Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Senin 16 Agustus 2021: Orang Kaya
Matius mengungkapkan kepada kita bahwa orang yang datang kepada Kristus ini adalah orang muda kaya.
Renungan Harian Katolik Senin 16 Agustus 2021: Orang Kaya (Matius 19:16-22)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Matius mengungkapkan kepada kita bahwa orang yang datang kepada Kristus ini adalah orang muda kaya.
Lukas dalam Injilnya mengatakan bahwa dia adalah seorang pemimpin muda dan terhormat (Luk 18:18-27).
Kaya, pemimpin muda dan terhormat. Ini kategori sukses di dunia. Siapa pun di atas dunia ini pasti ingin menjadi kaya dan terhormat di usia muda.
Tapi tampaknya pemuda ini sadar bahwa kehadirannya di dalam keluarga terhormat membuatnya dikelilingi orang-orang bijak.
Di kalangan Yahudi, bijak dan penuh hikmat secara agamawi belum final. Sebagaimana seorang pemimpin biasanya dikelilingi orang-orang bijak sebagai penasihat, biasanya muncul pertanyaan yang unik untuk mencari pengetahuan yang lebih tinggi.
Pemuda yang terlahir dalam keluarga Yahudi yang kaya ini tentu saja memiliki fasilitas yang lebih untuk pendidikan, baik pendidikan hidup masyarakat, pendidikan keagamaan dan pengetahuan lain. Apalagi dalam struktur hidup sosial, kekayaan menjadi takaran status di tengah masyarakat.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 16 Agustus 2021: Orang Kaya
Hasrat itu membawanya pada suatu pencarian utama, yakni hidup kekal, kehidupan yang berkualitas tinggi dalam ranah agama bangsa Yahudi. Ia mendengar ada seorang Guru yang datang dari Allah, penuh dengan hikmat dan tanda heran.
Guru ini sangat tenar dan menjadi perbincangan dari mulut ke mulut orang Yahudi. Setiap orang mencari-Nya setiap hari untuk mendengarkan wejangan dan menyembuhkan banyak orang sakit.
Terdorong oleh keingintahuan ini, maka pemimpin muda nan kaya ini datang mencari Dia untuk mencari jawaban perihal hidup kekal.
Mungkin saja pemuda konglomerat ini ingin agar kebahagiaan dan kenikmatan karier dan harta di dunia ini bisa berlanjut pada kehidupan kekal.
Yesus memberikan syarat yang tidak jauh berbeda dengan sepuluh perintah Allah (Dekalog). Pemuda kaya yang tentu saja memiliki deretan penasihat sosial dan keagamaan Yahudi ini dengan percaya diri menyatakan bahwa semua itu telah ia jalankan.
Tuhan tidak membantah sang anak muda bahwa ia seorang yang sukses dalam bermoral, atau setidaknya memiliki moral yang cukup baik di tengah kehidupan publik.
Idealismenya untuk mengejar kehidupan kekal membuatnya terus mengejar syarat mencapai hidup yang kekal. Hidup yang kekal itu merupakan sebuah kesempurnaan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 14 Agustus 2021: Santo Maximilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir
Yesus tahu baik keinginan pemuda kaya ini. Mahkota keagungan hidup kekal digapai dengan cara yang “agung” juga.
"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
Kata-kata Yesus ini menghujam langsung dan tajam ke “jantung” kehidupan pemuda kaya itu. Kekayaan pemuda kaya itu menjadi pusat kehidupannya.
Kitab Suci mencatat, pemuda kaya itu “pergi dengan sedih, sebab hartanya banyak” (Mat 19: 22). Harga hidup kekal sangat mahal dan menuntut totalitas hidupnya yang bergelimang harta saat ini.
Dunia dengan segala kenikmatannya telah mengikatnya. Pelaksanaan hukum Taurat secara harafiah ternyata tidak menjadi jaminan hidup kekal. Hatinya telah terpaut harta duniawi.
Soalnya, bukan karena dia tidak bisa tapi karena dia tidak mau. Ia telah mempunyai pilihannya sendiri yang tidak sejalan degan tuntutan Yesus.
Pertanyaan: Apakah orang kaya atau sederhananya: orang yang memiliki kekayaan tidak bisa masuk dalam surga? Atau setidaknya orang kaya bisa menjadi “orang Kristen” pengikut Yesus yang baik?
Kitab Suci memberi bukti bahwa orang kaya pun menjadi bagian dari jalan hidup Kristen yang ditunjuk oleh Yesus. Yesus tidak berkata bahwa seorang kaya mustahil masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Zakheus, orang paling kaya di Yerikho justru menemukan pintu masuk menjadi bilangan pengikut-Nya (Lukas 19:9).
Yusuf dari Arimatea adalah seorang kaya (Mat. 27:57). Nikodemus pastilah seorang kaya karena ia membawa rempah-rempah yang sangat mahal harganya untuk mengurapi jenazah Yesus. (Yoh. 19:39).
Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 15 Agustus 2021: Martabat Luhur Bunda Maria
Jadi kekayaan itu sesungguhnya bukanlah dosa, melainkan sebuah keadaan, situasi yang “berbahaya.”
Kalau orang mempunyai banyak harta di dunia akan berbahaya bagi dirinya. Ia bisa dapat berpikir bahwa ia tidak memerlukan Allah lagi.
Ia meletakkan harapan palsu pada harta kekayaannnya (1Tim 6:17; Mrk 10:24). Orang-orang sederhana, tidak punya banyak harta selalu terdorong oleh Roh untuk datang kepada Allah.
Allah merupakan solusi dalam kesulitan hidupnya. Yesus menyadarkan kita bahwa keselamatan adalah karya Allah.
Hanya Allah yang dapat menolak pengharapan palsu pada kekayaan duniawi dan menyediakan kebenaran yang sejati. Manusia mesti terus berjuang agar ia tidak mengikat diri dan terikat pada harta, apalagi menaruh harapan palsu pada kekayaannya yang duniawi ini. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)