Jumat, 1 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 29 Agustus 2021, Minggu Biasa XXII: Hati Murni

Catatan harian Rubashov dalam novel Koestler: Tiap pikiran salah yang kita turuti berarti kejahatan terhadap generasi-generasi yang akan datang.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik Minggu 29 Agustus 2021, Minggu Biasa XXII: Hati Murni (Ul 4:1-2.6-8; Yak 1:17-18.21b-22.27; Mrk 7: 1-8.14-15.21-23)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Saya sangat tertarik pada sebaris kalimat catatan harian Rubashov dalam novel Koestler: Tiap pikiran salah yang kita turuti berarti kejahatan terhadap generasi-generasi yang akan datang.

Baris kalimat bermakna ini menggerakkan banyak jurnalis, penulis dan sastrawan lebih berani menuliskan fakta untuk menginsafkan setiap generasi agar belajar berpikir dan bertindak dengan baik dan benar.

Dunia ini diseraki banyak narasi dan perilaku buruk dan jahat yang bisa meracuni nurani tiap generasi.

Kita saksikan berbagai teror, kekerasan, korupsi dan aneka kejahatan lain yang jika tidak dilawan dengan “narasi tandingan” berupa pikiran dan tindakan baik, benar dan agung akan meniscayakan semua keburukan itu.

Sejarah peradaban kemanusiaan akan diracuni dan kita mesti butuh banyak waktu dan energi untuk mereparasinya.

Banyak waktu yang mesti kita gunakan untuk mencipta karya kemanusiaan justru kita habiskan “percuma” hanya untuk berkutat pada “perlawanan” melalui bangunan narasi tandingan itu.

Meski demikian, peradaban kemanusiaan tidak akan pernah kehilangan orang-orang yang selalu memiliki kehendak tulus untuk berbuat baik, walau dalam hening, tanpa publikasi dan jauh dari gebyar sensasional di halaman laman atau media online kelas teri sekali pun.

Selama masa pandemi ini, banyak dokter, perawat, tenaga medis lain dan relawan yang berjibaku mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan sesama.

Di mana ada kejahatan, akan hadir orang-orang benar dan baik. Mereka hanya sekelompok kecil minoritas tapi daya perlawanannya mampu menggentarkan nyali pelaku kejahatan.

Maka tidak sedikit orang baik dalam sejarah tinggal nama yang tidak pernah mati dalam ingatan kemanusiaan.

Kebaikan dan kebenaran abadi. Orang yang berbuat baik dan benar sesungguhnya tidak pernah mati.

Jalan untuk mencipta orang baik adalah pendidikan dalam arti luas. Pendidikan tidak sekadar direduksi dalam sistem negara yang kerap hanya lebih menampakkan arogansi dan kewenangan kuasa.

Penggunaan sistem kurikulum yang dalam sejarah negeri ini selalu berganti sesuai selera pemimpin, justru terbukti menjadi medium represi kekuasaan yang sedang gila kuasa, harta dan uang.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved