Berita NTT

Olah Daun Kelor, Petani Milenial NTT Raih Omzet Puluhan Juta

Pemanfaatan kelor sebagai sumber pangan dan gizi keluarga merupakan salah satu cara untuk menanggulangi masalah stunting

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Petani milenial yang menekuni bisnis kelor 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Pemanfaatan kelor sebagai sumber pangan dan gizi keluarga merupakan salah satu cara untuk menanggulangi masalah stunting atau memperbaiki gizi keluarga.

Tanaman dengan nama latin Moringa oleifera ini memiliki kandungan vitamin C lebih tinggi tujuh kali dibandingkan buah jeruk dan vitamin A empat kali dari wortel serta kandungan kalium tiga kali dari pisang dan proteinnya dua kali lebih tinggi dari yogurt atau sebutir telur.

Salah satu petani milenial yang berjuang menjadikan kelor sebagai tanaman mendunia adalah Lucky Nurramadhan Putra Krisnadi. Pemuda yang berdomisili di Kota Kupang, NTT ini sudah menekuni bisnis kelor selama 3,5 tahun.

Lucky mengungkapkan bahwa alasan berbisnis kelor karena pertama kelor memiliki potensi untuk menjadi sebuah solusi permasalahan stunting dan di nobatkan oleh WHO sebagai miracle tree, karena tanaman tersebut memiliki 46 antioksidan dan masih banyak kandungan nutrisi lainnya yang menjadikan tanaman kelor sebagai solusi permasalahan kekurangan gizi dan stunting.

Baca juga: Taklukkan Lahan Kering, Petani Milenial NTT Jadi Jutawan

"Tanaman kelor sangat mudah dikembangkan sekalipun di wilayah perkotaan. Dengan manajemen yang baik tumbuhan ini bisa sangat menguntungkan sebagai ladang usaha baru. Selain itu, tanaman pada masa pandemi ini menanjak kepopulerannya karena memiliki nutrisi yang tinggi dan dipercaya memberikan manfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh", imbuh salah satu Duta Petani Milenial Tahun 2021 dari NTT ini.

Dari hasil bisnis kelornya, Lucky mengaku bisa memiliki omzet 30 juta rupiah dalam satu bulan. Hal tersebut tidak terlepas dari mulai budidaya kelor hingga produk olahan kelor sebagai bentuk pasca panennya.

Selain itu, untuk mengembangkan usahanya Ia juga bekerjasama dengan dekranasda NTT, Disperindag pemprov NTT hingga Dinas pariwisata NTT.

"Budidaya yang utama melihat dari keloris way yaitu menumbuhkan gizi masyarakat dan menumbuhkan potensi ekonomi kerakyatan tak peduli hambatan yang datang dan pergi", pungkas Lucky.

Baca juga: Berhasil Kembangkan Kopi Poong, Agustinus Handresmin Terpilih Menjadi Duta Petani Milenial

"Budidaya yang utama melihat dari keloris way yaitu menumbuhkan gizi masyarakat dan menumbuhkan potensi ekonomi kerakyatan tak peduli hambatan yang datang dan pergi", pungkas Lucky.

Kementerian Pertanian (Kementan) dalam usahanya mencetak 2,5 Juta petani milenial sangat mendukung usaha pengembangan kelor yang dilakukan oleh Lucky. Salah satunya dengan memberikan pelatihan kewirausahaan bagi para petani milenial.

Selain memperoleh ilmu dalam berbisnis, kegiatan tersebut juga berguna untuk menambah jejaring dengan sesama petani milenial sehingga dapat saling bertukar pikiran bahkan mengembangkan usahanya.

Dukungan diberikan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL).

"Bertani itu keren bahkan pertanian itu seperti emas 100 karat. Ketika kelor bisa disulap jadi sesuatu yang berharga dan dapat memaksimalkan potensi daerah, hal tersebut adalah luar biasa," kata Mentan SYL.

Sementara Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi mengungkapkan bahwa pertanian membutuhkan SDM yang andal dan unggul yang nantinya siap menjadi pengusaha pertanian milenial yang kreatif, inovatif, professional, berdaya saing dan tentunya mampu menyerap lapangan pekerjaan sektor pertanian sebanyak mungkin,

"Para DPM dan DPA adalah contoh bagi petani-petani milenial di seluruh Indonesia, jadi dengan keterbatasan apapun harus bisa diatasi karena akan selalu ada jalan jika kita selalu berusaha dan berdoa," tutur Dedi. (*)

Baca Berita NTT Lainnya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved