
Beginilah sabda Tuhan semesta alam, "Bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota masih akan datang. Penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain dan mengatakan, 'Marilah kita pergi untuk melunakkan hati Tuhan dan mencari Tuhan semesta alam!'
Kami pun akan pergi! Jadi bangsa dan suku bangsa yang kuat akan datang mencari Tuhan semesta alam di Yerusalem dan melunakkan hati Tuhan."
Beginilah sabda Tuhan semesta alam, "pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata, "Kami mau pergi menyertai kamu, sebab kami telah mendengar bahwa Allah menyertai kamu'!"
Demikianlah Sabda Tuhan
Syukur kepada Allah
Mazmur Tanggapan : 87:1-3.4-5.6-7
Refr.: Allah beserta kita
- Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: Tuhan lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah
- Aku menyebut Rahab dan Babel di antara orang-orang yang mengenal Aku, bahkan Filistea, Tirus dan Etiopia: "Ini dilahirkan di sana." Tetapi tentang Sion dikatakan: "Seorang demi seorang dilahirkan di dalamnya," dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.
- Tuhan menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: "Ini dilahirkan di sana." Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai: "Segala mata airku ada di dalammu."
Bacaan Injil : Lukas 9:51-56
Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem
Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia.
Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.
Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.
Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?"
Akan tetapi Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)