Senin, 4 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 6 September 2021: Perkara Niat

Serigala berbulu domba bukan sekadar orang jahat yang berperilaku manis, tidak juga sekadar niat busuk yang dibungkus kata-kata indah.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Senin 6 September 2021: Perkara Niat (Lukas 6:6-11)

Oleh: RD. Fransiskus Alinadu

POS-KUPANG.COM - Tentu kita sering mendengar perumpamaan “serigala berbulu domba”. Itu bukan sekadar orang jahat yang berperilaku manis, tidak juga sekadar niat busuk yang dibungkus kata-kata indah. Terutama, bagi saya, bagaimana muslihat dilakukan melalui penampilan permukaan. 

Itu bisa berlaku bagi iklan di televisi yang menjanjikan hal-hal hebat, tapi kenyataannya ia hanya menjual barang ala kadarnya.

Bisa juga berlaku untuk politisi yang menjanjikan angin surga di masa kampanye, tapi memberi neraka dunia di waktu menjabat. 

Untuk urusan itu, apa boleh buat, kita memang gampang tertipu. Tak hanya sekali, bahkan bisa berkali-kali.

Siapa sih yang tak tertipu oleh penampilan seekor domba? Dengan bulu lebat yang lembut, wajah menggemaskan, dan kita tahu tak akan menjadi predator karena kita tahu mereka hanya memakan rumput? 

Mungkinkah kita mencurigai seluruh domba di dunia ini? Masa kita akan menangkap semua domba dan menyibak bulunya satu per satu? 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 6 September 2021: Salus Animarum Suprema Lex

Yang jelas, tidak gampang membaca pikiran dan hati orang. Suami istri yang bertahun-tahun hidup bersama pun kadang mengakui bahwa sering salah mengerti pikiran satu sama lain. 

Pepatah mengatakan, 'Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu', setidaknya bisa mengungkapkan kebenaran kenyataan itu. 

Walaupun ada yang mendalami psikologi dan memiliki kemampuan membaca pikiran (emphatic accuracy), toh tetap saja tak seluruh pikiran orang dapat dibaca. Yang dibaca pun belum tentu seluruhnya tepat. 

Demikian pun dengan para magician, mentalis, yang katanya punya kemampuan membaca pikiran orang. Meski bisa menebak tepat apa yang ada dalam pikiran orang dalam atraksinya, tapi bukanlah seorang pembaca pikiran orang dalam arti yang sebenarnya dan seutuhnya. 

Lain manusia, lain Tuhan. Pemazmur mengungkapkan sesuatu yang lain, yang luar biasa. "Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku. Engkau mengerti pikiranku dari jauh ... Selidikilah aku, ya Allah, dan kenalilah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku" (Mz 138:1-2.23). 

Ini pengakuan terbuka dengan penuh keyakinan dari pemazmur bahwa Tuhan justru bisa membaca dan mengetahui pikiran dan hati kita manusia.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 5 September 2021: Yesus Sahabat Seperjalanan Kita

Ia tahu isi hati kita. Ia pahami niat dan intensi kita. Bukan hanya yang baik dan luhur. Tapi juga yang jelek, tidak baik, tidak jujur dan jahat. 

Penginjil Lukas memaparkan bahwa Yesus mengetahui pikiran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang kotor dan jahat. Mereka berniat mau mempersalahkan Dia dengan mengamat-amati apakah Dia menyembuhkan orang pada hari Sabat (Luk 6:6-8). 

Tapi Dia tak sekedar mengetahui. Juga tak ingin menghancurkan mereka setelah Ia tahu niat mereka yang jahat.

Ia justru ingin meluruskan pikiran dan hati para gembala umat Yahudi itu. Ia ingin supaya mereka memikirkan dan melihat perbuatan baik serta melakukan perbuatan baik. 

Ini buktinya! Saat berhadapan dengan seorang yang mati tangan kanan-Nya di rumah ibadat pada hari Sabat itu, Yesus menyembuhkan orang itu.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 4 September 2021: Mempertanyakan Kuasa

Di hadapan para pemuka agama Yahudi itu, Ia berkata kepada orang yang mati sebelah tangannya, "Bangunlah dan berdirilah di tengah! ... Ulurkanlah tanganmu!" (Luk 6:8.10). 

Tapi pada saat yang sama, Ia pun berkata kepada mereka, "Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" (Luk 6:9). 

Pertanyaan Yesus punya maksud yang dalam. Ia menunjukkan kepada mereka tentang betapa tidak murni, tidak lurus, tidak tulus hati mereka.

Betapa niat hati mereka jelek. Karena mereka justru mempersoalkan perbuatan baik-Nya untuk membantu dan menyelamatkan orang.

Seakan Yesus berkata, "Masa kalian mempersalahkan perbuatan baik saya untuk menolong orang agar terbebas dari sakitnya?" 

Tindakan mempersoalkan perbuatan baik yang dilakukan Yesus muncul karena niat jelek yang ada di dalam pikiran dan hati orang-orang untuk mempersalahkan-Nya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 1 September 2021, Pembukaan BKSN 2021: Sahabat Sejati

Niat jelek ini selanjutnya akan membuat orang pun akhirnya melalaikan "kewajiban" yang seharusnya ia lakukan untuk berbuat baik, menolong orang lain. 

Tuhan pasti mengetahui pikiran dan hati kita masing-masing. Mau dipoles, dihiasi, dan disembunyikan dengan casing yang bagus dan istimewa seperti apa pun, Tuhan pasti bisa mendeteksi dan melihatnya dengan sorotan mata tajam-Nya. 

Maka, kita bertanya kepada diri sendiri: pikiran dan niat apakah yang selalu ada dalam diriku?

Pikiran dan niat macam apakah yang menjadi prinsip hidupku : berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan atau membinasakan? 

Barangkali kita memang agak sulit untuk membaca pikiran dan hati orang lain. Tapi kiranya kita bisa terbantu untuk mendalaminya dengan melihat dengan pikiran dan hati kita yang jernih perbuatan yang dilakukan orang. Soalnya, perbuatan itu ekspresi dari pikiran dan hati. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 2 September 2021, Duc in Altum: Bertolaklah ke Tempat yang Dalam

Dan, kita berusaha mawas diri agar tidak sampai terjerumus mempersoalkan perbuatan baik yang dilakukan orang, padahal perbuatan itu sesungguhnya mengalir keluar dari niatnya yang baik.

Apalagi kalau kita sendiri ternyata "lalai" atau "menghindarkan diri" untuk melakukannya. *

Teks Lengkap Bacaan 6 September 2021:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan I diambil dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose (1:24-2:3)

Aku telah menjadi pelayan jemaat, untuk menyampaikan rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad

Saudara-saudara, sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita demi kalian, dan melengkapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.

Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan kepenuhan sabda Allah kepada kalian, yaitu: Rahasia yang tersembunyi berabad-abad dan turun-temurun, kini dinyatakan kepada orang-orangnya yang kudus.

Allah berkenan memberi tahu mereka betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yakni: Kristus ada di antara kalian.

Dialah harapan akan kemuliaan. Dialah yang kami beritakan dengan memperingatkan setiap orang dan mengajar mereka dengan segala hikmat untuk memimpin setiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.

Itulah yang kuusahakan dan kuperjuangkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat dalam diriku.

Saudara-saudara, aku ingin agar kalian tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan bagi kalian, bagi mereka yang di Laodikia dan bagi semuanya yang belum mengenal aku secara pribadi.

Semoga hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan pengertian yang meyakinkan dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus.

Dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.

Demikianlah sabda Tuhan

Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7.9

Refr.: Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang

  • Hanya pada Allah saja aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batu dan keselamatanku; hanya Dialah kota bentengku, aku tidak akan goyah.
  • Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.

Bait Pengantar Injil: Yoh 10:17

Refr.: Alleluya, Alleluya, Alleluya

  • Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.

Bacaan Injil:

Inilah Injil Suci menurut Lukas (6:6-11)

Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat

Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar.

Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, agar mereka mendapat alasan untuk menyalahkan Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka.

Ia berkata kepada orang yang mati tangan kanannya, "Bangunlah dan berdirilah di tengah!"

Maka bangunlah orang itu dan berdiri di tengah.

Lalu Yesus berkata kepada mereka, "Aku bertanya kepada kalian: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?"

Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, "Ulurkanlah tanganmu!"

Orang itu mengulurkan tangannya dan sembuhlah ia.

Maka meluaplah amarah ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.

Lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Demikianlah Sabda Tuhan

Terpujilah Kristus

Renungan Harian Katolik lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved