Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Jumat 27 Agustus 2021: Kebijaksanaan
RD. Fransiskus Aliandu menulis renungan harian katolik hari ini dengan judul Kebijaksanaan. Tersedia pula teks lengkap bacaan. Selamat menyimak.
Renungan Harian Katolik Jumat 27 Agustus 2021: Kebijaksanaan (Matius 25:1-13)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Dalam kitab Mazmur kerap dikatakan, orang yang telah memiliki kebijaksanaan adalah dia yang tidak akan kekurangan apa pun dalam hidupnya. Apa gerangan kebijaksanaan itu?
Plato memasang sebuah tulisan di depan pintu gerbang, "Know Yourself" atau kenalilah dirimu sendiri. Jika filsafat adalah ilmu yang mengejar kebijaksanaan, maka upaya pengejaran itu dimulai dari diri sendiri.
Tentu yang dimaksud dengan pengenalan diri bukanlah pertama-tama mengenal nama, identitas, kekuatan-kelemahan, asal-usul keluarga, dan semacamnya. Pengenalan diri adalah upaya awal sekaligus terus menerus (perennial).
Menurut St Agustinus, pengenalan diri sendiri tak bisa dipuaskan oleh akal budi. Ia membuktikan itu dengan hidupnya sendiri. Ia tak pernah puas dan tuntas dengan apa yang diraihnya dengan akal budi. Ia tetap merasa haus dan terus mencari.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu, 22 Agustus 2021: Setia Itu Mahal
Ia "beruntung" karena pada akhirnya ia bisa berkata bahwa segala kehausannya akan kebijaksanaan hanya bisa dipenuhi oleh Allah. Baginya, kebijaksanaan adalah cinta.
Dan, tiada cinta yang lebih dikejar oleh manusia daripada cinta yang sempurna, yang tak lain adalah Sang Cinta itu sendiri.
Dan, ia menjumpai Sang Cinta itu dalam Allah. "Terlambat aku mencintai-Mu, oh Allahku", sebuah ungkapan kebijaksanaan yang menjadi kehausannya.
Dalam kitab Pengkothbah, kita baca, "Kesia-siaan belaka hidup ini. Sia-sia bangun pagi-pagi dan tidur larut malam, untuk bekerja keras setiap hari di bawah terik panas matahari. Kesia-siaan belaka ..." (bdk. Pkh 1:2-3).
Pengkothbah berkata, kesia-siaan belaka hidup ini. Segala sesuatu adalah sia-sia, seluruh kerja keras hidup sehari-hari sia-sia, bila tidak terarah kepada Allah. Segala kekayaan tak bersifat abadi. Kehormatan akan pudar. Kenikmatan hanya berlangsung sesaat. Kedudukan dan kekuasaan hanyalah gemerlap sesaat. Maka, kita tidak bisa hanya mengejar dan menyandarkan diri pada hal-hal yang sia-sia.
Yesus berperumpamaan, ada sepuluh gadis yang pergi menjemput mempelai laki-laki dan mau rayakan pesta. Lima dari sepuluh gadis itu siap, tetapi lima lainnya tidak. Lima tidak siap karena tidak membawa persediaan minyak bagi pelita mereka sehingga harus pergi membelinya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 25 Agustus 2021: Cover dan Isi
Tetapi pada saat itu, mempelai laki-laki yang ditunggui datang dan kelima gadis yang pergi membeli minyak tadi tertinggal dan tak bisa ikut dalam pesta pernikahan. Mereka tentu kecewa karena tak bisa ikut gembira, turut dalam resepsi, dan tak bisa menari dengan iringan lagu 'gemu famire'.
Yesus sengaja menyebut sepuluh gadis itu, "lima di antaranya “bodoh” dan lima “bijaksana". Predikat bodoh dikedepankan untuk memperlihatkan bahwa kebodohan mengakibatkan nasib jelek. Keteledoran menyebabkan hilangnya kesempatan berharga ikut ambil bagian dalam pesta perjamuan.
Sedangkan "lima gadis yang bijaksana" dikaitkan dengan persediaan minyak agar obor tetap menyala. Jadi, gadis yang bijaksana adalah gadis yang punya minyak yang memungkinkan obor menyala sehingga bisa bertemu dengan mempelai laki-laki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)