Breaking News:

Berita Lembata

Plan Indonesia Dorong Pemda Lembata Terbitkan Perbup Pencegahan Perkawinan Usia Anak

Plan Indonesia memiliki program yang disebut ‘No, Go, Tell’ terhadap anak dan perempuan di wilayah dampingan di Lembata

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/RICARDUS WAWO
Erlina Dangu, atau akrab dikenal dengan nama None Dangu, Manajer Program Implementasi Area Lembata, memaparkan sejumlah program Plan Indonesia dalam diskusi bersama awak media di Kantor Plan Indonesia di Wangatoa, Lewoleba, Rabu, 18 Agustus 2021. 

Laporan Reporter POS.KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA-Yayasan Plan Internasional Indonesia (Plan Indonesia) mendorong pemerintah Kabupaten Lembata menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) Pencegahan Perkawinan Usia Anak.

Perbup ini akan jadi salah satu bentuk dukungan dari pemerintah daerah dalam rangka mengatasi tingginya angka perkawinan usia anak dan kasus kekerasan perempuan dan anak di bawah umur.

Erlina Dangu, atau akrab dikenal dengan nama None Dangu, Manajer Program Implementasi Area Lembata, mengutarakan hal ini saat diskusi bersama awak media di Kantor Plan Indonesia di Wangatoa, Lewoleba, Rabu, 18 Agustus 2021.

None Dangu yang memaparkan sejumlah program Plan Indonesia di Kabupaten Lembata untuk tahun anggaran 1 Juli 2021 sampai 30 Juni 2022 ini juga membeberkan sejumlah data kekerasan anak di Lembata yang diperoleh dari Dinas P2PA Kabupaten Lembata.

Kekerasan anak terhadap Lembata pada tahun 2020 sebanyak 135 kasus. Kekerasan seksual anak 27 kasus, kekerasan fisik KDRT 14 Kasus, psikis 38 kasus, penelantaran anak 49 kasus, penculikan anak 1 kasus, pembuangan bayi 1 kasus, pelaku laka lantas anak 3 kasus, pencurian anak 2 kasus.

Baca juga: Yayasan Plan Internasional Indonesia Siapkan Tabungan Siaga Bencana Bagi Ribuan Anak di Lembata

Lalu, pada Juni 2021, kekerasan seksual 19 kasus, fisik 5 kasus, psikis 16 kasus, penelantaran anak 4 kasus, penculikan anak 1 kasus, kehamilan anak 2 kasus, pelaku laka lantas anak 1 kasus.

Dalam diskusi, para jurnalis mengungkapkan pula sejumlah fenomena kekerasan anak dan perempuan di Lembata. Misalnya, banyak pelaku merupakan orang dewasa dan orang terdekat korban anak dan perempuan.

Mereka yang jadi korban pun biasanya hidup dalam lingkungan keluarga atau orangtua yang sudah ‘broken home’.

Seringkali anak yang lahir dari pasangan yang tidak dipersiapkan secara baik atau lahir dari kehamilan di luar nikah pun jadi masalah tersendiri dalam memutus mata rantai kekerasan anak dan perempuan di Lembata.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved