Berita Nasional
Ahok Kini Berubah, Dulu Suka Maki-Maki Tapi Sekarang Tidak Lagi, Bicara Tegas Namun Berhati Lembut
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kini sudah berubah. Bila dulu suka marah-marah, suka maki-maki sekarang tidak lagi. Bicara tegas tapi berhati lembut
POS-KUPANG.COM – Siapa tak kenal Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok? Sosok ini dikenal karena ketegasannya saat memimpin DKI Jakarta.
Namun dibalik sikapnya yang biasa disebut suka marah itu, Ahok juga punya rasa mudah iba.
Ia bahkan tak sungkan-sungkan memberikan bantuan kepada mereka yang hidupnya susah karena berkekurangan.
Ahok tak hanya bersikap tegas, ia juga dinilai bersikap sangat kasar. Olehnya banyak kalangan tak senang atas sikapnya tersebut.
Bahkan suami Puput Nastiti Devi itu mengaku secara jujur akan sikapnya yang demikian.
Bila ketegasan sikapnya kala memimpin Jakarta diungkit lagi, maka Ahok yang kini sebagai komisaris utama pertamina itu ternyata telah menyadari hal itu.
Baca juga: Veronica Tan Semakin Cantik Bak Artis Korea, Beda Tipis dengan Puput Nastiti Devi, Ahok Kesengsem?

Ahok mengatakan, saat ini ia sedang belajar untuk bisa mengolah emosi dengan baik.
Jika dirinya dulu mudah marah-marah kepada orang yang dirasa tidak tepat melakukan tugasnya, maka sekarang tidak lagi.
Ahok mengatakan, saat ini bila ia menegur menegur seseorang secara tegas, tapi dalam hatinya mengasihi orang yang ditegur tersebut.
Selain itu, Ahok juga sekarang berprinsip, jika tidak suka dengan perbuatan seseorang, tapi ia tidak pernah membenci orangnya.
"Jadi ada begitu besar perbedaan . Saya bisa rasakan, karena saya sekarang sedang belajar."
"Kalau kita marah sama orang, kita menegur orang, bilang kebenaran dengan kemarahan ada kebencian di dalam kita, itu jadinya nggak tepat."
Baca juga: Veronica Tan dan Nicholas Sean Bagikan Kabar Bahagia, Penampilan Mantan Istri Ahok Tuai Pujian
"Jadi harusnya, bahasanya menegur tapi dalam hati kita mengasihi, kita nggak suka perbuatannya tapi kita nggak benci dia," ujar Ahok kala diwawancari presenter Daniel Mananta.
Daniel beranggapan, sebenarnya kemarahan memang tetap diperlukan, apalagi jika terjadi ketidakadilan.
"Do you still get angry atau akhirnya, yaudah deh gue diam aja daripada nanti gue masuk (penjara) lagi itu misalnya?" tanya Daniel.