Opini Pos Kupang

Dilema PPKM dan Resiliensi Masyarakat

Sudah beberapa pekan ini pemerintah menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM)

Editor: Kanis Jehola
Dok Pos-Kupang.Com
Logo Pos Kupang 

Alasannya sederhana, Eropa bisa dengan cukup mulus menerapkan kebijakan seperti ini karena kesejahteraan, terutama ekonomi maupun infrastruktur negaranya sudah maju. Orang Eropa tidak terlalu mencemaskan urusan perut, karena ketersediaan pangan memadai.

Hal itu mungkin akibat pendapatan penduduk yang bagus dan bahan makanan yang terjangkau.

Selain itu, mereka juga tetap bisa menjalankan banyak kegiatan secara online. Hal itu ditunjung oleh infrastruktur yang bagus, baik dan memadai. Dengan begitu, cerita-cerita anak-anak yang bersekolah daring atau online dari kampung, seperti pemadaman bergilir atau terhambatnya jaringan internet untuk kegiatan sekolah, tidak pernah ada.

Maka tidak mengherankan jika di tengah keteteran pemerintah untuk mengurusi ketebatasan vaksin atau kelangkaan oksigen, chanel berita Jerman, Das Erste Deutches Fernsehen, sudah memberitakan bagaiman negara Jerman sudah dalam proses meluncurkan vaksin untuk para lansia dan untuk anak-anak di atas 12 tahun. Dengan begitu, mereka diharapkan bisa bersekolah lagi (Das Erste.com)

Di sini apa yang sudah dikatakan Karl Marx sejak tahun 1840-an, bagaimana materi sebagai substruktur yang dalam hal ini adalah kekuatan ekonomi mejadi basis kehidupan manusia, tidak bisa disepelekan.

Bahwa materi atau ekonomi senantiasa menjadi basis yang tidak pernah dielakan pada hidup manusia. Jika basis ini sudah mantap dan kokoh, maka di atasnya superstruktur, dalam hal ini ide-ide dalam bentuk ideologi, politik atau pun berbagai kebijakan bisa berjalan dengan baik (Royce, 2015). .

Resiliensi Masyarakat

Di tengah situasi ini, selain sikap menjunjung tinggi kemanusiaan, atau sikap solidaritas yang juga terus diwacanakan dalam situasi ini, masyarakat butuh mengembangkan sikap resiliensi.

Istilah resiliensi ini sebenarnya berasal dari ranah psikologi. Secara lebih detail, Reivich dan Shatte menjelaskan sikap ini sebagai kapasitas respon dari pribadi dalam mengelola tekanan hidup sehari-hari secara sehat dan produktif (Reivich & Shatte, 1999:26).

Masyarakat membutuhkan sikap resiliensi seperti ini. Alasannya, reseiliensi atau daya lentur ini merupakan kapasitas individu maupun sekelompok individu untuk bertahan dan mengubah situasi sulit menjadi situasi yang berguna untuk perkembangan kehidupan yang lebih positif ke depannya.

Beberapa sikap resiliensi ini bisa diwujudkan melalui beberapa cara. Pertama, orang mesti bisa mengubah paradigma dalam berpikir bahwa sulitnya situasi pandemi Covid tidak boleh membawa manusia ke ambang batas usaha dan menyerah. Penting untuk teguh dalam pikiran bahwa kita manusia mesti jadi lebih cerdas, taktis dan kuat daripada virus yang terus beradaptasi dan memperkuat diri ini.

Maka, situasi ini harus membuat orang jadi lebih baik dalam berusaha, berinovasi dan bertindak secara cerdas, agar bisa keluar dari keterhimpitan situasi. Artinya, situasi pandemi bisa membuat kita sebagai manusia lebih kuat dan cerdas sebagai makhluk hidup.

Pola berpikir yang demikian akan melihat kebijakan PPKM bukan sebagai hal yang mematikan, tetapi menjadi moment jeda atau berhenti untuk menjadi lebih taktis dalam mengendalikan dan melawan pandemi Covid-19. Kita sebagai manusia mesti bisa lebih kuat dari virus ini.

Implikasi selanjutanya adalah, sikap-sikap individual, arogan ataupun KKN, sangat diharapkan tidak dipupuk dalam situasi ini. Sebab, manusia sebagai individu tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri untuk melawan virus ini. Kerja sama dan solidaritas di berbagai bidang harus tetap dibangun dan dijaga.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved