Berita Pemprov NTT
Forum Anak Temukan Angka Kekerasan Terhadap Anak di Manggarai Barat Tinggi di Tengah Pandemi Covid
tempat rawan terjadinya kekerasan yakni tempat umum dan pelaku kekerasan juga didominasi oleh orang tua dan oknum guru
Penulis: Gecio Viana | Editor: Rosalina Woso
Forum Anak Temukan Angka Kekerasan Terhadap Anak di Manggarai Barat Tinggi di Tengah Pandemi Covid
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana
POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Forum Anak Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) menemukan angka kekerasan terhadap anak di daerah itu meningkat di tengah pandemi, Jumat 13 Agustus 2021.
Hal tersebut disampaikan Perwakilan Forum Anak Mabar, Katarina dalam Webinar bertema "Tantangan Pemenuhan Hak Anak di Masa Pandemi di Provinsi NTT' yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia, ChildFund International di Indonesia bersama Pos Kupang.
Dalam diskusi virtual itu, menghadirkan 16 anak dari sejumlah kabupaten, Ketua DPRD NTT, Emi Nomleni serta Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, drg. Iin Andriani, M.Kes.
"Pada 7 Juli 2021, Forum Anak Kabupaten Manggarai Barat melakukan penggalian isu, yakni isu stunting dan kekerasan terhadap anak, Namun mengingat pandemi Covid-19 saat ini, maka dalam survei online ini kami angkat tema kekerasan fisik, psikis dan seksual," Perwakilan Forum Anak Mabar, Katarina.
Katarina menjelaskan, berdasarkan data dari Dinas Pengendalian Penduduk, KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Mabar, selama 3 tahun terakhir, terdapat sebanyak 43 kasus kekerasan terhadap anak di daerah itu.
Baca juga: Pemprov NTT Minta Pemkab Sikka Perketat Pasien Isoman
Bahkan, dalam semester 1 tahun 2021 ini, terjadi peningkatan cukup signifikan di mana terdapat sebanyak 18 kasus kekerasan terhadap anak.
Berangkat dari hal tersebut, Forum Anak Mabar melakukan riset dengan jumlah responden sebanyak 307 anak yang tersebar di kabupaten itu untuk mengetahui tingkat kekerasan terhadap anak.
Hasilnya cukup mencengangkan, survei secara online dengan pengisian kuisioner secara online itu menemukan sebanyak 248 anak atau 80.8 persen anak mengatakan pernah mengalami kekerasan fisik
Kekerasan fisik ini seperti apa, seperti dipukul, disiram air panas, dijambak," jelasnya.
Sementara itu, sebanyak 276 anak atau 90.2 persen pernah alami kekerasan psikis, seperti dibentak, dimaki, dihina bahkan diancam.
Baca juga: Baru Cerai dengan Larissa Chou , Alvin Faiz Sudah Nikah Lagi,Putra Ustaz Arifin Ilham Banjir Cacian
Lebih lanjut, sebanyak 117 anak atau 38.4 persen pernah mengalami kekerasan seksual.
"Dari hasil survei kami, akibat anak alami kekerasan ini akhirnya mereka alami stres, sakit, cacat pada tubuh dan bahkan ada yang katakan ingin bunuh diri," katanya.
Katarina menjelaskan, tempat yang paling rawan dari 3 kategori kekerasan yakni kekerasan fisik rawan terjadi di rumah dan sekolah, dengan aktor kekerasan adalah orang terdekat, yakni orang tua dan oknum guru.