Kamis, 16 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 9 Agustus 2021: Jadi Sandungan

Seorang diakon berambut gondrong. Bagus juga sih. Tapi rupanya banyak umat yang merasa risih. Hal ini sampai juga ke telinga Bapak Uskup.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Senin 9 Agustus 2021: Jadi Sandungan (Matius 17:22-27)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Ini sungguh terjadi. Seorang diakon berambut gondrong. Bagus juga sih. Tapi rupanya banyak umat yang merasa risih. Hal ini sampai juga ke telinga Bapak Uskup.

Kepada calon itu, dititip pesan agar dipangkas rapi rambutnya. Tapi boro-boro pesan itu diikuti. Sang Diakon justru kekeuh dengan pilihannya berambut gondrong. Dia berseloroh, 'Yesus aja berambut gondrong dan disukai banyak orang."

Sehari menjelang tahbisan, Bapak Uskup menyampaikan pesan opsional ini kepadanya, "Pangkas rambut atau tidak ditahbiskan!" Bumbu penting dalam kata-kata lanjutan, "Memang tidak masalah buatmu, tapi jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain!"

Setiap orang Yahudi dewasa, sekali setahun, jelang Paskah, wajib membayar pajak Bait Allah. Kala itu besarnya dua dirham, senilai upah kerja seorang selama dua hari. Berarti cukup besar.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 8 Agustus 2021: Perjalanan Panjang Menuju Allah

Di masa penulisan Injil, orang-orang Kristen berkebangsaan Yahudi tak membayar pajak Bait Allah lagi, sebab memang Bait Allah itu tak ada lagi.

Untuk diketahui, Matius menyusun kitabnya antara tahun 80 - 90. Bait Allah dihancurkan bangsa Roma pada tahun 70 dan sejak itu tak pernah didirikan kembali sampai saat ini.

Sebagai ganti pajak Bait Allah itu, mereka harus membayar pajak yang ditetapkan kaisar Vespasianus. Yaitu pajak untuk kepentingan kuil dewa Yupiter Capitolinus di kota Roma.

Jelas pajak ini bertentangan dengan jiwa patriotik seluruh bangsa Yahudi. Ada dilema sungguh besar dan serius, 'perlukah pajak itu dibayar? Bolehkah tidak dibayar?'

Penginjil berkisah, Petrus didatangi oleh petugas pajak dan dipertanyakan, "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Petrus menjawab, "Memang membayar" (Mat 17:24-25).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 5 Agustus 2021: Tetap Cinta Walau Digoda

Sebagai seorang Yahudi, Petrus tahu kewajiban hukum itu. Sebagai orang yang cukup penting dalam kelompok murid Yesus, Petrus pasti ikut mengatur pemenuhan kewajiban itu.

Meski begitu, Yesus sangat tahu bahwa pajak yang dimaksud itu bukannya pajak untuk Bait Allah. Itu sebenarnya pajak yang dipungut penguasa Roma dari orang asing di negeri Palestina. Sedangkan mereka sudah termasuk warga negara Roma; mereka bukan orang asing. Maka kata Yesus, "Jadi bebaslah rakyatnya" (Mat 17:25-26).

Apalagi dalam pandangan Yesus, Bait Allah adalah milik Bapa-Nya (bdk. Luk 2:49). Dia adalah Anak Allah yang melebihi Bait Allah (bdk. Mat 12:6). Dus, Dia bebas dari segala macam pajak yang harus dibayar untuk Bait Allah.

Namun Yesus malah menyuruh Petrus pergi untuk memancing ikan guna mendapatkan uang. Uang itulah yang digunakan untuk membayar pajak. Alasannya terungkap dalam kata-kata-Nya ini, "Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka ...".

Kita memberi aksentuasi untuk permenungan kali ini, "supaya jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain."

Kadang kala kita harus menahan diri, mengalah dan tidak kekeuh dengan pendapat, pikiran, pola, dan gaya hidup kita. Barangkali saja sikap menahan diri, tidak menang-menangan, bisa membebaskan orang lain dari rasa jengkel, iri, tidak suka, gregetan.

Orang lain bisa merasa nyaman hidup dengan pandangan dan gaya hidupnya. Mungkin saja, dengan mengubah pola dan gaya hidup, bisa membuat orang lain merasa lebih nyaman, at home.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 6 Agustus 2021: Menuju Golgotha

Perlu direnungkan! Yesus menyuruh Petrus pergi untuk menangkap ikan guna mendapatkan uang yang bisa dipakai untuk membayar pajak.

Menarik, penginjil menulis kata-kata Yesus kepada Petrus, "Pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga" (Mat 17:27). Apa artinya?

Kita dapat membebaskan diri dari batu sandungan dengan menuruti dan memenuhi apa yang menjadi keinginan orang lain. Mungkin saja, dengan tidak menjadi batu sandungan, kita justru bisa menjadi berkat untuk orang lain.*

Renungan harian lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved