Sabtu, 25 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Sabtu 25 September 2021: Salib Hadirkan Harapan

Saya memahami keterbatasan dan kerapuhan manusiawi itu sebagai sebuah salib. Saya mesti “memikulnya” setiap hari.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik Sabtu 25 September 2021: Salib Hadirkan Harapan (Luk 9: 43b-45)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Seorang “sahabat” saya sangat setia membaca dan mengomentari renungan-renungan kecil-sederhana yang saya kirim kepadanya.

Komentarnya kadang menyadarkan keterbatasan refleksi saya. Sebuah proses “saling belajar” yang sederhana. Renungan-renungan saya tulis dengan segala keterbatasan.

Tuhan setia membuat keindahan menakjubkan di tengah keterbatasan dan kerapuhan manusiawi kita. Sesuatu yang bisa saja lewat dari refleksi, Dia hadirkan melalui orang lain.

Saya memahami keterbatasan dan kerapuhan manusiawi itu sebagai sebuah salib. Saya mesti “memikulnya” setiap hari.

Salib itu selalu menyadarkan saya agar tidak congkak dan angkuh. Segala yang saya miliki adalah anugerah-Nya semata. Saya hanya “alat” yang sangat terbatas dan rapuh.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 25 September 2021: Kemuliaan Diri?

Saya tidak memandang keterbatasan dan kerapuhan sebagai beban karena itu hanya menghadirkan tragedi.

Justru, Tuhan hadir melalui banyak orang, teristimewa sahabat saya ini untuk “menyempurnakan” keterbatasan dan “memenuhi” ruang kekurangan diri.

Beberapa waktu lalu, “sahabat” saya ini mengirim pesan: Pater, tolong doakan saya karena divonis kanker oleh dokter.

Saya berhenti sejenak melihat layar handphone yang kabur karena sering terjatuh. Dia meminta doa.

Tentu saja ia juga meminta banyak sahabat lain mendoakannya. Sebuah salib yang sangat berat.

Saya hanya menulis: "Tuhan tidak pernah tidak hadir dalam penderitaan kita. Dia tidak pernah tidur. Dia sangat mengasihimu.”

Kedekatan emosional membuat saya “terdiam” selama beberapa waktu.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 22 September 2021: Pusat Hidup

Banyak “sahabat” yang membaca renungan sederhana ini adalah orang-orang kuat yang rela menderita bersama Tuhan. Pesan “sahabat” saya itu adalah salah satunya.

Penderitaan tidak memudarkan apalagi menghentikan lilin harapan kepada Tuhan. Di tengah represi salib yang tanpa henti, selalu hadir harapan bahwa Tuhan punya rencana yang tidak pernah akan tuntas kita selami.

Kekuatan iman menghadapi penderitaan inilah yang tidak pernah dipahami oleh para murid Yesus.

Malah, ada kesan sepintas, para murid tidak menghendaki Yesus menderita. Mereka memandang derita, salib sekadar sebuah kehinaan.

Bahkan mati di salib bagi bangsa Yahudi merupakan tipikal seorang penjahat kelas kakap. Mungkn sekelas koruptor uang rakyat yang divonis murah di negeri ini.

Tapi Yesus justru memilih salib sebagai jalan kesetiaan kepada Bapa-Nya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 20 September 2021: Terang Dunia

Salib tidak berhenti pada predikat penderitaan. Salib adalah harapan. Tuhan menyediakan sebuah “dunia” yang jauh lebih indah pasca salib itu.

Cara pandang sederhana ini terkadang jauh dari pola pikir kita sebagai pengikut Kristus.

Banyak orang Katolik yang mentalnya seperti para murid: tidak mau menderita, mau hidup enak, dimanjakan fasilitas zaman maju, mau nikmati hidup sendiri meski banyak sesama mendeirta selama pandemi ini, lebih asyik berselancar di media sosial dengan tata bahasa mirip tidak lulus sekolah dasar, kehilangan kepekaan kemanusiaan dan sebagainya.

Ketika kita berdiri di depan cermin besar dan merentangkan kedua tangan, sadarlah kita bahwa diri kita adalah sebuah salib.

Inilah konsekuensi setiap pengikut Kristus. Salib adalah sahabat karib kita. Dia satu dengan kita.

Menerima salib berarti rendah hati dalam hidup ini. Menerima setiap salib sebagai keutuhan diri dan hidup. Iman akan Kristus setia hadirkan harapan di balik salib yang kita pikul sampai Kalvari.*

Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 25 September 2021:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan I : Zakharia 2:5-9,14-15a

Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu

Aku, Zakharia, melayangkan mataku dan melihat: Tampak seorang yang memegang tali pengukur.

Aku lalu bertanya, "Ke manakah engkau pergi?"

Maka ia menjawab, "Ke Yerusalem, untuk mengukurnya, untuk melihat berapa lebar dan panjangnya."

Lalu malaikat yang berbicara dengan daku maju ke depan.

Sementara itu seorang malaikat lain maju, mendekatinya dan diberi perintah. "Larilah, katakanlah kepada orang muda di sana itu, demikian, 'Yerusalem akan tetap tinggal seperti padang terbuka oleh karena banyaknya manusia dan hewan di dalamnya.

Dan Aku sendiri,' demikianlah sabda Tuhan, 'akan menjadi tembok berapi di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya'." "Bersorak-sorailah dan bersukarialah, hai puteri Sion, sebab sesungguhnya Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu," demikianlah sabda Tuhan, "dan pada waktu itu banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada Tuhan dan akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan tinggal di tengah-tengahmu."

Demikianlah Sabda Tuhan

Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan : Yer 31:10.11.12ab.13

Refr. Tuhan menjaga kita seperti gembala menjaga kawanan dombanya

  • Dengarlah firman Tuhan, hai bangsa-bangsa, dan beritahukanlah di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerahkan Israel akan menghimpunnya kembali, dan menjaganya seperti gembala menjaga kawanan dombanya!
  • Sebab Tuhan telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat daripadanya. Mereka akan datang bersorak-sorai di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan Tuhan.
  • Waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang muda dan orang-orang tua akan bergembira, Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur dan menyukakan mereka sesudah kedukaan.

Bacaan Injil : Lukas 9:43b-45

Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya

Semua orang heran karena segala yang dilakukan Yesus.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Dengarkan dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."

Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya.

Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada Yesus.

Demikianlah Injil Tuhan

Terpujilah Kristus

Renungan Harian Katolik lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved